Prolog

17 3 1
                                        

Hallo, fiska's here!

Selamat membaca!!!

1997

Selasa itu, hujan turun deras, mengguyur taman kota yang sepi dari pengunjung. Bangku-bangku di sekelilingnya sudah basah, begitu pula pepohonan yang terus bergerak diterpa angin kencang.

Namun, ada satu pengunjung yang tidak meninggalkan tempat itu.

Seorang lelaki dengan kemeja hitam yang sudah basah kuyup. Di tangannya, ia membawa seikat bunga. Kakinya berjalan melewati taman, lalu duduk di sebuah bangku yang berada tepat dibawah pohon yang cukup tinggi.

Wajahnya pucat, sementara tatapannya kosong tertuju pada bunga dalam genggamannya.

Hyacinth.

Bunga berwarna ungu yang kini kehilangan bentuknya karena hujan.

Beberapa jam sebelumnya, ia masih berada di pemakaman. Berdiri paling belakang sambil menundukkan kepalanya. Ia tidak beranjak sampai semua orang satu per satu pergi.

Bunga yang ia bawa adalah bunga kesukaan gadis itu. Gadis yang kini telah pergi. Gadis yang baru saja ia antar ke peristirahatan terakhirnya.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Ada begitu banyak waktu yang seharusnya ia luangkan. Tapi semua itu baru terasa penting, ketika kesempatannya sudah tidak ada lagi.

Lelaki itu mendongak, menatap taman yang lengang. Tak lama, ia berdiri dan beranjak pergi.

Langkahnya pelan, kepalanya sedikit tertunduk. Hujan masih terus membasahi tubuhnya, tapi ia tak peduli. Pandangannya hanya lurus ke depan, ke jalan yang terbentang di hadapannya.

Hingga dari arah berlawanan, sebuah mobil melaju kencang.

Suara klakson membuatnya menoleh.

Terlambat.

Mobil itu menghantam tubuhnya.

Ikatan bunga dalam genggamannya terlepas dan jatuh ke jalan. Hyacinth ungu itu berserakan di antara genangan air, kelopak-kelopaknya juga perlahan lepas, terbawa oleh arus hujan.

Terima Kasih

Salam manis, fiska

Sound of RainStories to obsess over. Discover now