Bagian 3

37 5 3
                                        

Day-2
00.00

Tv menyala, menarik perhatian Magnus yang menatap layar dengan tatapan ganas, seperti anjing kelaparan yang siap menerkam mangsanya. Sementara itu, Aurel menutup mukanya dengan bantal, berusaha menghindari penglihatan dari apa yang akan terjadi.

Ketika seorang wanita memasuki ruang eksekusi dengan algojo di belakangnya, Aurel tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat sedikit situasi yang terjadi. Meskipun hatinya berdebar keras, ia tak bisa menghindari rasa ingin tahu yang memenuhi pikirannya.

"Lihat! Kebijakan murni ada pada wanita itu. Ia sudah mengetahui segalanya, hihi," ujar Magnus dengan nada antusias, mengisyaratkan kekagumannya terhadap sikap tenang wanita itu di hadapan kematian.

Sementara Aurel, meskipun masih menutup mukanya dengan bantal, menyampaikan pandangannya, "Sepertinya dia sudah siap menghadapi kematian. Ya, lagian berteriak permohonan tidak akan membuat dia selamat dari kematian," ucapnya dengan suara yang agak teredam oleh bantal yang menutupi wajahnya.

Mendengar ucapan Aurel, Magnus tiba-tiba menoleh dengan cepat ke arah Aurel, matanya melebar dan datar, mencerminkan rasa penasaran yang mendalam. "Apakah kau sudah merasakannya?! Apakah kau sudah membuat keputusan?!" kata Magnus dengan pertanyaan yang tajam, mencoba menggali lebih dalam ke dalam pikiran Aurel.

"Apa maksudmu? Aku sejujurnya sama sekali tidak mengerti kata-kata yang selalu kamu lontarkan. Itu membuatku pusing, Magnus," jawab Aurel dengan nada bingung, sambil memutar bola matanya.

"Tidak ada apa-apa, hihi," respon Magnus dengan dingin, tetapi ada kilatan keingintahuan yang masih menyala di matanya.

Magnus kembali memalingkan pandangannya dari Aurel, kembali memusatkan perhatiannya pada layar televis. Namun, dalam hatinya, ia masih merasakan ketertarikan yang tumbuh terhadap reaksi Aurel. Apa yang sedang dipikirkan oleh manusia itu? Apakah ia juga telah menghadapi kenyataan yang tak terelakkan seperti wanita di layar TV?

Sementara itu, Aurel merasakan detak jantungnya semakin keras. Ia merenung, mencoba memahami maksud dari pertanyaan tajam yang diajukan oleh Magnus. Apakah dia sudah membuat keputusan? Apakah dia sudah siap menghadapi akibat dari tindakan yang akan diambilnya?

Ketika pertanyaan-pertanyaan itu berputar di dalam pikirannya, Aurel menyadari bahwa, meskipun dia mungkin tidak sepenuhnya siap untuk menghadapi kenyataan yang mengerikan, dia harus tetap bertindak. Dia harus mengambil risiko untuk mencari jalan keluar dari situasi mencekam ini, bahkan jika itu berarti menghadapi konsekuensi yang mengerikan.

Adegan yang mengerikan itu membuat atmosfer di dalam ruangan semakin tegang. Aurel tidak bisa menahan rasa ngeri yang melanda hatinya saat melihat wanita itu disiksa dengan kejam oleh algojo-algojo yang tanpa belas kasihan, dengan menarik tangan wanita itu lalu memotongnya dengan golok.

Dia memegang bantal erat-erat, berusaha menenangkan dirinya sendiri meskipun jantungnya berdegup kencang. Namun, ia tetap bertahan, memaksakan dirinya untuk menyaksikan adegan yang menakutkan itu.

Sementara itu, Magnus menyaksikan adegan tersebut dengan ekspresi yang tidak berubah. Dia tampaknya tidak terpengaruh oleh pemandangan kekerasan di layar TV. Baginya, ini hanyalah bagian dari realitas yang kejam yang harus mereka hadapi.

Darah mengalir deras, tubuh wanita itu disiksa tanpa ampun oleh algojo-algojo yang tak berbelas kasihan. Meskipun sakitnya mungkin tak tertahankan, wanita itu tetap tegar, menahan rasa sakitnya tanpa mengeluarkan suara apapun.

Ketika tangan kirinya diputuskan dengan kejam, dan kemudian tangan kanannya, wanita itu masih tetap diam, meskipun tubuhnya sudah penuh dengan luka dan darah yang mengucur deras seperti air keran. Keberaniannya membuat Aurel terkagum-kagum, meskipun dalam hatinya terasa pilu melihat penderitaan yang dihadapi wanita itu.

12 DayStories to obsess over. Discover now