We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Kamu, Langit, Mimpi

8 0 0
                                        


Merdunya nyanyian Taylor Swift yang berjudul "Cruel Summer" menjadi sebuah pertanda untuk membuka mata, memaksa kembali untuk melihat kejamnya dunia. Bahkan dengan semua panah, tombak, dan pedang yang menghujam punggungmu, tetap berdiri tegak dengan segala keteguhan layaknya seorang Jeanne d'Arc yang dengan penuh tekad berusaha memenuhi tugasnya dalam perang di Perancis, sosokmu itulah yang bersinar begitu terang di mataku.

Tak akan pernah kulupakan, saat itu aku dengan sungguh-sungguh mempersiapkan penuh dengan menggunakan segala milikku yang terbaik dari baju, celana, aksesoris seperti jam tangan, gelang, dan kalung meskipun sebenarnya sama sekali bukan gayaku menggunakan aksesori semacam itu, aku tak pernah nyaman memakainya. Kukumpulkan serpihan-serpihan kepercayaan diriku yang memang telah hancur, kucari hingga ke setiap sudut dalam diriku demi saat-saat ini. Wewangian dengan aroma yang kukira adalah hasil dari selera terbaikku sehingga mungkin baik diriku ataupun dirimu menyukainya dan merasa nyaman dengan aroma itu. Percobaan terbaikku dengan mendatangi sebuah kios yang menyediakan jasa untuk membuat sebuah parfum dengan aroma yang bisa dibuat sendiri oleh pembelinya. Dengan segala keraguan yang kupunya, aku duduk di kios itu, memandang semua botol di dalam sebuah rak besi berwarna hijau yang disinari sebuah lampu LED berwarna kuning membentuk sebuah tulisan "Mr. X" yang merupakan nama dari kios tersebut menghiasi setiap botol pajangan. Di tempat itu aku berusaha dengan baik mengumpulkan semua memori, mata terpejam, membelah otakku, membangkitkan setiap kenangan, memaksimalkan kemampuanku agar mampu menginterpretasikan setiap gambaran yang ada dalam kepalaku menjadi sebuah aroma yang bagiku benar-benar menggambarkan karaktermu, Dewi perangku yang begitu indah berdiri dengan postur sempurna di bawah indahnya biru cakrawala.

Saat ini benar-benar telah membuatku percaya bahwa aku tidak salah memilih waktu dan tempat untuk menciptakan momen ini, tidak salah lagi ini adalah dunia mimpi. Memang benar, cafe yang kupilih ini bagaikan taman bunga surga yang memiliki berbagai macam bunga dengan berbagai kecantikan yang khas, namun diantara semua bunga itu kamu memang memiliki keindahan dan kecantikan pada tingkatan yang berbeda. Cafe itu memiliki tema yang cukup modern dengan warna yang dominan putih dengan aksen dari interior berwarna coklat kayu dan juga warna hijau yang berasal dari beberapa tanaman hias, sebuah lingkungan yang sangat tepat untuk membuat kecantikan seseorang terlihat begitu menonjol. Kamu begitu bersinar di mataku, membuatku seketika dapat mengenalimu dengan pakaian elegan berwarna merah, riasan natural, dengan gaya rambut yang melengkapi konsep fashion yang telah kau pilih. Dengan perlahan dan penuh keraguan namun tetap untuk mencoba terlihat cool, kumantapkan setiap langkahku untuk menggapaimu yang sedang terlarut dalam ketenangan menikmati detik-detik yang berlalu. Pandangan kita bertemu tepat ketika diriku mencoba untuk menarik kursi yang akan ku-tempati, dan untuk kesekian kalinya aku ditampar kenyataan dengan betapa indahnya matamu yang berkilauan, tergambar kelembutan namun tajam disertai kelapangan seindah langit biru cerah musim semi. Tak diragukan lagi, saat itulah musim semi ke-seribuku telah datang.

Setiap detik yang berlalu merupakan waktu yang amat sangat berharga, kata demi kata keluar dari bibirmu yang indah itu terdengar seperti lantunan do'a yang secara bertahap memberkatiku dengan segala kesucian. Pahitnya kenyataan memberitahu betapa mengerikannya mata indahmu yang mampu membuatku benar-benar membatu, bahkan lebih buruk dari mata Medusa, ah bukan, hanya saja aku memang bukan Perseus. Aku memusatkan fokusku, mencurahkan segala perasaanku, tak mampu kulepas seluruh perhatianku darimu yang sedari tadi dengan berbagai emosi tersirat dalam setiap ceritamu. Sentuhan fisik secara simbolik mampu merepresentasikan terbentuknya sebuah koneksi emosional antar individu, suasana begitu nyaman hingga tanpa sadar tangan kananku yang awalnya begitu bebas itu perlahan meraih tangan kananmu yang secara ajaib menyambutnya, matamu menjadi lebih hangat dan melunak sehingga membuatku semakin tak mampu untuk mengalihkan pandanganku darimu yang sedari tadi masih tetap membagikan kisah hidupmu, tanganmu yang sama sekali tak terasa seperti milik seorang putri raja memancingku untuk menggenggam sedikit lebih erat namun lembut, membuatku mudah untuk membayangkan dan memperkirakan banyaknya hal yang telah kamu lalui dalam hidupmu.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 30, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Kamu, Langit, MimpiStories to obsess over. Discover now