P R O L O G

602 154 343
                                        

Happy Reading!

.

.

.

Taman kota bermandikan cahaya keemasan mentari senja, menciptakan lukisan indah di langit yang mulai merona. Di sudut taman, seorang gadis kecil melompat-lompat riang mengejar gelembung warna-warni. Tawa dan teriakan kegembiraannya bagai melodi yang menenangkan, mengisi udara senja dengan keceriaan. Beberapa gelembung pecah saat ia mencoba menangkapnya, sementara yang lain melayang bebas.

Terlalu asyik, gadis itu tanpa sengaja menabrak seorang anak laki-laki hingga keduanya terjatuh. "Maaf, aku nggak sengaja. Kamu baik-baik aja? Ada yang luka?" tanya gadis itu cemas, lalu sigap membantu anak laki-laki itu berdiri. 

Orang tua si gadis hanya memperhatikan dari kejauhan, membiarkan putrinya menyelesaikan masalah tersebut. Anak laki-laki itu hendak pergi, namun, tangan kecil gadis itu menahannya. Tanpa sepatah kata, anak perempuan itu mengajaknya duduk di ayunan di bawah pohon. 

"Tangan kamu luka," ujarnya sambil menunjuk luka di tangan anak laki-laki itu. 

Dengan hati-hati, ia mengeluarkan plester bermotif bintang dari sakunya dan menempelkannya pada luka itu. Anak laki-laki itu hanya diam, namun, matanya sedikit memerah saat merasakan perih.

"Sekali lagi, aku minta maaf, karena aku, kamu jadi luka," ucap gadis kecil itu dengan tulus. 

Anak laki-laki itu tetap diam. Usai kejadian itu, ia beranjak pergi, meninggalkan tempat tersebut. Baru beberapa langkah berjalan, ia menoleh ke belakang dan bertukar pandang dengan anak perempuan itu yang menatapnya.

"Jangan ceroboh," pesannya datar. 

Gadis itu mengangguk semangat dan melambaikan tangannya. Sambil berjalan, anak laki-laki itu melirik plester bintang di tangannya. Tanpa sadar, seulas senyum tipis tersungging di wajahnya.

.

.

.

To Be Continued.

01-12-25.

Gunungkidul.

Dua Jalan Satu Takdir [END]Stories to obsess over. Discover now