1.

304 36 8
                                        

Renjun tersenyum senang melihat rumah barunya, dua lantai dan terkesan sederhana. Belum lagi lingkungan yang ramah membuat Renjun memberikan poin plus untuk hunian yang di pilih oleh kedua orang tuanya.

Rumah baru dan sekolah baru, Renjun pasti akan mendapatkan teman baru juga disini, dia selalu berdoa setiap malam sebelumnya semoga di pertemukan dengan teman yang baik dan tidak membawanya ke pergaulan bebas.

Papa dan mama nya sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah, Renjun memilih untuk melihat-lihat sebentar di halaman.

"Dek, kamu anak dari pemilik rumah ini ya?" Renjun menolehkan suaranya ketika ada suara lembut yang mengajaknya berbicara.

Wah, apaan tuh.

Cantik sekali coy, senyuman nya manis sekali sampai-sampai Renjun tidak bisa menutup mulutnya dengan benar.

Sampai Renjun menyadari senyuman lebar yang tadinya terlihat ramah, berubah menjadi senyuman canggung, sepertinya wanita itu tak suka di perhatikan sebegitu nya oleh Renjun.

Duh, jadi merasa tidak sopan.

"Ugh, ada yang salah ya sama pertanyaan saya?" Tanya wanita itu sambil menundukkan kepalanya.

"Ah, anu- enggak ada kok! Saya minta maaf kalau terkesan nggak sopan, habisnya wajah mbak cantik sekali!" Jawab Renjun jujur sambil menggaruk tengkuknya yang terasa gatal.

Wanita itu tertawa geli.

"Mbak apa nya, saya sudah punya anak sepantaran kamu, udah gak cocok di panggil mbak, haha" tawa nya sambil mengibaskan tangannya ke depan wajah Renjun.

Mulut Renjun semakin terbuka, anak sepantaran dia? Yang benar saja.

"Ah yang bener mbak, jangan merendah untuk meroket dong. Mbaknya keliatan masih cocok tuh buat jadi pacar saya" Renjun menaik-turunkan kedua alis nya membuat wanita itu semakin tertawa.

"Haduh makin melantur kamu! Ini saya punya bingkisan, tolong di berikan untuk mama nya ya dek? Sebagai ucapan selamat datang saja, semoga nyaman tinggal disini" perempuan itu memberikan parsel berisikan buah-buahan.

"Mau masuk sekalian nggak, mbak? Sekalian saya kenalin mbak ke mama mertua" Renjun masih saja keras kepala, dia menolak kenyataan bahwa wanita di depannya ini sudah memiliki anak sepantaran dirinya.

Ya bagaimana ya, tipe ideal Renjun itu wanita yang lebih tua darinya, biar pikirannya lebih matang ketika ia ajak diskusi tentang semua hal.

Halah! Yang ada malah Renjun yang di ayomi, saat ini saja ia masih kekanak-kanakan.

"Sudahlah, perut saya sakit kebanyakan ketawa kalau ladenin kamu terus, saya permisi ya" wanita yang di sebut mbak oleh Renjun pamit.

Renjun mendesah kecewa, padahal ia masih ingin berbincang banyak.

Tapi kemudian wanita itu membalikan badannya, Renjun kembali sumringah.

Pasti mbak itu mau meminta nomor telepon nya kan?

Siapa sih yang bisa menolak pesona Huang Renjun.

"Ah iya dek, kalau perlu sesuatu bisa tanya-tanya ke saya, kebetulan rumah saya tepat di depan rumah adek" wanita itu menunjuk rumah bertingkat dua tepat di depan rumah Renjun.

Mulut Renjun kembali terbuka, bergumam kata 'Wah' ternyata rumah megah di depan rumahnya itu rumah wanita cantik ini ya, Renjun takjub sekaligus kagum.

Sudah cantik, dewasa, sukses lagi.

Benar-benar tipenya Renjun!

"Atau bisa tanya ke suami saya" lanjutan wanita itu membuat Renjun semakin menganga.

"HAH, SUAMI?" Tanya Renjun sedikit menaikkan nada bicaranya.

"Kan saya sudah bilang tadi kalau saya sudah memiliki anak yang sepantaran sama kamu" wanita itu lagi-lagi tertawa geli.

Renjun menutup mulutnya, lalu memejamkan matanya menatap malu.

"Saya kira mbaknya cuman bercanda" jawab Renjun lagi-lagi sambil menggaruk tengkuknya.

"Haduh si adek, rajin belajar dulu ya baru main cinta-cintaan" jawaban wanita itu membuat wajah Renjun memerah, duh malu sekali.

Renjun melihat punggung sempit milik wanita tadi berjalan menjauhinya, menuju rumahnya sendiri.

Sampai....

"Sayang!" Panggilan dari pria yang seumuran dengan ayahnya membuat Renjun melihat ke arahnya.

Pria tersebut melambaikan tangannya ke arah wanita itu, kemudian tersenyum lebar saat si 'mbak' tadi sudah sampai di hadapannya.

Wah, apa-apaan itu? Serasi sekali.

Pria yang memiliki wajah tampan, bentuk tubuh kekar yang ideal, belum lagi wajah yang awet muda. Memiliki wanita cantik dengan senyum manis dan tutur kata yang baik.

Benar-benar sempurna!

Renjun jadi merasa kecil.

Bisa-bisanya ia menggoda wanita yang sudah memiliki suami, itu sangat tidak gentle! Renjun ini lelaki sejati, tidak mungkin jika ia merebut wanita milik pria lain.

Sampai ia menyaksikan keduanya tertawa dan melihat ke arahnya, wajah Renjun langsung memerah seperti kepiting rebus.

Pasti wanita itu bercerita tentang tingkah konyolnya.

Renjun buru-buru berlari masuk ke dalam rumahnya sambil memeluk parsel yang tadi di berikan oleh 'mbak' cantik.

Ia baru teringat belum mengucapkan kata terimakasih, ini semua karena kepercayaan dirinya yang sudah di level dewa! Harusnya Renjun berpikir dulu sebelum bertindak.

Duh, rasanya Renjun ingin berteriak di depan wajah ayahnya dan meminta untuk cepat-cepat dinas disini agar pindah rumah kembali.

JAMET Where stories live. Discover now