Australia, Juni 20xx
Musim dingin di kota Sidney tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meski demikian pukul 1 pagi di musim itu tetaplah bukan waktu yang tepat untuk jalan-jalan bagi orang normal.
Suara derap langkah bergema ketika seorang lelaki berjalan melewati sebuah gang di pinggiran kota Sidney. Wajahnya tertutup sebuah beannie hitam dan syal berwarna biru tua. Kedua tangannya tersembunyi di dalam saku jaket untuk mencegah telapak tangannya membeku.
Srakk...
Ia menoleh ketika mendengar suara aneh dari belakangnya. Tak ada apapun, hanya gelapnya gang tanpa lampu yang dibelakangnya. Sebuah perasaan tak nyaman muncul di dalam hati lelaki itu, maka ia percepat langkah untuk segera menjauh dari tempat itu.
Benar saja, tak lama setelah lelaki itu pergi, seseorang bertubuh besar muncul dari balik dinding dengan mengenakan pakaian serba hitam. Rambutnya yang panjang dan berantakan serta bekas luka di wajahnya membuatnya terlihat seperti monster. Ia menyeringai ketika menyadari targetnya telah mengetahui keberadaannya.
"Good dog has a good nose."
(Anjing yang bagus memiliki penciuman yang bagus.)
Sepertinya tak ada gunanya lagi menyembunyikan diri. Lelaki bertubuh besar itu meludah ke samping sebelum berjalan ke arah targetnya pergi.
Lelaki dengan syal biru itu semakin mempercepat langkahnya menyadari suara derap kaki terdengar tepat di belakangnya. Ketika ia menjumpai sebuah pertigaan, kakinya membawa tubuhnya untuk berbelok ke kiri. Lelaki besar tadi pun mengikutinya tanpa ragu sembari mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya.
Namun, saat ia juga berbelok, targetnya menghilang begitu saja tanpa jejak, seolah yang diikutinya beberapa detik lalu adalah hantu. Ia menoleh ke samping dan kebelakang, dalam hati bersumpah serapah karena ia menganggap remeh targetnya. Lelaki bertubuh besar itu lantas mengacungkan pistolnya ke depan dan bersiap menembak apapun yang akan muncul di depannya, selangkah demi selangkah menyisir tempat itu, barangkali targetnya bersembunyi di sana.
Ia mengecek ke bagian belakang tumpukan kotak kayu di sebelah kanannya. Tak ada apapun di sana, hanya tumpukan salju yang tak pernah dibersihkan. Ia melanjutkan langkahnya hingga sampai di sebuah perempatan.
"Bingo!"
Sebuah seringai kembali muncul ketika sebuah jejak terlihat di atas salju di belokan sebelah kirinya. Ia lalu mengokang pistolnya sebelum memasuki gang itu. Mata tajamnya tak berhenti memeriksa sekelilingnya. Dahinya mengernyit ketika ia menyadari gang yang ia masuki adalah jalan buntu.
"Fuck," umpatnya tanpa suara.
Belum sempat dirinya membalikan diri, sesuatu jatuh tepat di belakangnya. Dalam sepersekian detik, sebuah benda membelit dan menarik tangan kanannya ke arah bahu. Pistolnya terlempar, ketika ia sadar pergerakannya telah terkunci dengan sebuah syal biru mencekik lehernya. Lelaki bertubuh besar itu mengerang kesakitan ketika syal itu mencekiknya lebih erat.
"What do you want from me?"
(Apa yang kau inginkan dariku?)
Seseorang berbisik di telinganya dengan nada dingin. Ia dapat merasakan sebuah bahaya dari suara itu.
"They want you to back."
(Mereka ingin kau kembali.)
Sebelah alis lelaki pemilik syal biru itu terangkat.
"Why should I?"
(Kenapa aku harus kembali?)
"It's not a choice. You will back or you will die."
(Itu bukanlah pilihan. Kau akan kembali atau kau akan mati.)
Lelaki bertubuh besar itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dan mengayunkannya ke arah belakang. Syal biru yang menjeratnya lepas membuatnya kembali bebas bergerak. Ia berbalik untuk berhadapan dengan si pemilik syal biru.
YOU ARE READING
Venom
FanfictionChan telah dianggap mati 5 tahun yang lalu. Saat ia kembali, ia justru direkrut oleh organisasi kriminal paling berbahaya di Korea Selatan. Warn! 21+ Bl aka boyslove Homophobic silakan putar balik Jangan lupa baca tagar!
