[Awal Buku] Rumah sakit

134 13 1
                                        

Cahaya matahari mengintip dari balik tirai yang menari mengikuti semilir angin. Di dalam ruangan tersebut terdapat dua orang remaja, suasana tenang menemani mereka berdua. Terdengar suara seorang remaja laki-laki membaca sebuah cerita dan membalik halaman yang sudah dirinya baca.  Tidak ada tanggapan dari yang lainnya, hanya suara remaja tersebut yang mengisi kesunyian tersebut.

".... Maru terus berusaha dan menunggu saudarinya untuk bangun, semua hal sudah ia lakukan namun tidak membuahkan hasil. Walau begitu, dirinya terus berusaha untuk menemukan cara untuk membuat saudarinya bangun lagi dan tersenyum..."

Remaja itu terus membacakan novelnya dengan nada yang tenang dan ramah. Saat dia membalik halaman selanjutnya dan ingin membacakan novelnya untuk remaja di depannya, terdengar suara pintu terbuka memperlihatkan seorang remaja lainnya masuk.

"Thorn, apakah kau membacakan novel itu lagi?" Remaja itu duduk di sofa sedangkan Thorn berbalik dan menatap remaja yang duduk di sofa itu.

Thorn tersenyum, "ya, ini salah satu novel favoritnya. Aku hanya tidak ingin dia merasa kesepian."

Remaja itu membalas dengan tersenyum kecil, dirinya bangkit dan berdiri di samping Thorn. Melihat ke arah remaja yang terbaring di ranjang tersebut. Itu benar, mereka berdua sedang melakukan kunjungan ke rumah sakit. 

"Kuyakin, dirinya akan senang mendengar dirimu menceritakan kisah itu." Remaja itu menaruh tangannya di pundak Thorn dan menutup halaman novelnya yang sudah ditandai. Thorn tertawa kecil dan memandang juga ke ranjang rumah sakit itu. Mata hijau Thorn kini beralih menatap remaja di sampingnya.

"Terima kasih, Solar." Thorn tersenyum halus pada remaja di sampingnya, Solar.
"Hm...? Untuk apa?" Solar menaikkan satu alisnya.
"Hahahaha....rahasia" Thorn mengalihkan pandangannya dari Solar dan berdiri.

Solar menatap Thorn yang menyimpan novel ke dalam tas, dirinya juga mengambil tas miliknya yang berada di sofa. Mereka memutuskan untuk mengakhiri waktu kunjungan hari ini. Hal itu karena Thorn ada kegiatan setelah ini begitu juga dengan Solar. Setelah mereka mengambil tas masing-masing, Solar berjalan terlebih dahulu ke pintu sedangkan Thorn menutup tirai jendela yang sengaja dia buka tadi.

"Sudah?" Solar bertanya pada Thorn yang mengelus pelan tangan remaja yang terbaring di ranjang tersebut. Thorn mengangguk dan berjalan ke arah Solar.

"Kami pulang dulu, nanti kami datang lagi." Thorn berkata sebelum ke luar dari kamar rawat inap VIP tersebut. Solar menatap lekat sebentar remaja tersebut dan tersenyum kecil.

"Kami pergi dulu, ...." Solar berkata dengan lirih sambil menyebut nama remaja itu. Suara pintu tertutup adalah hal terakhir yang terdengar di ruangan. Kini suara tetesan infus, suara monitor jantung, dan suara nafas yang halus terdengar jelas di suasana yang sepi itu.

Di koridor rumah sakit tersebut, Thorn dan Solar berjalan menuju ke parkiran. "Sol, jadi bagaimana? Apa hasil pemeriksaanmu?" Mendengar hal itu Solar menghela nafas dan mengingat apa yang dikatakan oleh dokter tadi.

"Seperti biasa, beliau berkata aku harus mengurangi jam lembur dan menambah jam tidurku....seperti, sudahlah"

Thorn yang mendengar itu bisa membayangkan wajah dokter yang sudah muak memberi nasihat seperti itu, dia yakin bukan hanya Solar saja remaja yang beliau kasih informasi yang sama dan berulang seperti itu.

"Baiklah, sebaiknya kau dengarkan dia. Kau tahu kau bisa menghindarinya jika kau tidak bersikap kekanak-kanakan hanya karena kau demam, kan?~"

"Cih, diamlah kau, Hijau! Kau tidak tahu aku benci deman"

"Tidak ada yang menyukai deman, Ilmuwan aneh"

Solar hanya memandangi Thorn dengan kesal, coba saja mereka saat ini tidak di depan Rumah Sakit, sudah Solar lempar Thorn dengan sepatunya. Untung saja tidak lama kemudian mobil yang mereka pesan secara online sudah datang, kalau tidak Solar harus bersabar mendengarkan Thorn mengoceh dan mengejeknya. "Untung kau saudaraku, Hijau!"

Mobil mereka pun berjalan menuju ke rumah mereka, selama perjalanan tidak ada komentar sinis atau percakapan yang terdengar. Mereka sibuk dengan dunia yang mereka ciptakan di kepala mereka masing-masing, sekalian menjaga martabat di depan orang asing yang menjadi supir mereka ini. Kalau bukan orang asing, mereka mungkin sudah tiba-tiba konser dalam mobil atau bercerita panjang x lebar x tinggi.

Tanpa mereka sadari ada dua sosok pria dan wanita yang memandangi mobil yang melaju menjauhi rumah sakit, tidak ada ekspresi apapun di pria itu, hanya datar tanpa ekspresi. Sedangkan, wanita yang bersamanya itu hanya bisa tersenyum lembut pada pemandangan itu.

"Dasar bocah itu, tega sekali dia menyembunyikan hal-hal ini dari mereka." Wanita itu berkata sambil menggelengkan kepalanya dengan halus.

"Apa yang kau harapkan dari dia? Masih untung dia mau cerita ke kita dan membiarkan kita ikut campur. Itupun karena kau seret dia dulu." Pria itu tidak heran dengan kelakuan orang yang sedang mereka bicarakan itu.

"Aku kan Kakaknya....hahahah....Hah~....Ya sudahlah, janji adalah janji, kesepakatan adalah kesepakatan. Lagipula kita yang terlibat jadi aku paham kenapa dia tidak mau menjelaskan apapun ke mereka." Wanita itu berjalan menjauh dari jendela.

"Humph! kakak apaan? umur kita sama, dasar kalian ya, lagipula aku tidak bisa membiarkan kalian berdua bersenang-senang tanpaku kan?" Pria itu menggelengkan kepalanya dengan senyum ringan di wajahnya, dia pun berjalan mendahului wanita tadi.

Terdengar tawa halus dari wanita itu, dia berbalik dan melihat ke suatu sudut. "Baiklah apa boleh buat? Akhir dari ini bukankah sudah ditentukan" kata wanita itu dengan lirih. Sosok yang wanita itu lihat hanya tersenyum dengan mata tertutup sambil menaruh telunjuknya di depan mulutnya yang mengisyaratkan bahwa ini rahasia mereka bertiga saja. Wanita itu kembali menyusuli temannya yang tahu apa maksud perkataan wanita itu tadi.



Hello, penulis di sini. 
Saya ingin menyampaikan bahwa ini adalah pertama kalinya saya ingin mencoba meng-publish cerita khususnya fanfic, saya sudah beberapa kali keluar dan masuk fandom ini dan akhirnya mencoba memberanikan diri untuk menulis ini. Mohon maaf bila ada kesalahan kata, kata tidak baku, dan hal-hal yang tidak mengenakkan. Kemungkinan cerita ini akan banyak OOC, hal-hal yang lumayan tidak masuk di akal, dan hal-hal aneh lainnya.

Terima kasih sudah mau membaca dan komentar ataupun saran dan kritik diterima namun harap menggunakan bahasa yang sopan. Sekali lagi mohon maaf dan terima kasih 🙏

BERKUMPUL LAGIWhere stories live. Discover now