Si Gadis Gotik

4 0 0
                                        

Kattie Caroline. Atau panggilan akrabnya disebut Kattie. Anak tunggal dari keluarga yang terkenal dengan nuansa gelap dan misterius, kini tengah menyesap teh dengan cangkir antik yang baru saja ibunya hadiahkan dengan satu set teko dan alat makan lainnya.

Kattie menikmati harinya dengan membaca buku bersampul coklat gelap dan kuno, duduk di kursi kayu dengan kaki yang merapat anggun di sebuah teras balkon Black Mansion di lantai dua. Dengan suasana asri dan redup seolah-olah awan mendung terus abadi di kediaman keluarga Kattie.

Mata Kattie terus bergerak cepat mengikuti alur kalimat dari buku yang ia pegang. Jangan kira, ia membaca buku sejarah hanya karena bersampul coklat dengan halaman yang begitu tebal, dia hanya membaca novel klasik buatan penulis yang tidak terlalu terkenal namun sastranya indah bagai puitis dan dikemas baik seolah ia menatap sebuah mahakarya seni.

Namun hanya Kattie yang dapat memahami itu, teman-teman sebayanya tidak pernah menyukai hal yang ia sukai, karena bagi mereka itu semua, “Terlalu kuno dan aneh.”

Kattie tidak pernah peduli soal mereka yang terus mengometari gaya hidupnya. Kini ia sudah cukup dewasa bahkan sebelum menginjak usia 18 tahun untuk melakukan sesuatu secara bijaksana.

Kattie menatap jam dinding dengan bingkai bahan kayu coklat kehitaman dan logam di dalam kaca jam yang berdetak dan berayun ke kanan dan ke kiri. Kattie menghela nafas setelah ia melihat waktu berjalan dengan sangat cepat, “Sudah jam 12 siang yak...,” lirih Kattie dengan suara tenang dan selembut sutra, namun ada suara kekecewaan di dalamnya.

Ia mengakhiri sesi membacanya dan menutup buku itu rapat-rapat. Ia berdiri untuk merapihkan rok gaun hitam selututnya dan stoking putih dengan dihadirkannya dua sepatu hitam mengkilap. Ia bersiap berjalan menuju pintu kamar setelah ia menaruh bukunya di rak penuh buku-buku lama.

Cara ia berjalan nyaris tidak mengeluarkan suara sedetingpun. Pelan, dengan ritme sedang dan halus. Bahkan cara ia berjalan-pun begitu tenang dan anggun seperti wanita berkelas.

Gadis remaja yang berusia 16 tahun itu menuruni tangga yang dicat putih polos dan menuju ruang makan.

Jangan tanya seperti apa bentuk rumah besar hitam ini. Keseluruhan wallpaper dinding dengan corak bangsawan abu-abu gelap menutupi seluruh ruangan, perabotannya juga kelihatan ketinggalan zaman dan antik. meninggalkan nuansa klasik seakan kita dikembalikan ke tahun abad pertengahan Eropa.

Mohon jangan salah mengira, mereka tentu keluarga kaya-raya namun mereka tidak ingin bermewah-mewah seperti anak walikota yang memakai baju ketat merah dan beludru putih di sekeliling lehernya sambil membawa tas kecil dengan merek mahal, keluarga Kattie tau cara memanajemen segala hal dengan baik.

“KAT--” Ibunya baru saja ingin berteriak memanggil putri kesayangannya dari dapur, namun terpotong dan tersentak kaget mendapati putrinya berdiri di samping wanita berumur 30-an bersanggul hitam yang hendak berbalik badan. Kattie diam, seperti boneka pajangan di toko antik. Membuat ibunya sendiri hampir terkena serangan jantung. “Oh, Sayang. Kamu membuat Ibu terkejut setengah mati.” ucap Ibu Kattie menghela nafas lalu mengelus dadanya dan menggelengkan kepalanya pelan dengan kelakuan putrinya yang memiliki kehadiran yang sangat tipis.

“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya Kattie dengan nada sopan namun wajahnya terlihat netral dan tatapan mata hitamnya kosong. “Kattie, Sayang. Ibu minta tolong untuk menyiapkan peralatan makan ke ruang makan, yak.” perintah Ibunya lembut sambil membereskan peralatan masak ke lemari dapur.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 01, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Gothic PrincessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang