1 || Pria sinting dan gadis manis

117 33 39
                                        

Kau bagai bintang di tengah samudra,
Arahkan jiwa yang terlena akan dunia,
Ampuni mata ini, tak mampu melihat,
Kedalam cintamu sesungguhnnya...

Lagu itu terus berputar di telinga Flora.

Entah sudah berapa kali ia menekan tombol repeat pada iPod putih kesayangannya. Sejak pagi, hanya lagu itu yang mengisi playlist-nya. Seolah ada sesuatu dalam liriknya yang mampu menenangkan kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan.

Duduk sendirian di bangku panjang dekat pintu barat Kebun Binatang Ragunan, Flora memejamkan mata sejenak. Angin siang yang hangat berembus pelan, menggoyangkan ujung rambut hitam bergelombangnya yang terurai indah hingga melewati bahu.

Meski hanya mengenakan kaus sederhana dipadukan dengan rok denim, pesonanya tetap sulit diabaikan. Kulitnya yang cerah, mata besar yang ekspresif, serta lesung pipit di kedua pipinya membuat banyak orang tak segan melirik dua kali saat melewatinya.

Beberapa pria bahkan terang-terangan mencuri pandang.

Flora hanya membalas dengan senyum tipis yang sopan sebelum kembali menikmati lagunya sembari menutup mata.

Kalau dipikir-pikir, hidupnya nyaris sempurna.

Ia adalah putri tunggal dari pemilik jaringan hotel ternama. Cantik, kaya, populer, dan dikelilingi banyak orang yang menyukainya.

Sayangnya...

Dia tidak dapat merasakan arti mencintai karena hatinya telah dikungkung oleh sesuatu bernama "perjodohan".

"FLORAAAA!"

Flora membuka mata dan menoleh.

Senyumnya langsung mengembang saat melihat Sonya berlari kecil ke arahnya sambil melambaikan tangan.

Cepat-cepat Flora melepaskan earphone dari telinganya.

"Gila, lo!" serunya sambil berdiri. "Lo telat satu jam, tau nggak?"

Sonya terkesiap, lalu mengusap dahinya yang berkeringat.

"Sori banget!" jawabnya sambil mengatur napas. "Gue tadi dicegat Vino."

Flora memutar bola matanya.

"Lagi?"

"Tahu sendiri kan? Cowok itu lagi semangat-semangatnya nyari perhatian lo. Capek banget gue disuruh jadi kurir perasaan."

Flora tertawa kecil.

"Lo nggak kasih tahu dia gue di sini, kan?"

Sonya mendengus.

"Flora... serius deh. Putri pemilik hotel nongkrongnya di Ragunan. Emang ada yang bakal percaya?"

Flora terkekeh lalu merangkul lengan sahabatnya. "Yuk! Kita lihat babynya Rica."

Sonya mendecak. "Antusias banget sih sama gorila."

"Ya ampun, itu bayi gorila! Gemes tau!" protes Flora.

Keduanya pun berjalan menyusuri area kebun binatang. Melewati kandang rusa, burung eksotis, hingga akhirnya tiba di pusat primata.

Mata Flora langsung berbinar ketika menemukan sepasang ibu-anak gorila.

"Nya! Lihat tuh! Rica lagi nyusuin bayinya!"

Ia bersandar di pagar pembatas sambil tersenyum lebar melihat seekor gorila betina yang tampak begitu tenang menggendong anaknya.

"Tuh kan," celetuk Sonya jahil. "Sekarang Rica udah jadi ibu. Berarti lo nggak bisa curhat sama dia lagi."

Flora melotot.

Good Morning, Mrs. Renald!Des histoires addictives. Découvrez maintenant