Sebelum baca jangan lupa vote dan comment kalian~
Bagi yang homophobic, silahkan menjauh.
.
.
.
Logan menyelam terlalu dalam. Kulitnya sedingin es, nafasnya sesak, tubuhnya kaku. Yang hanya ia bisa lakukan adalah membuka matanya perlahan, menyaksikan kegelapan yang hampa.
Tidak ada suara, tidak ada udara. Tempat ini luas, tapi terasa sempit.
Logan merasakan nafasnya mulai memendek, ia berusaha untuk terus bertahan hidup. Gelembung udara keluar dari mulutnya.
Di ambang antara hidup dan mati, sebuah tangan mungil meraih tangannya yang kekar. Dengan perlahan menariknya keluar dari tempat hampa itu.
.
.
.
Logan terbangun dari tidurnya. Mimpi buruk yang kesekian kali. Entah mengapa akhir-akhir ini dia sering bermimpi buruk.
Logan menggeleng, menguap demi menyegarkan tubuh yang masih betah berbaring. Dilihatnya alarm yang berdering di atas meja nakas, begitu memekik telinga. Mungkin sudah berbunyi sekitar setengah jam yang lalu.
"Padahal sudah bunyi dari tadi, bisa-bisanya aku tidak bangun," Logan berbisik malas. Ia segera mematikan alarmnya dan turun dari kasur.
Namun, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Bunyi ketukannya sangat keras seperti orang yang sedang menagih hutang secara tidak sabaran. Tapi tentu Logan tahu siapa yang ada di depan sana.
"Masuk." Ucap Logan cuek sambil membuka kaus hitamnya, memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang atletis.
Pintu kamar terbuka lebar dengan cara dibanting paksa. Seorang bocah berumur sekitar 13 tahun masuk dengan wajah sinis, pipinya merah karena kesal. Matanya sebiru samudra, mirip dengan mata Logan. Tentu mereka satu keluarga.
"Hei, bodoh! Kalau alarm-mu itu berbunyi, segera matikan! Kupingku sakit mendengarnya!" Bentak bocah itu kesal.
Logan mendengus cuek. "Untuk apa aku mendengarkan kata-kata bocah ingusan?"
"Kau!" Bocah itu membentak lagi, kali ini lebih kesal. Wajahnya tambah memerah.
Logan tidak menghiraukan bentakkan dari sang adik. Ia malah menaikkan sebelah alisnya seakan menantang. Yah, lagipula adiknya itu tidak berani berurusan dengannya.
"Alan!" Terdengar suara panggilan seorang wanita dari lantai bawah.
"Aku datang, mom!" Alan menjawab dari lantai atas. Bocah 12 tahun itu melirik sang kakak dengan sinis.
"Kita lihat saja nanti!"
"Melihat apa? Kebodohanmu?"
"Tutup mulutmu!"
Logan tertawa penuh kemenangan ketika ia berhasil membuat sang adik kesal. Bagaimana tidak? Inilah rutinitas kesehariannya. Ditantang bocah ingusan, tapi kemudian ia menang juga.
Alan pergi meninggalkan kamarnya dan pergi ke lantai bawah untuk sarapan. Sementara itu, Logan memutuskan untuk membersihkan wajahnya dan menyikat gigi.
Rutinitas pagi harinya berjalan seperti biasa. Bangun tidur, sarapan, lalu pergi sekolah. Tidak ada yang spesial, justru Logan merasa bosan. Ditambah hari ini adalah awal musim dingin, membuatnya tambah malas pergi ke sekolah.
Entah apa yang akan terjadi hari ini, dia tidak tahu.
.
.
ESTÁS LEYENDO
Snow Lover BL (Omegaverse) HIATUS
Novela Juvenil"Kita bertemu lagi pada musim dingin di Kota London. Tempat di mana pertama kali kita bertemu." . . . Logan Zephyre, seorang Alpha dominan yang menjalani kehidupannya sebagai sosok yang terkenal sulit didekati di sekolah. Logan adalah sosok yang ra...
