"Bagi orang lain dia adalah kebanggaan sekolah, tapi bagiku, dia adalah bencana berjalan dengan atribut ketua OSIS."
Jangan lupa komen dan Vote yaaaa
...
Buat Alona Anindya, nama Samudra Biru Sampurna itu ibarat kutukan.
Mau sekeras apa pun Alona belajar sampai matanya minus, ujung-ujungnya kertas ujian dengan nilai sempurna 100 itu tetap bakal ada di tangan cowok itu. Sedangkan Alona? Selalu puas ngelus dada di posisi dua dengan nilai 98 atau 99. Gedek? Jelas. Banget.
"Nih, minum dulu. Muka lo udah kayak mau nelan Samudra hidup-hidup, Na," celetuk Senja sambil menyodorkan kotak susu cokelat ke meja Alona.
Alona menarik napas panjang, menatap papan pengumuman di mading SMA Bhakti Kencana. Di sana, nama Samudra bertengger di urutan teratas ranking paralel semester ini.
"Gue cuma heran ya, Nja. Dia itu tiap malam dugem, kerjaannya gonta-ganti cewek kayak ganti kaos kaki, tapi kenapa otaknya tetap encer?" sungut Alona gemas. "Dunia fisika benar-benar nggak adil!"
"Ya mau gimana lagi, pinter dari orok kali," Senja terkekeh lugu. "Tapi lo tenang aja, kan bentar lagi ada pemilihan Ketua OSIS. Lobi-lobi politik lo di mading kan udah mantap."
Alona tersenyum miring. Benar. Kali ini dia nggak boleh kalah. Kursi Ketua OSIS SMA Bhakti Kencana harus jatuh ke tangannya. Ini pembuktian kalau dia bukan sekadar 'bayangan' Samudra.
Tiba-tiba, riuh suara koridor mendadak pecah. Bau parfum maskulin yang menyengat langsung tercium dari kejauhan. Geng paling dominan di sekolah baru saja lewat.
Di depan ada Arya, Liam, Malik, dan JD yang jalan santai sambil ketawa-tawa. Di sampingnya ada Sella yang terus menggelayut di lengan seorang cowok berseragam berantakan, dua kancing atasnya terbuka bebas.
Siapa lagi kalau bukan Samudra.
Samudra menghentikan langkah tepat di depan mading alias tepat di samping Alona. Manik matanya yang tajam melirik sekilas ke arah kertas peringkat, lalu beralih menatap Alona dengan senyum remeh khasnya.
"Masih nomor dua, Al?" suara berat Samudra terdengar santai, tapi sukses bikin telinga Alona panas.
"Suatu saat gue bakal di atas lo, Sam," balas Alona tajam, menatap lurus mata cowok di depannya.
Samudra terkeh melas. Dia maju satu langkah, menundukkan sedikit badannya hingga jarak wajah mereka cuma tersisa beberapa senti.
"Usaha lo boleh juga," bisik Samudra pelan, cukup untuk didengar Alona sendiri. "Tapi ingat, Ombak kecil kayak lo nggak akan pernah bisa ngalahin Samudra."
Setelah bicara begitu, Samudra ngeloyor pergi begitu saja sembari merangkul Sella, diikuti tawa ejekan dari gengnya. Alona hanya bisa mengepalkan tangan kuat-kuat.
'Lihat aja nanti, Samudra. Gue bakal bikin lo tenggelam sama kesombongan lo sendiri.' batin Alona
Suasana kantin siang itu sangat padat dan bising. Suara dentingan mangkuk beradu dengan rumor panas para siswa. Alona duduk di pojok kantin tempat favoritnya sambil mengaduk es teh yang mulai mencair.
"Masih kepikiran omongan Samudra tadi?" tanya Senja memecah keheningan.
"Gimana enggak kepikiran coba, Nja?" Alona membanting pelan sedotannya. "Dia itu tengil banget! Berasa sekolah ini punya nenek moyangnya. Muka aja ganteng, tapi kelakuan minus."
"Tapi ya, Na... pendukung Samudra itu banyak loh," gumam Senja polos. "Anak-anak cowok suka dia karena dia keren, anak cewek... ya jelas, siapa yang gak naksir Samudra?"
KAMU SEDANG MEMBACA
MY FAVORITE DISASTER|END
General FictionDi SMA Bhakti Kencana, Samudra Biru Sampurna adalah definisi kesempurnaan, jenius, kaya raya, dan tampan. Namun di balik itu, hidupnya hancur oleh perceraian orang tua-membuatnya melarikan diri ke dunia malam dan menyandang status playboy ulung bers...
