PROLOG

55 5 2
                                        


Kepada abu yang membakar senja

Memahat tegas cahaya menjadi sirna

Aku ingin bertanya

"tubuh lemah tersungkur dilahap oleh asa

laksana retaknya sebuah kaca

apa pantas untuk terukir kembali?"

Disaat sore hari seperti ini, aku teringat tentang bait puisi yang pernah kubuat ketika segerombolan burung menari diantara indahnya langit senja. Ketika mentari yang akan terbenam diujung khatulistiwa. Ketika awan kelabu mengutuk jingga menjadi sirna. Ketika itu, aku menulis puisi untuknya.

Namun kemudian, aku kembali terjatuh.

***

Gedung pencakar langit terlihat sangat elok dari bawah. Menjulang tinggi seakan menantang kepada sang pemilik semesta. Mobil-mobil mewah ditaklukan oleh kemacetan. Riuh suaranya terdengar saling memaki. WOI JALAN BANGSAT, namun kemacetan itu sangat total. Mereka semua sempurna tersendat dan tidak bisa bergerak. Sirine ambulans bergema berkali-kali. Senandung suara yang menyedihkan. Mereka berusaha mencari jalan. Beberapa polisi meniupkan peluitnya secara memukau. Mengatur riuh kemacetan yang terjadi ditengah kota. Perlahan mencari jalan agar ambulans itu bisa bergerak, agar ambulans bisa cepat sampai tujuan. Sangat mengharukan. Orang-orang pun terlihat terburu-buru untuk berkerumun. Berlomba-lomba mencari tempat. Rasanya menyenangkan bila ada diantara mereka.

Namun aku hanya diam membisu.

Burung-burung berlalu lalang tak karuan. Berkicau membawakan melodi kesedihan. Awan jingga yang indah perlahan memudar. Kelabu membelai seakan berkata kepada sang senja sudah saatnya pergi. Akankah purnama dapat menggantikan keindahannya? Sepertinya tidak. Ini mendung. Sebentar lagi akan turun hujan. Sebentar lagi langit senja yang indah itu akan hilang.

Namun disini, aku hanya diam membisu.

Bau knalpot terhirup sangat khas. Awan sudah mulai gelap, namun mereka tetap saling memaki. Harusnya ini waktunya mereka untuk pulang dari hari yang melelahkan. Sayangnya mereka harus diam di jalanan berjam-jam. Ada apa? Beberapa wanita menjerit terdengar sangat nyaring. Suaranya menelisik dari ujung keujung. Membuat hatiku berdebar. Laksana air tenang yang dihantam oleh sebuah batu. Membludak. Sempurna membuat jantungku kemudian berdegup kencang. Tuhan, ada apa?

Jepretan cahaya dari sebuah kamera terlihat sangat berkilau. Mereka beramai-ramai mencari foto yang terbaik untuk diperjualbelikan. Agar menjadi bahan tontonan masyarakat. Suaranya juga terdengar tidak asing. Dulu aku ingin sekali menjadi bagian dari mereka. Bisa bermain dengan kamera. Namun bukan menjadi seorang jurnalist apalagi jurnalist tentang sebuah gosip disebuah stasiun televisi. Aku lebih menyukai pembuatan film layar lebar daripada harus mengabadikan sebuah moment yang sedang hangat di masyarakat. Aku benci sebuah gosip. Tak semua hal harus kita perbincangkan bukan? Biarlah, biarlah mereka dengan urusannya. Mengapa kita harus ikut tenggelam dalam kehidupan mereka? Peduli apa? Menurutku daripada mereka harus membuang-buang waktu mereka mencari validasi dari masalah orang lain, mengapa mereka tidak membuat karya saja? Sebuah film layar lebar lebih baik daripada itu bukan? Sebuah seni dengan kasta tertinggi diantara seni yang lain. Musik, lagu, video, foto, lukisan semua lengkap ada dalam satu kesatuan. Namun itu hanya mimpiku, naif sekali memang. Mimpi yang hanya untuk dimimpikan. Mimpi yang sebatas mimpi.

Diantara riuhnya ibukota sore ini. Beralaskan aspal yang terasa begitu hangat, terlintas aku mengingat seorang gadis cantik yang sangat menarik. Disaat aku pertama kali bertemu dengannya. Ketika rambutnya terurai terombang ambing diudara. Bagai seonggok mawar yang sedang mekar, yang bergeliat oleh desir angin sore hari. Seketika itu mataku berhasil terpikat olehnya. Bualannya sangat cerewet, ia mempunyai sikap yang periang, senyumannya yang lucu sangat membuat candu, tatapannya betul-betul terlihat ganas mengendalikan, dan perangainya memang sedikit nakal. Namun sebetulnya dia adalah perempuan yang sederhana. Perempuan yang sangat baik hati.

Dia layaknya seorang bidadari yang turun dari dalam nirwana. Gadis itu berhasil membelah atmosfer dengan sayap-sayapnya yang tidak bernoda, yang kemudian berhasil mengenalkanku apa makna dari kata cinta. Gadis yang selalu memberiku sebuah pelajaran tentang kehidupan. Gadis yang menjadi panutan hidupku untuk terus kembali melangkah kedepan. Gadis yang istimewa. Sempurna menjadi tokoh utama dalam hidupku.

Namun sayangnya, saat ini aku hanya diam membisu.

Rintik hujan perlahan mulai turun membasahi daratan. Diiringi gemuruh petir yang menerangi awan kelabu dilangit membuat burung-burung berlari terbirit-birit. Para pengguna jalan lalu membukakan payungnya. Mereka tetap berkumpul hanya untuk melihat sebuah tragedi. Air hujan perlahan menghilangkan pandangku. Pistol yang sebelumnya kupegang telah terjatuh menjauh. Mataku yang sebelumnya basah karena tangisan air mata, bertambah sayu kemudian perlahan meredup. Lalu sayup-sayup langkah kaki itu kembali terdengar menghampiri. Kali ini terdengar sangat tergesa-gesa. MINGGIR! MINGGIR! BERI JALAN! Beberapa orang berbaju putih dengan menggunakan sarung tangan, memikul tandu berwarna putih, membawa sebuah kotak dengan logo palang merah ditengahnya tergesa-gesa mendekat. Mereka dengan segera meraihku. Memasangkan alat bantu pernapasan dihidungku. Aku pun tersenyum. Ternyata ambulans itu sudah datang. Mereka sudah lepas dari kemacetan. Disaat darahku mulai dibanjiri oleh dinginnya air hujan. Disaat bibirku sudah membiru. Disaat dua puluh menit penembakan telah berlangsung. Disaat jantungku perlahan mulai terhenti. Disaat itu pandanganku perlahan memudar.

***

Menurutmu apa arti dari sebuah kehidupan? Mengapa kalian sangat antusias untuk hidup? Apakah kalian pernah mempunyai sebuah mimpi? Pernahkah kalian merasakan sebuah kesepian? Tentang cinta? keluarga? cita-cita? Bukankah itu suatu masalah yang sulit untuk diterka?

"Mengapa aku bersemangat untuk hidup? Itu pertanyaan yang lucu Langit. Mungkin, aku hidup karena aku mempunyai sebuah mimpi. Menjadi dokter contohnya. Mimpi yang amat indah. Mimpi yang selalu membuat aku semangat untuk menyulam hari. Mimpi yang selalu membuat aku bergairah untuk merajut asa. Mimpi... mimpilah yang membuat aku bisa hidup" itu kata seorang gadis cantik disebuah taman yang sedang menengadah keatas ketika pandangannya tertuju pada indahnya lampion yang sedang mengudara.

Aku mengangguk. Tersenyum tipis saat mendengarnya. Membuat hatiku teriris oleh perkataannya. Seperti bidadari yang bermandikan cahaya rembulan. Gadis itu seakan menebar cahaya kegembiraan kepada setiap manusia didekatnya. Sungguh ia sangat memesona. Tuhan, mengapa ia sangat bersemangat sekali? Namun bukankah ia akan mati? Bukankah seorang wanita yang sangat aku cintai itu sebentar lagi akan menemui ajalnya? Atauu... atau.. atau mungkin aku yang lebih dulu meninggalkannya?

Karena sampai detik ini, ketika aku telah dibawa masuk kedalam ambulans, ketika tubuhku sudah dibungkus oleh peralatan rumah sakit, ketika tubuhku telah dibius oleh beberapa obat-obatan, ketika tubuhku tidak bisa bergerak, ketika jantungku perlahan mulai terhenti, ketika para bandit itu berhasil pergi, ketika seseorang yang kucinta sedang terkapar di rumah sakit, ketika itu aku sangat ingin berkata padanya. Bahwa aku mencintaimu.

LANGIT SENJAWhere stories live. Discover now