...
"Dia baik, sayang kalau namanya gak dikenang dan gak diabadikan di sini uhuyy:)"
...
"Jaki, kan lo udah janji mau ngasih tau gue orang yang lo suka malam ini," kata seorang gadis yang sibuk memakan ice cream, sambil menatap sang sahabat.
"Nama gue Zaki bukan Jaki," protesnya tak suka. Ia menggerakkan tangan untuk membersihkan sisa ice cream di pinggir bibir gadis itu. "Udah gede masih belepotan makannya."
"Ah biarin, gue suka manggil Jaki!" balasnya tidak mau mengalah. "Jangan ngalihin pembahasan dong!"
"Iya, nggak."
"Yaudah jawab, gue udah kepo banget ini!" pintanya. "Siapa cewek itu?"
"Mau tau banget atau nggak?" tanya Zaki mengulur waktu.
"Banget Jaki!" balasnya.
"Bangetnya setengah, atau banyak?" Lagi, ia bertanya dengan sengaja.
"Banyak!" balas gadis itu sangat excited sekali.
"Kasih tau nggak yah!" Zaki memegang dagu seolah-olah berfikir, dengan gaya menjengkelkan.
"Ih, kasih taulah. Lo udah janji!" tuntutnya tidak mau tau.
Zaki tertawa kemudian mengangguk. "Iya Zelia, gue kasih tau tapi ....,"
"Tapi apa lagi Jaki? Gue marah nih!" kesal Zelia akhirnya, namun Zaki malah tertawa puas melihat raut wajah gadis itu berubah.
"Iya-iya deh, karena lo udah jadi sahabat gue dari kecil—"
"Kepanjangan pembukaan lo, tinggal kasih tau aja." Zelia menatap sinis ke arah Zaki, dan lagi-lagi hal itu membuatnya terbahak.
"Iya, tunggu bentar gue telpon dulu orangnya!" kata Zaki mengambil ponsel. "Lo jangan cemburu yah."
"Dih, nggaklah, lo pede banget kayaknya," kata Zelia sambil memutar bola matanya malas.
Zaki menghela nafas, kemudian menekan nomor seseorang.
"Diangkat nggak—" ucapan Zelia terjeda kala mendengar ponselnya berbunyi. "Bentar, ada yang nelpon gue—"
Wajah Zelia dibuat terkejut, kala melihat layar ponselnya menampilkan panggilan dari seseorang, wajahnya berubah panas, dan perutnya geli.
"Zaki lo—"
"Kok nggak diangkat Li?" tanya Zaki dengan wajah serius.
Demi apapun, kali ini Zelia merasakan jantungnya tidak aman saat berdekatan dengan Zaki, padahal sebelumnya tak pernah begini.
"Zaki, lo nggak salah telpon, 'kan?" tanya Zelia menetralkan diri, tidak mau kepedean dulu.
"Nggak, kan tadi lo nyuruh gue ngasih tau cewek yang gue suka," tanya Zaki lagi tanpa ekpresi, dengan mata tajam menatap tiap inci wajah Zelia dari dekat.
"Terus kenapa nggak diangkat Lia?" lanjutnya.
Zelia langsung mengangkat telpon itu menempelkannya di telinga.
"Halo? Izin melaporkan! gue Dzaki Putra Wiranata, menyatakan bahwa selama lima tahun ini, telah lancang dan berani menyukai Zelia Kuputri Cashana!" Setelah itu Zaki mematikan ponsel.
Raut wajahnya berubah ceria lagi. Dia menarik nafas lega. "Janji gue udah lepaskan, gue udah ngasih tau orangnya siapa."
"I-iya, tapi kenapa gue Zaki?" tanya Zelia.
Seperti tidak ada yang terjadi, Zaki menaikkan bahunya acuh. "Udah malam, ayo gue anter nyebrang ke rumah lo, besok kita jogging pagi-pagi, oke?"
"Zaki, pertanyaannya belum dijawab!" kata Zelia.
Lelaki itu tersenyum, "Udah malem Lia. Ayok pulang! Jangan banyak nanya—"
"Ah, tapi Zaki—"
"Lia, ayok!" kata Zaki tak mau dibantah. Mau tak mau, Zelia pun mengangguk dengan pasrah.
"Oke deh, tapi ceritain yah kenapa harus gue orangnya?"
Zaki tidak menjawab namun berdehem pelan sebagai pengganti.
'Karena gue milih lo Li," batin Zaki
...
