Jangan lupa votenya🙏🏻😂❣️
Hari libur seharusnya ia gunakan untuk berlibur. Namun berbeda dengan gadis cantik yang tengah mendengarkan kajian dengan pulpen dan buku catatan yang setia menemani.
Untuk satu hal ini begitu ia gemari karena baginya mendengarkan kajian yang dibawakan oleh sosok lelaki idamannya adalah suatu hal yang menyenangkan juga bermanfaat.
Melihat 'nya' adalah nilai tambah. Namun lebih berbobot lagi pengetahuan dan juga ilmu yang bisa didapat dari keseluruhan isi pesan yang disampaikan.
Hawa menutup buku catatan seraya mengucapkan Alhamdulilllah. Sambil menunggu para jamaaah meninggalkan majlis ia melihat layar ponselnya.
Dirinya beranjak setelah menerima notifikasi dilayar ponselnya. Diluar, langit begitu cerah, tanah dan pepohonan masih meninggalkan tanda jika semalam terguyur oleh hujan.
Saat ia sampai diteras masjid, sang kakak terlihat sedang mengobrol dengan seorang lelaki yang ia kenali, samar terdengar percakapan keduanya saat jaraknya memendek.
"Datang dari subuh, sama adek."
"Oh, adeknya ikut?" sejenak Asyraf mengedarkan pandangannya.
"Abang." Hawa menarik pelan ujung baju Adam.
"Ayo berangkat." ajak Hawa dengan berbisik.
Suasana tiba-tiba terasa begitu canggung, entah apa yang salah. Namun ia merasa pandangan itu terus saja mengarah padanya. Ah itu hanya perasaannya saja. Mungkin.
"Hawa."
Suara lembut nan sopan itu mengalihkan perhatian mereka. Seorang wanita paruh baya berjalan kearahnya dengan begitu teratur dan penuh kehati-hatian.
Tunggu sebentar. Ada yang berbeda dari cara jalan beliau. Secepat langkahnya, ia berjalan menghampiri wanita itu, dengan penuh kesabaran menuntunnya berjalan. Sedangkan kedua lelaki itu menundukkan kepala saat Ummah Zainab mendekat.
"Mau kemana Nduk?" Ummah bertanya.
"Rencana mau belanja kebutuhan kepondok, Ummah." jawab Hawa sekenannya.
"Bisa temani Ummah belanja?" pinta Ummah dengan serat permohonan. "Sekalian Nduk bisa belanja." Hawa melirik Adam yang mengangguk mengizinkan.
"Nggih Ummah." jawab Hawa.
Setelahnya Hawa menuntun Ummah kedalam mobil sebelum ia kembali ke mobilnya. Namun Ummah mencegahnya pergi dan meminta Hawa untuk ikut semobil dengan beliau.
"Iya, kulo izin dulu ke Abang." dengan segera Hawa menghampiri Adam.
"Abang." panggil Hawa lirih. "Hawa bareng Ummah berangkatnya."
"Iya,boleh."
"Pinjam kartu." Hawa mengulurkan tangan meminta kartu ATM pada sang kakak.
"Gus. Nanti bayarin Hawa." celetuk Adam tiba-tiba, Hawa reflek mencubit pinggang Adam.
Ia tak habis pikir dengan Adam yang bisa-bisanya berbicara santai pada Asyraf selaku putra dari pengasuh tempat dimana dirinya menimba ilmu. Dengan melihat pribadi asyraf yang begitu tenang dan dingin, Hawa berharap Asyraf tak akan merespon ucapan Adam barusan, karena kini ia benar-benar merasa malu.
BINABASA MO ANG
QOBILTU
Romance🚧🚨🌡️🚨🚧 DUKUNGAN VOTE DAN KOMEN MENDUKUNG DIBUTUHKAN🐼 ♨️ LOW UPDATE ♨️ 🐼AUTHOR MAGERAN🐼 "Ya tapi jangan kayak anak kecil, gini." Asyraf gemas melihat tangan Hawa yang terus menarik ujung bajunya. "Emang masih kecil! Mas aja yang tua!" ucapny...
