Aghniya kembali tersenyum, "Salman Al-Farisi kemudian bertemu dengan seorang ahli ibadah yang bijaksana. Dia menanyakan rahasia kebahagiaan dan kesuksesan. Ahli ibadah itu menjawab, 'Jangan biarkan masalah dan kesulitan membuatmu putus asa. Alihkan bebanmu kepada Allah, dan terus berusaha dengan tulus. Sesungguhnya, setiap kesulitan pasti diikuti kemudahan.'"

Sarah memandang Aghniya dengan mata penuh pengharapan, "Terus gimana lagi?"

Aghniya melanjutkan, "Dengan semangat yang baru, Salman memulai perjalanan hidupnya. Dia menyerahkan segala urusannya kepada Allah, berusaha keras, dan akhirnya meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Kuncinya adalah ikhtiar dan tawakal, usaha dan pasrah."

Sambil mendengarkan cerita itu, Sarah merasa semangatnya kembali menyala. "Aghni, makasih ya. Aku jadi ngerasa punya kekuatan lagi. Makasih selalu ngingetin aku buat menyerahkan semua urusan sama Allah."

Aghniya tersenyum puas, "Sama-sama, Sar. Ingat, hidup ini memang penuh dengan ujian dan tantangan, tapi dengan semangat, doa, dan usaha yang ikhlas, kita pasti bisa melewati semuanya. Dan selalu ingat, Allah tidak akan memberikan beban kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuannya."

Setelah percakapan penuh hikmah itu, Sarah teringat kalau HP nya tertinggal di kelas.

"Aghni, aku tinggalin HP di kelas. Bentar ya, mau aku ambil dulu." Ucapnya sambil beranjak meninggalkan Aghniya.

Tanpa menunggu jawaban Aghniya, Sarah pergi dengan cepat menuju kelas.

Sambil menunggu sarah kembali, Aghniya melihat HP nya lagi, terlihat ada satu pesan baru di WhatsApp-nya.

Rujhan

"Aghni, kamu dimana sekarang?"

12:06

"Aku di taman belakang Lab-kom."

12:09

"Aku kesana ya!"

12:09

Aghniya merasa sedikit aneh mengapa tiba-tiba Rujhan akan mendatanginya. Mungkin ada hal penting yang mau dibahas, Aghniya pun tidak membalas pesannya kembali, sampai tidak lama terlihat Rujhan yang sudah berjalan dengan tergesa-gesa ke arahnya.

"Aghni!" Sapa Rujhan saat berhenti di seberang Aghniya dengan jarak yang agak jauh namun masih terdengar jelas.

"Kenapa, Han?" Tanya Aghniya dengan bingung. Rujhan terlihat sedikit terengah-engah, sepertinya dia baru saja dari Masjid, terlihat dari sarung dan kopiah yang dia pegang.

Rujhan terdiam, dia menatap Aghniya dengan tatapan serius, seolah ingin mengungkapkan sesuatu yang lama tertahan. Aghniya agak heran melihat ekspresi Rujhan yang begitu khusyuk.

Sebelum Aghniya sempat bertanya lagi, Rujhan memberanikan diri untuk bicara. "Aghni, ada yang ingin aku omongin sejak lama."

Aghniya yang penasaran langsung bertanya, "Apa, Han? Serius amat sih mukanya, bikin cemas tahu." Ucap Aghniya mencoba sedikit mencairkan suasana diantara mereka yang terasa sedikit aneh baginya.

Rujhan menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, dia merasa salah tingkah sendiri, "Aku boleh sambil duduk ya?" Tanyanya dengan gugup melihat ke sekeliling taman, takutnya ada yang melihat mereka mengobrol berdua dan menimbulkan spekulasi yang negatif.

Aghniya semakin dibuat bingung, dia mengangkat alisnya dengan penuh tanda tanya. "Ya tinggal duduk aja, Han! Kita juga gak deketan kok, kenapa kamu keliatan takut diliat orang gitu?!" Ucap Aghniya dengan senyum tipis yang masih menyimpan tanda tanya pada gelagat aneh temannya itu.

Rujhan mengambil nafas perlahan, setelah duduk bersila di seberang bangku yang diduduki Aghniya, dia pun mengeluarkan kalimat yang selama ini dia tahan dengan tatapan lurus pada gadis di depannya itu, "Aku mau jujur sama kamu, tapi kamu jangan marah ya!" Ucap Rujhan mengawali kalimatnya dengan hati-hati.

"Kenapa harus marah? Kalo mau jujur ya jujur aja, Han!" Timpal Aghniya dengan serius, dia sudah mengantisipasi apa yang kira-kira akan diutarakan oleh lelaki di depannya itu.

"Sebenarnya... sebenarnya aku suka sama kamu, Aghni." Ucap Rujhan dengan mantap, kini beban di hatinya terasa terangkat setelah mengatakan kata-kata itu.

"Ya Allah..." Ucap Aghniya dalam hati. Ia sangat terkejut mendengarnya. Suasana di taman menjadi hening seketika.

Tidak jauh dari mereka, Sarah yang dari tadi sudah kembali, mendengar pernyataan Rujhan dari balik dinding.

Aghniya dengan suara penuh penekanan mencoba memastikan, "Rujhan... kamu serius?"

Rujhan mengangguk langsung, "Serius, Aghni." Jawabnya, "maaf mungkin aku terkesan buru-buru dan tiba-tiba gini, tapi aku bener-bener suka kamu dari pertama kali kita ketemu, Aghni. Dan aku gak bisa nunda buat ngungkapinnya lagi."

Sejenak, suasana terasa canggung. Aghniya mencoba mencerna kata-kata yang baru saja didengarnya. Sementara itu, Sarah di balik dinding mencoba untuk memproses perasaannya yang tiba-tiba terluka, ia simpan tangannya di dadanya, merasakan hal yang sakit di sana namun tidak tahu apa penyebabnya.

Sarah tersenyum pahit, berusaha meredakan rasa sakit yang mulai menjalar di hatinya. Tidak pernah sedikitpun terbesit dalam pikirannya jika lelaki yang selama ini dia sukai menyukai sahabat dekatnya sendiri.

Aghniya dan Rujhan kembali melanjutkan percakapan mereka, saat itu Aghniya pun jadi lupa tentang Sarah yang belum kembali dari kelas. Rujhan mencoba memberikan penjelasan lebih lanjut tentang perasaannya. Di sisi lain, Sarah pergi kembali ke kelas dengan mata yang sudah berembun.

"Aghni, aku gak mau membuat situasi jadi canggung antara kita. Aku cuma ingin jujur." Ucap Rujhan

Aghniya pun menimpali, "Aku ngehargain banget kejujuran kamu, Han. Tapi aku butuh waktu buat mikirin semuanya."

Rujhan mengangguk, "Tentu, aku ngerti, Aghni. Aku nggak ingin buat kamu jadi gak nyaman. Kamu gak perlu buru-buru menjawabnya, sampai kapanpun, aku siap nunggu kok."

Aghniya memutuskan untuk tidak menjawab pernyataan Rujhan saat itu juga, dia mencoba menghargai perasaan Rujhan, karena jika ditolak langsung mungkin akan membuat Rujhan sakit hati. Aghniya pun segera kembali ke kelasnya lebih dulu, namun dia tidak dapat menemukan Sarah dimanapun.

"Cari Sarah ya?" Tanya Deva yang memperhatikan Aghniya.

"Iya, Dev. Kamu liat dia gak? Tadi kita di taman, katanya dia ngambil HP dulu ke sini tapi belum balik lagi." Ucap Aghniya dengan khawatir.

"Tadi aku gak sengaja berpapasan sama dia, tapi dia lari gitu gak tahu kemana, sambil nangis keknya," kata Deva menjelaskan.

Aghniya langsung panik mendengar itu, dia segera ke luar lagi dari kelas mencoba mencari Sarah di manapun dia bisa menemukannya. Setelah kejadian di taman barusan, membuat Aghniya secara tidak langsung merasa begitu bersalah pada sahabat dekatnya itu, dia tidak tahu harus mengatakannya bagaimana nanti pada Sarah.

 Setelah kejadian di taman barusan, membuat Aghniya secara tidak langsung merasa begitu bersalah pada sahabat dekatnya itu, dia tidak tahu harus mengatakannya bagaimana nanti pada Sarah

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
AQLAMDonde viven las historias. Descúbrelo ahora