|| FATE ||
Xena sedang berdiri sendirian di rooftoof sekolahnya ia memegang erat pagar pembatas. Memejamkan mata membiarkan angin menerpa rambu seta wajah pucatnya.
Namun detik kemudian Raka menghampirinya dengan deru nafas yang terengah-engah.
"Xena"
"Lo tau? Gw udah nyariin--"
"Diem!" Sahut Xena, lirih tapi menekan masih dengan memejamkan mata.
Seketika Raka terdiam, dan berdiri disamping Xena. Fokusnya sempat teralih pada genggaman tangan Xena pada pagar yang sangat erat. Lalu Raka segera menatap wajah pucat pasi Xena, terbesit rasa khawatir tapi dirinya tak berani bicara karena Xena baru saja menyuruhnya diam yang artinya dia tak baik baik saja.
Xena menunduk sejenak dan perlahan membuka matanya, menetralkan cahaya yang menusuk netra. Ia kembali menatap langit sembari menggigit bibir bawahnya, dengan menahan rasa sakit yang menjalar di dada.
Air matanya tak sengaja menetes begitu saja, ia memilih duduk dan bersandar pada pagar pembatas itu.
"Na gw tau Lo sakit, ayo pergi dari sini. Dingin"
Xena hanya menggelengkan kepala.
Ia memejamkan mata, meremas roknya... air matanya pun tak dapat ditahan. Raka akhirnya duduk dan menatap Xena, ia menatap iba gadis didepannya itu.
"Xena?" Tanya lembut Raka.
Nafas Xena mulai tidak beraturan, ia membuka matanya melihat Raka yang sedang menatapnya khawatir. Sekali lagi Xena hanya menggelengkan kepala. Tangannya terkepal kuat.
"Gw, gak bisa" ucap Xena sangat lirih.
Ia menunduk memukuli dadanya yang terasa sesak. Sedangkan air matanya terus turun.
"G-gw, gak bisa Ka" kata Xena lagi. Raka mencoba menahan tangan Xena agar tidak menyakiti dirinya sendiri.
Raka menggelengkan kepalanya menatap lekat mata Xena.
"Ra, coba tenang. Lo gak boleh kayak gini" ucap Raka meyakinkan Xena.
"Lo--"
"Apa? Gw... Kuat?" Xena. Menggeleng dan menatap balik manit mata Raka lekat.
"Nggak Ka"
"Tapi lo--"
"Lo apa?" Tanya Xena lirih
"Gw capek nahan sakit terus... Kayak gini" tatapan Xena masih tak berubah. Raka memeluk tubuh mungil gadis didepannya itu, membuat Xena tak karuan. Ia menangis, menahan sakit dan haru.
"Lo bisa bertahan Na, Lo bisa" tekat Raka mengusap surai Xena. Xena menggelengkan kepala.
"Sakit Ka, gw nahan sakit tiap hari... Gw gak bisa lagi--"
"Nggak Na, nggak! Lo gak boleh nyerah" kata Raka.
"Sssh" desir Xena kala rasa sakit itu semakin mengikat dadanya, ia menggenggam lengan Raka erat.
"S-sakit Ka" kini ucap Xena benar benar lirih.
"Kita pulang sekarang" ucap Raka meregangkan pelukannya.
"Ja-ngan dulu" ucap Xena masih memegang lengan Raka sembari menunduk.
Tangan kiri Xena digenggam oleh Raka untuk menyalurkan kehangatan.
Xena tampak mengambil nafas banyak dan membuangnya perlahan dan sedikit tersenyum menatap Raka.
"Ayo balik" ucap Xena yang masih lemas,
"Tapi lo--"
Xena berdiri saat menegakkan tubuhnya tiba tiba rasa nyeri kembali menusuk dadanya sesaat.
"Akh!" Xena sedikit memukul dadanya beberapa kali lalu membuang nafas berat.
"Lo udah minum obat?" Ucap Raka berdiri disamping Xena.
"Belum"
"Na, gw udah bilang kan jangan pernah lewatin obat Lo"
"Minum pun gak buat gw sembuh, Ka" ucap Xena menggandeng Raka untuk pergi dari sana.
Namun Raka menghentikan langkahnya membuat Xena ikut berhenti dan menatap Raka heran.
"Lo gak boleh pergi!"
End?
KAMU SEDANG MEMBACA
SOULMATE
Fiksi UmumTentang Raka dan Xena, kisah dua sejoli yang mengaku sahabat namun entah bagaimana dunia menanggapinya. Persahabatan yang terlalu kental jika dikatakan sebagai 'sahabat'
