Prolog

11 2 0
                                        

Happy Reading





__________________________________

“TOLONG!” Teriaknya dengan napas yang terengah-engah. Gadis mungil ini mencoba pergi dan mencari jalan keluar dari bangunan tua yang sudah lama ditinggal ini. Di tengah gelapnya malam dan dengan pencahayaan yang minim, ia berusaha sekuat tenaga untuk berlari menjauhi tempat itu.

“Mama, Lia takut Ma..” Lirihnya dalam hati.

Keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya, tangisan pilu menemaninya berlari menandakan ia begitu takut dan panik karena tidak melihat tanda-tanda kehidupan di sini, seolah-olah ia sedang berada di kota mati. Sedari tadi ia sudah meminta pertolongan tapi tak ada satu pun yang mendengar atau pun datang menghampirinya. Ditambah dengan suara petir yang menggema di langit mendung, dan suasana yang mulai mencekam membuatnya semakin takut. Lama ia berlari, membuat tenaganya melemah. Mau tak mau ia harus berhenti dan bersembunyi di balik pohon kayu yang lumayan besar.

Tanpa ia sadari, seorang pria berdiri tepat di belakangnya dan berucap, “Kamu pikir, kamu bisa lari dari saya?” Mendengar suara itu membuat darahnya berdesir hebat, jantungnya pun berdegup kencang, keringat dingin pun keluar dari pelipisnya. Ia menoleh dan melihat wajah pria paruh baya yang tengah melemparkan senyum mematikan padanya.

DORR!!

“MAMA!” Napasnya memburu tak terkendali dengan pandangan yang buram. Mimpi itu, pria itu, kembali lagi menghantuinya. Sudah lama ia tidak mengalami mimpi buruk, tetapi entah mengapa beberapa hari terakhir ini mimpi buruk itu kembali lagi. Apakah ini pertanda bahwa akan ada sesuatu yang terjadi padanya?

Tunggu, Agrel memanggil Mama? Berharap apa dengannya? Bahkan untuk sekedar beradu tatap saja Sena enggan melakukannya. Agrel melupakan hal itu.

Merasa tenggorokannta kering, Agrel pun memutuskan keluar kamar untuk mengambil segelas air.

Hening, itulah yang ia rasakan di rumah megahnya saat ini. Brama dan Sena yang sama-sama sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing. Keduanya sama-sama memiliki peran penting dalam dunia bisnis. Brama bergelut di bidang persenjataan, sedangkan Sena bergelut di bidang teknologi.

Kedua Kakaknya, Axsyal dan Athan juga pergi bersama teman-temannya. Jarang sekali mereka berdiam diri di rumah. Terlebih Athan, ia sangat membenci Agrelia karena ia berpikir kalau Agrelia yang menyebabkan adiknya meninggal. Padahal, Agrelia juga tidak ingin hal buruk itu terjadi.

Memang hidupnya sangat berkecukupan, tapi tak pernah lagi ia rasakan kehangatan keluarga yang dulunya pernah ada. Yang ada kini hanyalah cacian, makian, bahkan kekerasan untuk dirinya. Tapi Agrelia masih bersyukur karena orang tuanya tidak menelantarkannya, mereka masih mau memenuhi apapun kebutuhannya.

Flashback On

Kebiasaan rutin di akhir minggu, keluarga Arnava memang selalu melakukan quality time di villa yang memang sudah atas kepemilikan mereka. Siapa saja pasti iri melihat keharmonisan dan kehangatan yang terjalin antara mereka. Memang benar-benar keluarga impian.

"Mamaa, aku boleh main di atas gak?"

"Boleh dong sayangg, tapi tunggu Kak Axsyal sama Kak Athan dulu ya." Ucap Sena kepada Agrelia kecil.

"Ah mereka lama Maa, aku duluan aja sama Alivi." Kekeuh Agrelia.

"Yaudah, tapi jagain adek ya sayang."

"Oke Ma!" Dengan antusias, Agrelia kecil mengajak adiknya berlari menuju kamarnya yang ada di lantai dua.

Agrelia pun langsung masuk ke dalam kamarnya dan melupakan Alivi yang sedang bersamanya. Dan yang namanya toddler pasti lagi aktif-aktifnya. Tanpa disadari, Alivi mendekati besi pembatas di lantai dua itu yang memang ada sedikit rongga, tapi jika anak seusia 3-4 tahun masih bisa lolos dari rongga tersebut.

Dengan beraninya, Alivi memasukkan kepalanya ke rongga besi tersebut tanpa tahu bahaya yang akan menimpanya.

BRAKK!

Sontak semua yang ada di ruang keluarga melihat ke arah bunyi tersebut yang tepat di depan mata kepala mereka sendiri.

"ALIVII!" Histeris Sena melihat putri bungsunya yang sudah bersimbah darah. Ya, Alivi jatuh dari atas lantai dua akibat keteledoran Agrelia.

Tubuh kecil itu terkulai tak bernyawa lagi. Tangisan dan jeritan mulai bersahutan atas kejadian naas ini. Yang dimana mereka harusnya bersenang-senang dan berbahagia, malah hal sebaliknya terjadi. Villa yang biasa menjadi tempat mereka tertawa, kini menjadi tempat kehilangan.

"YA ALLAH NAK, MASS INI GIMANA?! ALIVI MAS! D-DARAH!" Dengan penuh air mata, Sena mengambil tubuh kecil itu dan memeluknya.

Ibu mana yang tidak teriris hatinya melihat kondisi anaknya seperti ini.

Agrelia yang mendengar teriakan Sena langsung turun dan terpaku atas apa yang terjadi. Ia terdiam, Alivi tadi bersamanya, lantas mengapa Alivi bersimbah darah seperti itu?! Hal yang seharusnya tak pernah terjadi, kini menjadi mimpi terburuk yang pernah ada.

"INI SEMUA GARA-GARA KAMU LIA! KAMU BUNUH ADIK KAMU SENDIRI LIA!" Murka Sena sembari menatap tajam Agrelia.

"Kamu jahat Lia, Kakak benci kamu!" Sentak Athan, sedangkan Axsyal hanya bisa terdiam kaku.





















Tbc
☆☆☆
See u next part guys!
Jangan lupa vote and commentnya yaa
Makasii juga buat kalian yang udh mau mampir ke cerita ini💓
Stay terus bacanya sampai end ya🤗

UPEKSHAWo Geschichten leben. Entdecke jetzt