Bab 1: Debat

7 4 0
                                        

BATAM, 2019....

Aku, Leon, dan juga Rangga masih stay di rumah sakit sampai sekarang ini. Masih di posisi yang sama seperti saat aku dan Leon bertengkar, pada saat itu hati kami berdua sama-sama digoyangkan dan dibisikkan untuk mundur dan menyerah dengan perasaan yang ada di antara kami berdua.

Aku dan Rangga duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang rawat Leon, dengan tatapan mataku yang tampak khawatir. Aku membolak-balikkan cincin yang ada di jari manisku dan bergumam sendiri, tanpa mengajak bicara Rangga yang ada di sampingku.

Ploook!plook! Rangga menepuk tangan dua kali dengan keras.

"Ti, mengapa kamu melamun lagi sih? Masih mikirin soal Leon?" tanya Rangga dengan wajah gelisah.

Aku langsung tersadar dari lamunannya, tetapi wajahku tetap tidak bisa senyum, "Ah, iya. Gak kok, aku cuman lagi pikirin hal lain aja," balasku dengan lembut.

"Kamu gak usah bohong deh, Ti. Aku udah bisa lihat dari wajah kamu, kamu gak usah nyembunyiin apapun!"

Aku berusaha tersenyum kecil untuk menyakinkan Rangga, "Rang, kamu gak usah khawatir gitu dong! Aku kan baik-baik aja, ini aku cuman lagi mikirin Leon aja kok."

"Terserah kamu deh, Ti."

"Rang ...."

Pembicaraanku dan Rangga terhenti karena Leon tiba-tiba duduk di samping kiriku sambil mengeluh, "Ti, aku gak bisa stay di Batam." Wajah Leon tetap pucat.

Aku langsung menggenggam erat tangannya, "Leon, iya aku tahu kok. Aku lagi mikirin itu tadi, tetapi Rangga kira aku mikir macam-macam."

Rangga langsung minder karena aku langsung mengatakan dengan jujur, "Ah, Ti. Kok kamu jadi bilang gitu sih? Kan aku cuman khawatir aja, kalau kamu banyak melamun."

Tiba-tiba suasana yang tadinya ribut berubah menjadi hening seketika, entah karena hal apa yang baru saja terjadi. Leon menyandarkan kepalanya di atas bahuku, aku pun menggenggam erat tangan dinginnya.

Sedangkan Rangga tetap duduk diam di samping kananku sambil menatap ke lampu yang ada di atasnya.

Leon kembali duduk seperti biasa, tatapan matanya sangat serius, "Ti, aku serius! Aku harus ninggalin Batam, aku harus ninggalin keluargaku, dan aku juga harus ninggalin kamu sendirian," ucap Leon dengan cepat.

Aku bingung apa yang harus di jawab kepada Leon supaya aku tidak terlihat seperti sedang berusaha menyimpan perasaan sakit di dalam hati, "Leon, aku udah tahu kamu pasti bakal pergi ninggalin aku untuk berobat ke negara lain. Aku juga tahu kok kita bakal gak saling bertemu dan susah buat kontakan, tetapi aku tetap yakin kalau kita pasti bisa melewati ini semua sampai kapanpun itu," Aku berusaha meyakinkan hati dan juga Leon supaya tidak terlalu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi nanti.

"Bener sih apa yang kamu bilang, Ti. tetapi, waktu kalian pasti selalu berbenturan satu sama lain. Saat kamu sekolah, Leon pasti masih harus istirahat, begitu juga sebaliknya," Rangga menyela pembicaraan ku dan juga Leon.

"Iya, tetapi ini demi kesembuhan Leon juga," balasku dengan wajah serius pada Rangga.

Perdebatan pun di mulai lagi di antara kami bertiga, Leon mulai gelisah dengan dirinya yang harus meninggalkanku dengan waktu yang belum diketahui entah sampai kapan, dan juga Rangga yang tak setuju dengan pemikiranku yang menganggap semua ini dengan tenang-tenang saja.

"Aku ikhlas kok kamu ke sana, Leon. Karena di sana kamu kan harus berjuang melawan sakit kamu," ucapku sambil tersenyum lebar.

Leon membalas senyumannya, "Iya, Ti. tetapi aku masih khawatir, kita mungkin sama sekali tak bisa berkomunikasi," jawab Leon sambil membelai rambutku lembut.

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: Oct 22, 2023 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

L&M 2Histórias para pegar e não largar. Descubra agora