Prolog

136 4 3
                                        

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
Hai, ini adalah cerita pertamaku.
Jadi kalau ada tulisan atau kata-kata yang acak dan gak nyambung, juga tanda baca yang belum benar, mohon di maklumi. Karena aku juga masih belajar. Semoga kalian suka.

Happy reading

***

"Apa, dijodohin!" Seorang gadis yang sedang asik duduk sambil membaca buku tersentak kaget.

"Iya. Papa rasa, kamu sudah cukup untuk menikah." ujar Pria paruh baya yang baru tiba dan duduk di samping sang anak.

"Tapi, Pa. Aku baru wisuda beberapa minggu yang lalu, aku masih mau berkarir." jelas ia tidak terima, sekarang bukanlah zaman dahulu, yang masih menggunakan namanya perjodohan. Lagi pula, ia belum siap untuk itu semua.

"Papa tau yang terbaik untuk kamu, Nauren."

"Nauren belum siap Pa, Nauren mau mencari pengalaman dengan ilmu yang Nauren punya." tegasnya.

Elmira Nauren Aisyah.
Gadis berusia 21 tahun yang baru beberapa minggu lalu dinyatakan lulus S1 dengan gelar Sarjana Manajemen.
Gadis dengan kulit putih, dikenal sopan, penurut juga cerdas. Nauren memiliki sisi introvert yang membuatnya tidak mempunyai banyak teman, namun jika di keluarga ia menjadi gadis yang periang.

"Nauren, Papa sudah tua. Papa ingin melihat kamu memiliki pasangan yang tepat." jelas Khairan Naufal yang merupakan ayah dari  Nauren. Pria paruh baya itu merupakan pemilik PT Nudeflik industri. Memiliki sifat tegas dalam mendidik anak-anaknya. Setiap orang tua manapun pasti akan melakukan hal yang sama, ingin yang terbaik untuk sang anak.

"Kalau sudah waktunya, Nauren akan mencari pasangan yang sesuai dengan keinginan Nauren. Untuk sekarang, aku mau berkarir dulu, Pa." Berbagai bantahan dan alasan akan Nauren katakan, itu semua tepatnya sebuah kenyataan bukan alasan.

"Mama, tolongin Nauren. Bilang ke Papa kalau Nauren gak mau di jodohin, tolong Ma." dengan nada memelas, Nauren melirik sang Mama dan berharap bisa membantunya.

"Kamu ikuti aja kemauan Papa, Nauren. Mama yakin, itu keputusan terbaik. Papa juga gak mungkin menjodohkan kamu dengan laki-laki sembarangan." jawab Adiva arsyla, ibu dari Nauren.

"Nauren akan pertimbangkan." pasrah Nauren. Ia menarik nafas kasar, ini semua jauh dari ekspektasi nya. Bisa berkerja, mengembangkan karier bahkan melanjutkan kuliah hingga S2, sepertinya harapan itu akan pupus.

"Papa harap kamu setuju, karena ini menyangkut masa depan kamu. Supaya kamu gak jatuh ditangan yang salah."

"Nauren pamit ke kamar Ma, Pa." pamit Nauren yang bergegas naik tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

"Jangan lupa bersih bersih, setelahnya kita makan malam, Ren." seru Adiva.

"Iya, Ma." jawab Nauren sekenanya.

_


"Kamu jangan terlalu gila bekerja Athar. Ingat, umurmu sudah cukup untuk menikah." Yang di ajak bicara pun, hanya memutar kedua bola mata malas.

"Bisa gak sih, Pa. Jangan bahas nikah terus, aku bosen dengernya."

"Memangnya kenapa. Sampai saat ini pun, kamu belum pernah mengenalkan wanita manapun kepada Papa dan Mama."

"Karena aku belum mau menikah, Pa." Pandangan yang sedari tadi fokus pada laptop di hadapannya, kini ia alihkan seluruh perhatian itu kepada si lawan bicara.

"Lalu, kapan? Papa sudah tidak muda lagi, Athar. Temen-temen Papa sudah pada gendong cucu. Lagian apa yang kamu tunggu, kamu sudah cukup mapan, ilmu agama kamu juga cukup faham."

"Aku belum nemuin wanita yang sesuai dengan kriteria yang aku mau."

"Kamu aja yang kriterianya terlalu tinggi."

"Papa mau, punya menantu perempuan gak bener?" ujarnya kesal. Akhir-akhir ini masalah pasangan terus menerus di bahas, seolah ia adalah laki-laki paling menyedihkan yang tak mempunyai pasangan.

"Papa akan jodohin kamu!"

"Apaan sih, Pa. Aku masih muda, aku juga bisa kok cari wanita yang aku mau." keluhannya tak terima. Ia masih cukup muda, tampan, jabatannya? jangan di tanya. Cukup mapan untuk mendapatkan wanita manapun yang ia mau. Tapi tidak dengan perjodohan, Athar memang belum menemukan wanita yang menurutnya cocok, ia juga masih ingin menikmati semuanya.

"Tapi kapan Athar?" tanya ibrahim.

Ibrahim Wiratama, ayah dari Athar. Pemilik PT Netland Investment yang kini telah di ambil alih oleh Athar.

"Papa tunggu aja." jawab Athar enteng, berharap perbincangan ini akan cepat selesai. Malas sekali membahas hal ini.

Athar Hanan Wiratama.
Pria berusia 24 tahun itu merupakan CEO muda di PT Netland investment, pria tampan dikenal baik dengan sikap sedikit dingin.

"Dia anak temen Papa kamu, kami kenal dengan orang tuanya yang terpandang baik." jelas Nazia Khatera —Mama Athar.

"Terserah kalian aja." tak mau ambil pusing, Athar memilih untuk mengalah. Meskipun ragu, toh semuanya sudah di atur. Mungkin memang jalannya.

"Jadi kamu mau?" tanya Nazia memastikan.

"Hem." dehem Athar sebelum berlalu pergi.

***

To be continued

25 februari 2024

Revisi 07 September 2024

Cinta AbadiStories to obsess over. Discover now