Yang Tak Pernah Aku Siapkan

8 1 0
                                        


      

Aku selalu berpikir hidup itu tidak akan memberi aku kejutan aneh,apalagi dalam hal perasaan.
Aku sudah terlalu lama membentengi diri dari hal-hal seperti itu. Cinta, perhatian, kedekatan… semua kurasa hanya cerita orang lain, bukan ceritaku.

Sampai suatu hari, tanpa sengaja, aku membiarkan satu orang masuk.

Bukan karena dia paling baik.
Bukan karena dia paling sempurna.
Tapi karena entah kenapa… aku merasa aman.

Aman buat bercerita.
Aman buat ketawa.
Aman buat nangis kayak anak kecil tanpa takut dihakimi.

Dan yang paling aneh adalah:
dia tidak melakukan apa-apa untuk membuatku jatuh,tapi aku tetap jatuh juga.

Awalnya aku cuma bilang pada diri sendiri: “temenan aja, jangan lebih.”
Tapi hati manusia bukan kontrak kerja.
Ia berubah, tumbuh, melebar, lalu menuntut hal-hal yang tidak pernah aku minta sebelumnya.

Lalu hubungannya berjalan.
Naik sedikit, turun banyak,tapi aku tetap bertahan.
Karena setiap kali aku hampir pergi, dia muncul lagi dengan hal-hal kecil yang membuat aku berharap.

Tapi malam-malam belakangan ini… harapan itu berubah jadi beban.
Aku jadi sering deg-degan tanpa alasan.
Sering sesak cuma karena dia diam terlalu lama.
Sering ngerasa kosong padahal aku sedang dikelilingi banyak orang.

Dan rasanya menyakitkan ketika seseorang yang dulu membuatku merasa aman… kini jadi orang yang membuatku paling gelisah.

Hari ini, aku berdiri di depan cermin.
Mataku sembab, nafasku masih terasa berat, tapi tiba-tiba ada satu kalimat yang keluar dari mulutku sendiri:

“Kayaknya aku harus pamit dari cerita ini.”

Pamit bukan karena aku berhenti sayang.
Pamit karena aku akhirnya sadar:
yang aku kejar bukan lagi orangnya tapi validasi yang tidak pernah benar-benar dia kasih.

Aku menarik napas, panjang dan gemetar.
Ini bukan keputusan yang mudah.
Karena jujur, aku masih suka sama dia.
Aku masih nunggu nama dia muncul di layar hp.
Aku masih berharap dia nyari aku.

Tapi kalau terus begini…
hatiku akan habis sebelum waktunya.

Jadi malam ini, untuk pertama kalinya, aku memilih diriku sendiri.

Dan dengan perlahan, tapi tegas, aku bisikkan pada diri sendiri:

“Mulai sekarang, aku pamit dari cerita yang gak mau menuliskan aku di dalamnya.”

AKU PAMIT DARI CERITA INIStories to obsess over. Discover now