"Bagaimana dengan penawaranku?"
Aku menatapnya sinis–penuh dengan hardikan di dalam kepala, mengumpatinya dengan ratusan perkataan buruk yang ada di dunia ini dalam hati, kemudian menyumpah serapahinya dalam setiap napas yang terbuang.
Apakah pantas seorang paman ingin menjual keponakannya kepada pria tua haus akan napsu? Pantaskah beliau dengan gamlang dan jelas ingin menjual kehormatan dari seorang gadis yang seharusnya memiliki tempat layaknya darah dagingnya sendiri?
Dia adalah adik ayahku, dalam darahku mengalir darahnya, kami memiliki jenis darah yang sama. Dia adalah keluargaku, tempat ternyaman di mana kita dapat berlindung dari kerasnya kehidupan, katanya. Lantas, jika rumah tak lagi ramah, juga saudara tak lagi sedarah, ke mana lagi seharusnya aku meminta keadilan?
"Maka penawaranku juga seharusnya sudah disetujui."
Aku memang penggemar aksiomatis, pria tua renta di depanku ini menawar kehidupanku berselimutkan sebuah karya. Memang, aku ini buruh seni, orang-orang memandang kami hanya sebagai sekumpulan sampah, manusia tidak berdaya hingga harus menjajakan diri demi kertas yang tidak ada nilai gunanya.
Tetapi satu hal yang mereka lupa, kami juga sama seperti mereka, kita masih satu kawanan. Tentu saja! Hidup hanya mengenai siapa yang paling lama bertahan, hukum alam saja tidak cukup dijadikan patokan. Kenyataan yang sesungguhnya adalah barang siapa yang memiliki kuasa maka dia yang bertakhta.
"Pamanmu ini bisa memberikan apa saja yang kamu inginkan. Termasuk menundukkan pria parlemen beserta jajarannya."
Bedebah!
Aku bukan Tara–putri sulungnya yang menilai ketulusan dengan keuntungan. Aku Shea! Orang-orang bilang, sejak awal aku memang terlahir dari keluarga yang gila. Jika aku harus menggunakan warisan keluarga, maka pada saat ini sungguh, aku ingin menyeretnya dalam hunian nereka. Dia meminta kematianku, maka aku akan menariknya bersamaku. Kita akan menghadapi tuhan di lautan siksa bersama.
"Apa paman baru saja meminum obat penambah stamina? Kenapa aku merasa jika paman sangat bersemangat hari ini? Oh, apa karena ada janji temu dengan Clara? Aku lihat, tante baru-baru ini jadi sering mengunjungi cafe milik Jendral."
Mereka bilang kami ini pelacur, wanita penggoda dan kupu-kupu malam. Sebagian penduduk dalam sebuah wilayah bahkan menamai kami dengan sebutan 'gundik' artinya kami ini tidak memiliki tempat dalam masyarakat dan dunia ini.
Beberapa ibu dari laki-laki terhormat bahkan selalu memandang dengan sebelah mata, melarang keras jika sumber kebanggaannya menyapa kami. Ibarat bunga, kami ini sudah layu dan kehilangan sarinya hingga setiap bertatap muka, kata pertama yang keluar adalah;
Berapa hargamu dalam semalam?
Berapa laki-laki yang sudah menggilirmu?
Berapa uang yang kamu butuhkan?
Sekali lagi, Stereotip itu kembali memeluk kami–pekerja seni dengan kain hitam tebalnya.
"Pelacur kecil, mirip sekali dengan ibumu. Pantas saja kakakku Raditya rela kehilangan warisan dan jabatan dalam keluarga, sepertinya kini aku tahu, itu karena Ayesha bermulut manis. Pikirkan kembali tawaranku."
Lalu apa? Meski pengerat ini mencoba untuk menghindar, predator selalu tahu bagaimana menjerat dan menjebak korbannya hingga terperangkap. Dia mencoba untuk mengurungku dan menguburku hidup-hidup dalam dunia gelapnya.
Tidak! Aku tidak akan menyerah!
Aku tertawa, air mata mengalir dari kedua sudut mataku, sejalan dengan otot wajah dan perut yang mengetat. Getaran hebat tercipta, hingga bahu dan aksesoris yang aku kenakan bergerak seirama. Pria tua renta itu memang sudah pergi, tetapi entah kenapa aku merasa jika jejaknya masih terus mengawasiku.
"Sura kamu baik-baik saja?"
Tentu, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin tertawa tidak tahu karena apa?
Lihat, aku sudah bilang jika tidak akan ada tempat untuk pendosa.
Kamu adalah kesalahan, pantas jika hidupmu tidak akan pernah dihargai.
Wanita kotor!
Anak haram!
"Akh!"
Kenapa terjadi lagi? Mereka datang, bahkan jumlahnya lebih banyak. Mereka mengolokku, menertawakanku dan ingin membunuhku.
Aku berteriak, aku menangis dan aku membanting setiap benda yang ada di sekitarku hingga menimbulkan bunyi yang keras.
Telingaku penuh dengan bisikan orang-orang yang menghujat, sebagian justru menyalahkan aku dan menudingku dengan tatapan yang menjijikkan.
Kepalaku pening, mereka menyerangku secara bersamaan, rasanya aku ingin mati!
"Tidak! Pergi kalian!"
Aku menarik rambutku kuat, dunia ini ingin menelanku hidup-hidup.
Mati, kamu harus mati.
"Sura! Ya ampun, tenanglah. Di mana obatmu?"
Aku ketakutan, perasaan ini, orang-orang itu, seolah mereka mampu untuk mencabut dan membawa jiwaku pergi. Mereka adalah iblis! Mereka ingin aku menemui ajalku dengan cepat, mereka ingin tubuhku hancur menjadi potongan-potongan kecil, mereka ingin aku musnah!
"Aku akan menghubungi Jendral, aku mohon bertahanlah Sura."
Tidak bisa! Aku tidak bisa!
Ayo Shea, ikutlah bersama kami ...
Shea, kemarilah dan kami akan memberikan pelukan paling hangat.
Manusia tidak memiliki perasaan, terkadang hati mereka lebih kejam dari iblis, pemikirannya lebih jahat dari setan dan tindakannya percis seperti pendosa. Kami menyayangimu Shea.
Anakku, kembalilah kepada kami. Mereka tidak menyayangimu, berapa lama lagi kamu ingin bertahan?
Aku melihatnya lagi, dia adalah wanita paruh baya yang selalu menemaniku ketika aku masih kecil. Mengajariku cara berbicara, menulis dan banyak hal-hal baru yang tidak aku dapatkan dari ibu kandungku sendiri.
Dia ibuku, ibu yang selalu memelukku dan membacakan aku cerita. Terkadang kami sama-sama meniup lilin ulang tahun, bermain, tertawa dan menangis bersama.
Lebih dari itu, dia memahami diriku. Memahami apa yang aku rasakan tanpa harus aku katakan, dia juga orang pertama yang mengetahui rahasia kecilku.
Shea, sudah lama kita tidak bertemu. Kamu melupakan ibu sayang, laki-laki itu rupanya sudah mengambil seluruh tempat dan porsi ibu dalam hidupmu. Apa memang nasib seorang ibu harus berakhir menyedihkan seperti ini?
Ibu melepasmu pergi bersama laki-laki yang kamu cintai, ibu bahagia melihatmu bahagia. Lalu, apa pernah sedikit saja kamu memikirkan kebahagiaan ibu? Ibu kesepian dan kamu tertawa riang bersama laki-laki itu.
Shea, peluk ibu sayang dan kita akan kembali seperti dulu. Laki-laki itu tidak mencintaimu sebesar ibu mencintaimu.
Kemarilah sayang, putriku Shea.
"Sura!"
Kepalaku pening, pandanganku mulai mengabur, aku dapat melihat darah mengalir dari pergelangan tanganku. Perih, dingin dan gelap. Namun luka itu setidaknya membawa damai hatiku. Aku tenang dan senang.
Putrimu datang padamu lagi,Bu. Aku berharap ibu masih mau menerimaku kembali dan maaf untuk waktu-waktu sulit yang sudah ibu lalui tanpa Shea.
Ps: Give ur opinion in comment💕
Lot of peach
Grá Moed
YOU ARE READING
Hipokrit Cinta
RomanceKepada : Ren Aku memang sangat mencintaimu, melebihi kadar cinta alam semesta terhadap umatnya. Tetapi cinta itu sejatinya hanya mengenai ribuan pemikiran skeptis dan perilaku hipokrit. Aku meragu, bagaimana bisa laki-laki tampan dan masih waras men...
