Terik matahari membakar kulit mulus milik seorang gadis cantik yang sedang berdiri mendongak menghadap tiang bendera. Dia sedang mendapat hukuman dari sang guru, karena ia sengaja membolos di jam upacara bendera sekolahnya.
Tampak dari wajahnya yang cantik ada raut lelah yang terpancar.
"Udahan dong, bu. Saya kan gak sengaja bolos." Lirih dari bibir pucatnya
"Mana ada orang yang gak sengaja bolos tapi kabur, Azkia." Sinis sang guru perempuan dengan rambut di tata rapi ke belakang.
"Anak anak PMR juga gak ikut upacara tuh, bu. Kok gak dihukum sihhhh." Gadis yang dipanggil Azkia itu memasang wajah jengah sembari menendang nendang batu didepannya.
"Ya, kan mereka emang ditugasin buat jaga yang upacara. Kalo kamu mau, kenapa gak masuk PMR aja dulu. Ini malah sok sokan ikut OSIS, kek mampu aja." Sindir sang guru sambari mengetuk ngetuk kaki Azkia yang tidak tegap.
"Buuuu, saya belum sarapan lho. Muka saya pasti udah pucet banget, mna diperhatiin satu sekolah lagi."
Yaap sekarang anak anak dari kelas 10 sampai kelas 12 sedang memperhatikan dirinya sembari menahan tawa, liat saja nanti akan Azkia balas.
"Ok udah 30 menit, sekarang hukuman kamu selesai, tapi ingat jangan diulangi lagi." Jawab Bu Dinda setelah menatap jam tangannya.
"Makasih..... Ibu Dinda yang cantik, imut, lucuuu. Saya doain jodohnya Park Hyun Sik." Pernyataan bu Dinda tadi sukses membuat mual dan lemas yang diderita Azkia lenyap begitu saja.
Minervina Azkia Oleena, siswi kelas 12 IPA 1 yang menjadi bulan-bulanan guru BK itu segera berlari menuju kantin, sekarang memang belum jam istirahat tapi ia tidak bisa masuk kelas karena hukuman dari sang guru mapel.
Saat masuk area kantin, ia melihat teman sekelasnya. Savian Altezza, ketua OSIS galak yang selalu mengusik hidupnya.
"Ini mah bukan hukuaman, tapi jam istirahat tambahan." Sindir Savian
"Biarin, lo juga ngapain disini? Bukannya sekarang masih jam pelajaran, atau jangan-jangan lo sengaja bolos yaaa!"cerca Azkia tak mau kalah.
"Ketua OSIS gak guna." Gumamnya pelan
"Gue gak kayak lo, ya. Gue bisa keluar kelas lebih awal karena pintar bukan bandel." Savian mengatakan itu seraya mengangkat dagu tinggi, ingin memperjelas bahwa ia lebih pintar dibandingkan gadis nakal di depannya.
Savian memang diperbolehkan keluar karena ia telah menyelesaikan ulangan harian dari guru sejarah nya.
Azkia menepuk keningnya seraya meringis kesal.
"Mampus, gue lupa kalo hari ini ulangan."
"Ntar lo disuruh pak Adam buat ke ruangannya, ulangan susulan. Lain kali jangan bikin susah hidup sendiri, udah tau bego malah buat masalah."
"Diem deh, lo. Gue mau belajar." Azkia mengatakan itu sembari mengangkat tangannya keudara, tanda bahwa Savian memang benar benar harus berhenti bicara.
Savian hanya mengangkat bahu acuh dan kembali memusatkan perhatiannya pada minuman yang ia beli tadi.
Sementara itu Azkia yang tengah fokus pada buku catatannya sesekali meringis melihat halaman yang ia kosongkan. CATATAN BUKUNYA TIDAK LENGKAP.
Ia melirik Savian dengan tatapan malas. Sekarang ia harus meminta bantuan pada 'harapan' satu satunya.
"Sapi!" panggil Azkia dengan menaikan nadanya. Melihat tidak ada respon dari yang bersangkutan Azkia menghela nafas, dia kesal tapi sekarang bukan saat yang tepat untuk bertengkar dia membutuhkan Savian.
"Saviaaaan!" Panggil nya lagi, dan sekarang ia mengguncang lengan Savian agar si empu sadar sedang di panggil.
"Kenapa, sih?" Tanya Savian malas.
YOU ARE READING
AFTER 17
Teen FictionBagai mana jika orang yang paling kau benci di hidupmu menjadi orang yang paling kau butuhkan esok hari? Menjadi orang yang paling kau cari? Menjadi orang yang mengisi hari hari mu? Hal itu yang kini terjadi kepada Minerva Azkia Oleena. Hidupnya di...
