pertemuan pertama

14 2 1
                                        

Semua ini berawal dari.. kejadian dimana masa pbak, dan saat itu adalah hari pertama ospek, aku dengan santai berjalan menuju lapangan mencari anggota kelompok yang lain.

Entah kenal atau tidak, yang penting aku bergabung dulu dengan mereka, bagaimanapun, aku ini harus mementingkan diri sendiri dan mencari kelompok yang ditetapkan, baru berkenalan.

Aku tidak menemukan anggota kelompokku, entah dimana mereka berbaris, atau dimana satu orang saja yang sekiranya mirip dengan salah satu anggota kelompokku yang wajahnya kulihat dari foto profil wa miliknya.

Puk

Merasakan tepukan di bahu kecilku, aku menoleh dan refleks mendongakkan kepalaku, melihat seorang laki-laki tinggi, berkacamata dan kulit sawo matang.

Tampan dan manis, tapi memiliki ekspresi wajah yang kaku dan cuek, pria didepanku menatapku, tidak menundukkan kepalanya, hanya lirikan matanya, tapi cukup membuatku merasa rendah.

Aku kesal dan kemudian memilih untuk bicara lebih dulu, masih mempertahankan kesopananku, karena mungkin dia adalah seorang senior kampus.

"Maaf, ada apa ya kak?" Aku bertanya dengan nada sopan dan sedikit penekanan, ayolah tatapannya itu benar-benar menjengkelkan, aku bukanlah serangga kecil yang harus ditatap serendah itu, dasar hama tinggi.

"Kau anggota kelompok berapa?" Kakak itu berbicara, suaranya dalam dan sedikit berat, apa dia baru bangun tidur? Hm, mungkin saja, aku akan anggap begitu.

"Aku kelompok 45 kak, eum..kakak ini kakak pendamping kelompok 45 kah?" Aku bertanya, dan menatap kakak tingkat itu dengan tatapan hormat, tapi berbeda dalam batinku, aku mengutuknya, berharap semoga dia bukanlah kakak pendamping kelompokku.

Dan ternyata benar-

"Hm, iya, saya yang jadi kakak pendamping kelompok 45, yang lainnya sudah menunggu tuh dilapangan, kenapa kamu ga kesana? Main-main kamu disaat ospek gini?"

Oh, perkataan yang panjang dan tajam itu benar-benar sangat menyebalkan! Apa-apaan bahasa formal itu, aku hanya bisa tersenyum kaku dan mengangguk kecil, mengikuti langkah lebar kakak laki-laki itu, menemui banyak anggota kelompok yang lain, mereka sudah membuat circle ternyata.

Aku terlambat membentuk circle ku sendiri.

Aku pasrah dan kemudian berdiri disebelah seorang laki-laki tinggi yang wajahnya juga sama seperti kakak yang tadi, bedanya yang ini tersenyum manis, wajahnya antara tampan dan manis, sedikit tegas juga, tidak pakai kacamata, dan sangat tinggi.

Aku bahkan, hanya setinggi ketiaknya.

"Kau..siapa namamu? Aku Elena, aku belum punya teman" aku mencoba untuk mengajak bicara, setidaknya aku ingin mencari teman.

"Aku Khalik, dari fakultas FISIP jurusan ilmu komunikasi, kau sendiri dari fakultas mana?" Oke, haruskah aku tersipu melihat rupanya yang menawan dan senyumannya yang manis? Tapi tidak, aku tidak mengerti banyak soal cinta dan suka.

"Aku juga dari fakultas FISIP! Aku juga jurusan ilmu komunikasi... Hehe kita bisa jadi teman nih" aku bicara seadanya dan kembali menatap kedepan, melihat sosok tinggi berkacamata dan kulit sawo matang, kakak yang tadi.

"Uhm.. Khalik, kakak yang disana itu..apa dia adalah saudaramu? Kalian mirip" aku iseng bertanya dan menoleh pada Khalik, astaga.. kenapa dia tersenyum semanis itu! Aku kan lemah pada wajah tampan!.

Khalik, tersenyum dan menatapku teduh, aku baper sedikit jujur, dan detik berikutnya ekspresi wajahku kaku saat Khalik mengangguk, "iya, dia abangku, dah semester 5 sih katanya, satu fakultas sama kita juga, beda jurusan dia, dia ilmu politik"

Aku tertunduk lesu, jadi mereka saudara, aku tidak bisa percaya, adiknya yang meneduhkan dan manis, memiliki kakak laki-laki yang kaku dan dingin. Huh menjengkelkan, aku kemudian sedikit melirik kearah kakak laki-laki itu.

Dan apa-apaan ini? Kenapa dia menatapku tajam? Aku kan hanya mencari teman, bukan mencari musuh..aku segera memalingkan wajahku kearah lain, berusaha untuk tidak menatap kakak itu, takut.

"Kalian semua hari ini kegiatan kita nanti adalah masuk ke gedung academic center dan mendengar materi dari dekan dan juga tamu undangan, harus didengar dan dipelajari!" Seorang kakak pendamping yang lain, temannya kakak tadi, langsung bersuara tegas, dan sialnya aku ini didepannya, telingaku berdenging karena mendengar suaranya itu.

Kuperhatikan kakak pendamping yang ini, dia adalah laki-laki yang memiliki aura yang menenangkan, tapi aku bisa meyakini satu hal, dia friendly. Sifat yang bagus, tapi aku rasa dia ini tidak cocok untuk dijadikan pacar, karena sifat friendly itu bisa saja menjadi malapetaka.

"Baik kak!" Kami menjawab serempak, dan kemudian aku mulai mengikuti rombongan kelompok yang berjalan menuju gedung ac itu, memuakkan sekali, kenapa anak anggota kelompok sebelah terus menatapku tajam!? Apalagi para wanita.

"Huh ngeselin banget sih" eh? Apa tadi? Dia ngomongin aku? Ah terserahlah aku tidak peduli, terserah mereka ingin menghinaku atau membicarakan aku, yang terpenting adalah saat ini aku mencari teman, menjalani kehidupan seperti biasanya, tidak banyak bicara dan lulus.

Setelah itu aku masuk kedalam gedung dan..agak sedikit kecewa, karena kupikir gedung itu akan memiliki kursi untuk kami duduk, ternyata kami harus duduk lesehan? Yah aku hanya bisa pasrah dan duduk di barisan yang tersediakan, khusus untuk calon mahasiswi dibarisan kiri dan calon mahasiswa dibarisan kanan.

Aku celingak-celinguk seperti orang linglung dan hanya diam, tidak ada yang berani menatapku, aku bingung tapi aku sudah tau kenapa mereka menghindari tatapan mataku.

Salahkan wajahku yang memancarkan aura antagonis, aku adalah seorang perempuan dengan alis tebal yang menukik tajam, mata siren dengan bulu mata panjang dan sudut mata yang tajam dan.. haruskah aku katakan juga? Aku punya hidung mancung dan bibir yang berisi namun tidak tebal, ah terlalu rinci.

Seorang perempuan yang duduk disebelahku, dari kelompok lain dan terlihat ramah, dia menatapku juga dan tersenyum, oh itu adalah senyuman saat seseorang merasa kikuk.

"Aku Elena, kau siapa? Dari fakultas apa? Jurusan mana?" Oke aku biasanya akan seperti ini hanya ketika aku yakin bahwa pada akhirnya kami akan jarang bertemu, jadi aku berikan kesan sebagai anak ramah saja.

"Aku.."



Oke ini bab pertama, jadi semoga kalian suka dan baboii.

MADRASA (Menemani Dia yang Tidak Ada Rasa)Stories to obsess over. Discover now