Prolog

20 1 0
                                        

Awan hitam diatas langit sana seperti menandakan jika hujan besar akan menerpa diwilayah ini membuat laki-laki yang duduk di halte menunggu bus datang itu menghela napas

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Awan hitam diatas langit sana seperti menandakan jika hujan besar akan menerpa diwilayah ini membuat laki-laki yang duduk di halte menunggu bus datang itu menghela napas. Perjalanan yang panjang dengan kondisi cuaca yang buruk bukanlah sesuatu yang baik. Namun apalah daya, hujan adalah rahmat yang Allah Azza wa Jalla turunkan untuk kehidupan makhluk-makhluk ciptaan-Nya di dunia. Sudah seharusnya dia bersyukur. Tapi tetap saja, sebagian hatinya berontak jika hujan kali ini datang pada waktu yang kurang tepat. Bukannya takut, dia lebih sering over thingking.

"Mas, lagi nunggu bus juga?"

Pertanyaan dari seseorang disampingnya yang baru saja duduk membuatnya menoleh dan terkejut mendapati seorang gadis tersenyum kearahnya yang tak lama kemudian dirinya langsung menunduk.

Dirinya kemudian sedikit menggeser posisi duduknya agar menciptakan jarak diantara keduanya yang gadis itu pun mengikuti gerakannya ikut menjauhkan tubuhnya seperti paham akan maksudnya.

"Maaf." ucap gadis itu sesal.

Laki-laki tadi mendongak, sekilas menatap kembali wajah gadis itu lalu mengangguk.

"Mas Ahmad lagi libur, ya? Sama dong! Aku juga mau balik ini, bareng ya nanti. Untung ketemu sama Mas, soalnya ini pertama kalinya aku naik bus." keluh gadis itu menghela napas lega.

"Tadi tuh ya, hampir aja aku kecopetan disini. Pas tadi cocokin tiket di loket, eh ada anak kecil usianya sekitar 10 tahunan lah yang mau ambil tasku. Miris banget nggak sih Mas, anak kecil loh itu tapi udah diajarin kayak gini. Aku yakin sih, mereka kayak gitu karena dipaksa buat lakuin hal nggak baik kayak gini. Padahal usia mereka itu lagi masa-masa belajar, tapi malah diajarin hal yang nggak baik."

"Terus..."

"Kuliah dimana?" potong Ahmad cepat karena paham jika gadis disampingnya itu tak akan berhenti bicara. Bukannya tak ingin mendengarkan, tapi karena disini ramai dan rasanya tak tepat.

"Hah?! Ohh ... aku kuliah di Universitas Cakrawala. Maaf ya Mas, aku cerewet banget pasti, ya?"

"Enggak. Udah semester berapa?" tanya Ahmad kembali.

"Aku udah mau masuk semester 5, ngebut skripsi sih saat ini biar cepat lulus karena nggak mau lama-lama kuliah." kekeh gadis itu menjawabnya.

"Kenapa?"

"Semakin lama bakal semakin memberatkan orang tua aku, Mas. Secara aku kuliah di universitas swasta yang artinya biaya selama pendidikan nggak main-main. Bahkan aku sampai nggak punya teman karena selalu sibuk bikin dosen senang, nggak bisa main kayak yang lain. Capek sih, tapi prinsip aku main itu bisa ditunda dulu tapi membuat bahagia orang tua dan membanggakan atas usaha mereka membesarkan aku itu yang paling utama, aku nggak mau menyianyiakan kerja keras mereka untuk mensukseskan anak-anaknya."

"Kamu hebat."

"Hah? Apa Mas, aku nggak dengar." seru gadis itu karena suara Ahmad terhalang oleh suara bus yang berhenti didepan mereka.

NoteWhere stories live. Discover now