Kematian Pertama

15 1 0
                                        

Baunya seperti padang dengan rumput yang baru saja dipotong, segar dan hijau. Menapak pada tangga-tangga kecil yang berada di dekat kolam, rasanya kaki tidak terlalu benar dalam berjalan mendekat ke arah pintu rumah. Tangan gadis itu saling menaut dan tidak berani untuk sekalipun mengadahkan wajah. Pipinya kemerahan karena dingin dengan kain tipis kaos kebesaran dan celana panjang training membalut tubuh kurusnya. Bawah matanya kehitaman dengan kelopak yang membesar di keduanya. Memberikan kejelasan bahwa keadaannya tidak baik.

Satu laki-laki berjas berdiri di depan pintu pualam putih yang besar. Menghadap laki-laki berjas lain dengan telinga tersumbat alat intercomm. Lain marmer coklat menampilkan bayangan yang jelas bagaimana wajah gadis itu menunduk. Belum berani untuk menegakkan bahunya. Terdengar cukup keras pintu dibuka, seseorang berdiri disana dari pantulan lantainya, laki-laki berjas yang lain. Beberapa orang terdengar berbincang di dalam rumah besar itu. Hingga akhirnya namanya mulai didengar untuk segera masuk.

Masuk ke dalam rumah sebesar langit, dengan lantai sedingin salju dan tatapan garang yang mengelilingi tubuhnya.

Gadis itu menurut untuk terus berjalan, dengan sepatu sudah dilepas di luar rumah. Telapaknya merasakan dingin, menekuk seluruh jarinya untuk terus berjalan perlahan. Belum juga Anna berani untuk mengangkat kepalanya. Kalimat-kalimat buruk terus berputar di dalam kepalanya. Seingatnya malam sebelumnya dia meringkuk ke kasur tipis di kontrakan satu petaknya menahan lapar. Malam ini dia dipaksa keluar dan benar-benar dituntun untuk berjalan jauh dari tempat istirahatnya. Tengkuknya bisa merasa betapa takutnya sudah menjalar ke seluruh jaringan tubuhnya.

"Im Anna?" Suara dalam dan berat membuatnya mendongak. Berdiri di dalam ruangan sebesar seperempat lapangan sepak bola. Duduk di tengah ruangan seorang laki-laki lebih tua darinya beranjak dari singgasananya untuk mendekat pada Anna yang mencoba untuk menyembunyikan gemetar jari-jarinya. "Kalian bisa keluar. Aku harus berbicara dengan gadis ini berdua."

Anna tahu kepala laki-laki berjas yang tadi mengantarnya menunduk dalam sekali sebelum berjalan tertib keluar dari ruangan. Menutup pintu cukup pelan dan meninggalkan gadis ketakutan itu sendiri. Kepalanya kembali menunduk menatap dua kakinya  yang telanjang.

Cukup lama tidak ada suara yang terdengar dari telinganya. Namun seluruh inderanya tahu bahwa saat ini, laki-laki tadi sedang menatapnya tajam. Entah apa yang dia lakukan, namun pandangan tajam benar-benar menusuk tengkuk, menjalar ketakutan dalam diam, tidak bisa berhenti untuk memijat jari-jari kurusnya.

"Aku bisa membunuhmu malam ini. Jadi katakan padaku, dimana rekaman yang si jalang itu sembunyikan?"

Si Jalang.

Tidak mengerti atas pertanyaan itu, Anna mencoba untuk mendongak, menjajari pandangan tajam dari pria berjas dengan raut marah itu. Mereka hanya berjarak beberapa meter. Anna tahu dari raut itu, tersimpan begitu banyak amarah, mungkin ditujukan padanya atau jalang yang tadi disebutnya.

"Aku tidak ingin membuang waktuku pada jalang lainnya disini, jadi katakan padaku dimana rekaman itu?" Tangannya dengan pelan melipat lengan kemejanya, kanan lalu kiri sampai sebatas siku sebelum membuka jasnya dan mendekatkan diri ke Anna yang masih berdiri kebingungan. "KAU MEMBUANG WAKTUKU!"

plak

Satu tamparan keras mengenai pipi kanan Anna. Rasanya nyeri secara cepat. Panas yang menjalar ke seluruh bagian pipinya. Matanya berkedut, berdenyut dari serangan yang benar-benar tak terprediksi. Tamparan keras itu bahkan menolehkan kepala Anna, menggerakkan dengan cepat rambut-rambutnya. Menutup setengah dari wajah kaget perempuan yang dengan jari gemeter memegang bekas tamparan.

"S-saya tidak mengerti.." Suaranya pelan, perlahan dengan mata masih membelalak kaget. Ketakutan mulai menambah pada tubuhnya, naik ke kepala. Berdenyut tak karuan dia mencoba untuk tidak limbung. "Apa- apa yang harus Saya tahu, T-tuan?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 27, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CrevasseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang