02 • Tangguh

8.4K 186 3
                                    

Setelah kejadian itu, Aku dan Mas Tangguh saling bertukar kontak. Kita berdua semakin dekat setiap harinya. Bahkan aku kini terbiasa memanggilnya Mas dan dia terbiasa memanggilku Erwin.

Terkadang di waktu pulang kerja. Kita menyempatkan untuk pulang bersama, bahkan kita berdua menyempatkan untuk melakukan sexs kilat di kantornya.

Karena aku mulai nyaman dengannya, begitu pula dia. Aku memutuskan ingin memiliki hubungan serius dengannya dan menjadikannya pacarku. Tetapi aku bingung kapan aku harus mengungkapkan perasaanku padanya. Aku juga ingin sekali membawanya pulang ke rumah dan bersenggama dengan Mas Tangguh di rumahku. Namun apa daya, ada istri dan anakku di rumah.

Singkat cerita, aku pun menemukan momen yang pas untuk menembak Mas Tangguh dan mengajaknya ke rumah untuk melakukan seks. Momen ini dimana mertuaku sedang sakit keras, alhasil selama satu minggu istri dan anakku pergi ke rumah mertuaku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Seperti biasanya kita berdua pulang kantor bersama.

"Mas, malam ini free?" Tanyaku ragu.

"Free, emang kenapa?"

"Gini, aku mau ajak Mas Tangguh jalan-jalan. Mau?"

"Mau, nanti ketemuan dimana?" Tanyanya balik.

"Hmmm...Mall Taman Anggrek gimana?"

"Okay."

Hatiku menjerit bahagia ketika Mas Tangguh menerima ajakanku. Kita berdua pun segera bergegas pulang ke rumah masing-masing.

Aku akan tampil semenarik mungkin di hadapan Mas Tangguh. Aku bersihkan badanku dan aku pilih kaos dengan celana jeans sebagai outfit ku kali ini. Tak lupa aku pun menyemprotkan minyak wangi supaya tubuhku harum.

Dengan penuh semangat aku pergi ke Mall Taman Anggrek dan menunggu kehadiran malaikat tampanku, Mas Tangguh.

Aku menelan air ludah ketika melihat penampilan Mas Tangguh. Kaos hitam ketat membalut tubuhnya yg kekar nan sexy itu. Dia terlihat lebih menggoda dan dalam benakku aku ingin segera menghujamkan penisku ke dalam anusnya berulang kali.

Setelah bertemu, kita berdua berkeliling mencari kedai kopi, karena kita berdua juga penikmat kopi.

Aku berulang kali membetulkan posisi penisku yang tegang maksimal akibat melihat penampilan Mas Tangguh yang menggoda.

Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Aku bingung harus berkata apa untuk mengajaknya menginap di rumahku. Aku takut dia akan menolaknya.

Alhasil aku mengurungkan niat untuk mengajaknya menginap di rumah. Sebenarnya aku masih sangat ingin bersamanya hingga larut malam, dan menghabiskan waktuku untuk menyetubuhinya.

"Ke hotel yuk! Dari tadi Mas perhatikan penis kamu tegang maksimal. Lagi pula Mas juga pengen habisin malam ini sama penis kamu, Win."

"Kalau di rumah aku mau gak Mas?"

"Kalau rumah kamu sepi, Mas mau," Balasnya dengan menghampiriku dan mendekatkan pantatnya pada gundukan penisku. "Kamu tahu, dari tadi lubang anus Mas berdenyut-denyut karena melihat penis kamu yang sudah tegang."

Tanpa basa-basi kita berdua langsung tancap gas ke rumahku. Beruntung saja halaman parkirku cukup muat untuk memarkirkan mobil kita berdua.

Setelah turun dari mobil, aku dan Mas Tangguh masuk ke dalam rumahku yang lumayan besar dan Mas Tangguh segera duduk pada kursi sofa di ruang tamuku.

Seketika itu pikiranku melayang-layang membayangkan seandainya aku dan Mas Tangguh melakukan seks di sofa ruang tamu.

Terus terang saja, selama tadi minum kopi bersamanya aku selalu horny jika mendengar suara dari Mas Tangguh dan tubuh kekar nya itu selalu membuat penisku berdenyut-denyut ingin segera dihimpit oleh anusnya.

Bottom Tangguh Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang