03 • Tangguh

7.8K 163 3
                                    

Sekitar satu bulan lamanya aku dan Mas Tangguh sudah menjalin hubungan. Selama itu juga tiap malamku diisi oleh kenikmatan menghujamkan penisku ke dalam anus Mas Tangguh yang hangat nan nikmat.

Akhir weekend ini aku memiliki rencana untuk mengajak Mas Tangguh untuk menginap di penginapan yang katanya bagus dan cocok untuk pasangan gay.

Dalam perjalanan pulang ke rumahnya aku pun mengutarakan rencanaku kepada Mas Tangguh.

"Mas, Sabtu Minggu sibuk gak?"

"Gak sibuk, Win. Emang ada apa?" tanyanya balik.

"Ehh...Erwin mau ngajak Mas Tangguh jalan-jalan. Gimana, Mas mau gak?"

"Mau lah, cari tempatnya yang bagus. Supaya terasa seperti malam pertama," rayunya dengan ikut mengelus selangkanganku.

"Ah Siap."

*****

Hari yang aku nantikan pun telah tiba. Dengan menggunakan mobil pribadiku aku menjemput Mas Tangguh. Dan seperti biasanya aku tergoda dengan penampilan dari Mas Tangguh yang terlihat begitu sexy itu. Kaos singlet berwarna abu-abu membalut tubuhnya yang kekar, membuatku tak sabar ingin segera menghujamkan penisku dengan ganas di dalam lubang anusnya.

"Win, Erwin jangan melamun," tepuk Mas Tangguh.

"Ehhh, sorry Mas. Iya ada apa?"

"Kita perginya pakai mobil Mas aja, Mobil kamu taruh di garasi rumah."

"Bukannya mobil Mas lagi di servis?"

"Mas pinjam mobil temen Mas, jadi pakai mobil itu saja," jelasnya.

Aku pun segera memasukkan mobilku, sedangkan mobil Mas Tangguh sudah ready di depan rumah. Setelah Mas Tangguh mengunci semua pintu rumah, kita pun segera memasuki mobil. Aku perhatikan kursi bagian tengah tidak ada, sehingga pada bagian tengah mobil memiliki ruang yang cukup luas. "Sepertinya bakal enak nih, kalau bisa ngesex di dalam mobil," pikirku dalam hati.

"Win, kamu ini dari tadi banyak melamun. Ayo kita jalan."

"Hehehe...sorry Mas," jawabku malu. "Mari kita let's go!"

Selama perjalanan, aku diam-diam memperhatikan Mas Tangguh di sampingku. Kaos singlet ketatnya membuat dadanya yang kekar tercetak dengan sangat jelas, seperti hendak meronta keluar dari balik kaosnya. Ditambah lagi celana yang Mas Tangguh kenakan hanya sepaha, hal ini membuatku menelan air liurku beberapa kali. Karena aku hanya bisa membayangkan betapa nikmatnya bila tanganku dapat membelai paha mulusnya itu. Namun aku harus fokus, apabila aku tidak fokus bisa jadi bahaya, karena saat ini aku sedang menyetir.

Cukup lama juga kita mengendarai mobil. "Di Map berapa lama lagi, Mas?" Tanyaku karena belum pernah berkunjung ke penginapannya.

"Kalau di Map mah masih 20 KM lagi," jelas Mas Tangguh.

"Masih jauh juga."

20 KM lagi jarak yang harus kita tempuh menuju ke penginapan. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 5 sore. Jalan yang kita lalui juga lumayan sepi. Dan entah mengapa sepertinya mobil yang kita kendarai seperti tidak stabil. "Mas, mobilnya tiba-tiba gak enak?"

"Kita menepi dulu, buat cek kondisinya," saran Mas Tangguh.

Aku pun lantas menepikan mobilnya, lalu aku segera turun untuk mengecek kondisi mobil. Setelah dilihat-lihat, ternyata ban mobilnya terlihat kempes.

"Mas, kayaknya bannya bocor!" teriakku memberitahu Mas Tangguh.

"Waduh, kalau gak salah di belakang ada ban serep. Kamu coba cek Win!"

Bottom TangguhTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang