24 Januari
Malam hari. Kali ini hujan turun cukup deras. Para pengembara terpaksa mengeluarkan payung mereka, menghiasi jalan dengan warna-warna indah. Seorang gadis berumur 20 tahun berjalan di antara para pengembara itu. Dia memakai jas hujan sambil menjinjing sebuah tas berwarna cokelat di pundaknya.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya dia sampai di tempat tujuannya. Sebuah cafe. Up-Cafe.
Kriing. Pintu Cafe itu terbuka. Seorang pemuda berumuran sama yang sedang membersihkan meja menoleh. Dia memakai baju putih dan celana panjang berwarna cokelat terang. Dilengkapi dengan apron berwarna hijau, syal berwarna abu di lehernya, dan sepasang sepatu hitam putih. Seorang barista.
“Pelanggan setia akhirnya datang juga. Mau pesen apa Kia?” Orang itu berhenti membersihkan meja dan pergi ke belakang sebuah meja panjang dimana pelanggan bisa memesan.
“Kayak biasanya aja Evan.” Orang itu melepas jas hujannya dan melipatnya. Walau tidak rapih. Dia duduk di kursi dekat meja panjang dan menaruh jas hujannya di dalam kantong plastik.
“Segera datang.” Dengan cekatan Evan mengambil sebuah cangkir dan mulai membuat pesanannya.
Kia menaruh tasnya di atas meja lalu mengeluarkan buku tulis dan sebuah pulpen. Sementara itu, musik jazz yang menenangkan diputar di layar belakang. Memang sangat sesuai dengan suasana cafe itu. Tidak lama, Evan kembali membawa sebuah cangkir. Menaruhnya di dekat Kia.
“Satu cappucino hangat siap.” Evan menaruhnya di atas meja.
Asap hangat mengebul dari cangkir itu. Aroma yang lezat menyebar kemana-mana.
“Nah, makasih van.” Kia meniup perlahan kopinya dan mulai minum.
“Sama-sama.” Evan mengambil lap yang dia taruh tadi dan lanjut mengelap meja.
“Lo dapet proyek lagi kah Kia?”
“Oh ini, tadi pas di kantor aku ketemu kepala publisher. Dia nawarin aku buat ngerilis satu novel.”
“Beneran? Gila sih. Tapi berarti kan kesempatan bagus. Lo dari dulu kan pengen ngerilis novel.”
“Iya memang. Tapi aku masih bingung mau nulis apa. Biasanya kan aku cuma nulis cerpen.”
Evan mengangguk. “Iya. Tapi kan lumayan, ada peningkatan.”
“Iya sih. Tapi aku jadi takut juga.”
“Takut kenapa?”
“Ya ini kan pertama kali aku nulis novel. Kalau nanti gak ada yang suka gimana? Kalau gak bagus gimana? Pasti dimarahin atasan ini mah..”
BẠN ĐANG ĐỌC
Up-Cafe
Truyện NgắnKisah seoarang barista dan kesehariannya di sebuah cafe. Mendengarkan cerita-cerita dari pelanggannya setiap malam. Ditemani dengan kopi, teh, dan minuman lainnya.
