prolog

311 17 1
                                        

Di sebuah perusahaan besar, seorang gadis bernama alen tengah berkutat dengan berkasnya. Dia adalah seorang sekertaris sang CEO. Di pagi buta ini dia sudah di beri setumpuk berkas oleh atasan nya.

"Astaga kenapa ga kelar kelar sih dari kemarin, masih aja segini." Gumam alen mengeluh.

Tak lama seorang wanita datang, alen mengenal sosok itu, dia istri sang CEO.

"Pagi sekertaris alen? Pagi yg indah bukan? " sapa nya.

"Pagi juga nyonya" balas alen.

Alena adalah gadis rantau, orang tua ada di lampung, dia merantau ke mari karna keinginan nya. Awalnya sang mama tak memperbolehkan nya karna keluarganya bukan keluarga yg kekurangan. Dengan bujuk rayu akhirnya dia bisa membujuk mama nya untuk memperbolehkan dirinya tinggal di kota.

Sedangkan. Wanita yg baru saja menyapa alen adalah istri sang CEO. Alea, wanita itu menjabat menjadi istri sang CEO selama 3 tahun. Alea tak seberuntung alen. Alea sesekali mendapat kekerasan dari suaminya. Bukan hanya itu kadang kala dirinya di paksa menjadi sempurna oleh keluarganya.

Langit biru samudra, pria dengan visual yg begitu memadai, paket sempurna ada pada pria itu, namun dia minus soal sopan santun dan memperlakukan wanita dengan baik, dia hidup di keinginan nya, dia hidup sesuatu apa yg dia pegang. Wajah dingin nya menyamarkan perlakuan buruknya pada sang istri.

Alea berpikir menikah dengan langit dapat membuat hidupnya berubah, namun bukan nya berubah menjadi lebih baik, justru dirinya semakin tersiksa.

Langit selalu memperlakukan istrinya layaknya binatang, bahkan sesekali pria itu mempermalukan istrinya seperti saat ini.

Malam mulai menyapa alen. Sendari pagi dirinya belum melihat bos nya itu hanya melihat sang nyonya yg bolak balik keluar masuk mengurus pekerjaan suaminya.

Tok... Tok... Tok

Suara langkah kaki membuat Alea mendongak ke arah lift berada, di sana ada langit, bos nya itu. Pria itu berhenti di depan meja alen membuat gadis dengan kaca mata bertengger di hidungnya itu menunduk takut.

"Kopi... Seperti biasa" alen segera mengangguk berdiri menuju lift untuk sampai lantai dasar tempat di mana ia akan membuat segelas kopi untuk bosnya itu.

Sampai di bawah dia bertemu dengan 2 OB yg tengah membereskan alat alat mereka.

"Malam nona alen, lembur tah?" Alen mengangguk walah sedikit takut dengan tatapan office boy ini.

"Mau di temenin nona alen? " tanya OB satunya membuat alen menggeleng cepat.

"Oh ga perlu abis ini mau balik kok" alen buru buru menyelesaikan pekerjaan nya, lalu berjalan menuju lift.

Tak di sangka 2 OB tadi mengikutinya dan masuk dalam 1 lift yg sama. Ingin rasanya alen berteriak namun siapa yg akan mendengarnya jika dirinya berteriak saat ini?

Perlahan lift terbuka membuat nafas alen lega. Dia pamit dengan 2 OB yg kini wajahnya sedikit berbeda. Gadis itu berjalan masuk mendapati Alea yg terduduk di lantai dan langit yg berdiri dengan wajah marah menatap istrinya.

Kakinya seolah berhenti. Gadis itu menoleh ke belakang 2 OB tadi mendekati nya yg tengah berdiri, rasa takut mulai menyeludup ke ulu hatinya, tanpa pikir panjang dia masuk dan tak sengaja kakinya tersandung membuat kopi itu tumpah di sepatu sang bos.

Tatapan marah langit mengarahkan padanya, Alea masih menunduk membuat alen tak tau apa yg terjadi dengan wanita itu.

Bugh

Dengan tanpa berperasaan langit menendang nya membuat kepalanya yang tanpa sengaja terkatuk meja. Di sela kesadaran nya, dapat alen lihat Alea yg bukan menunduk namun pingsan dengan kepala bersandar pada kursi. Lalu semuanya gelap.

Bertukar Peran dengan Istri Sang CEO (On Going)Stories to obsess over. Discover now