First meet (1)

8 0 0
                                        

Udara pagi menyapa kota ini, tidak ada kicauan burung, hanya suara kendaraan yang mendominasi. Hina menjalani hidupnya sebagai seorang mahasiswa Fine University. Pagi ini, dia bergegas bersiap untuk suatu meeting di kampusnya.

"kelas apa saja yang akan hadir di seminar hari ini?" tanya miwa.

"DKV dan sastra inggris, tetapi di sesi yang berbeda, DKV sesi 2, setelah kelas kita selesai" jawab Hina.

Hina dan Miwa berjalan menuju kampusnya, butuh waktu 15 menit dengan berjalan kaki untuk sampai di Fine University. Sesampainya mereka di kampus, belum banyak terlihat mahasiswa sastra inggris disana.

"kebiasaan buruk, selalu saja tidak tepat waktu" keluh Hina dalam hati.

Hina duduk di salah satu kursi dan berbincang ringan dengan teman-temannya. Tak lama, pak dosen memasuki ruangan tersebut dan langsung memulai seminar itu. 

Seminar memerlukan waktu 3 jam sampai dengan selesai, Hina membiarkan teman-temannya keluar lebih dulu karena pintu keluar tampaknya sangat padat.

Beruntunglah Hina yang mengalah dan membiarkan teman-temannya untuk keluar ruangan, jika tidak, dia tidak akan pernah bertemu dengannya. ya, San. 

Hina buka tipe manusia yang mempercayai cinta pada pandangan pertama. Tapi hebatnya saat bertemu San, Hina langsung percaya pada istilah "falling in love from the first sight".

 Tapi hebatnya saat bertemu San, Hina langsung percaya pada istilah "falling in love from the first sight"

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


greppp~

Keduanya bertemu, berhadapan, di depan pintu.

Hina mematung di depan pintu memandangi rambut indah itu. Hina jatuh untuk rambutnya.

Pada saat itu mungkin sosok yang ia pandangi tidak menyadari, tapi Hina, dia termenung di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya.

Dia sangat penasaran siapa lelaki yang dia kagumi tadi, sampai terlintas di hatinya meminta untuk dipertemukan kembali dengan lelaki itu.

Sore harinya, seperti yang dia minta, mereka bertemu kembali.

Ada yang berbeda dari pertemuan sebelumnya. Kini keduanya bertatapan. Tidak lama, tapi mata itu sangat menenangkan bagi Hina. Dia ingin waktu berhenti sejenak ketika kedua mata mereka bertemu.

Sejak Hina mengetahui eksistensi lelaki itu, ajaibnya mereka menjadi lebih sering bertemu, lebih tepatnya tidak sengaja bertemu.

Apakah tuhan sedang berpihak kepada Hina? entahlah tetapi sejak saat itu keduanya mengetahui eksistensi masing-masing.

Seperti di perjalanannya untuk berbelanja, Hina bertemu sosok itu lagi. Di kampusnya, Fine University, beberapa kali mereka bertemu, persis di depan pintu. Hina pusing rasanya seperti Deja Vu. 

Rasa penasaran itu belum hilang sama sekali, setelah beberapa pertemuan yang tidak sengaja, Hina bertekad untuk mencari tahu identitasnya. Dia bahkan belum tahu namanya, tapi sudah merasa jatuh cinta, aneh.

Tekad Hina mungkin saja besar, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan besar rasa gengsinya. Mencari tahu identitas sosok terebut rupanya tidak mudah, sosok itu cenderung jarang dikenali banyak orang. Lalu apakah Hina harus menjatuhkan rasa gengsinya?

Sepertinya tidak. Hina sudah berusaha bertanya kepada orang sekitar yang dia percayai, Hina jelas tidak akan bertanya ke sembarang orang, bahkan kepada teman DKV nya, itu tidak mungkin terjadi.

Seperti yang sudah kita tebak, hasilnya nihil. Banyak orang yang tidak mengenali lelaki yang Hina maksud. Hina sempat berhenti, rasanya ingin menyerah. 

Suatu hari dia menuju ruang kemahasiswaan, untuk mengurus sesuatu. saat melihat rak absensi mahasiswa, otak Hina bekerja, dia tahu apa yang harus dia lakukan.

 saat melihat rak absensi mahasiswa, otak Hina bekerja, dia tahu apa yang harus dia lakukan

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Gambar rak absensi di ruangan kemahasiswaan)

Setelah urusannya selesai, dia mencuri-curi peluang, ditujunya rak tersebut dan segera mencari nama kelas DKV. Yang Hina lakukan adalah memotret nama-nama di dalam absensi tersebut.

Sesampainya di rumah, Hina segera membuka laptopnya berseluncur di dalam sosial media mencari satu persatu nama dari absensi yang telah dia potret.

Tidak membutuhkan waktu yang lama baginya, dia menemukan sosok itu. Hina mengetahui namanya, San. Nama yang tampan untuk orang yang juga tampan.

Hina bersorak bahagia, hatinya juga bahagia, sekarang yang dia ingin kan bukan hanya bertemu tanpa sengaja denganya, tapi memulai percakapan pribadi lewat sosial medianya.

Tapi itu semua tidak mudah, semua orang tahu gengsi Hina lebih besar dari pada tekadnya.

#

Hina

Rabu, 15 Februari 2023

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 22 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

HinasanWhere stories live. Discover now