Pagi hari di rumah keluarga Caramel selalu dimulai dengan aroma khas dari dapur. Aroma tumisan bawang merah dan putih yang dimasak dengan cinta oleh Bu Sarah, sang ibu rumah tangga merangkap pengelola usaha katering, menjadi alarm alami bagi semua penghuni rumah besar bercat krem itu. Terletak di sudut kota kecil yang asri, rumah keluarga ini berdiri hangat seperti peluk hangat seorang ibu.
Caramelia Sasmita, atau yang biasa dipanggil Caramel, menggeliat pelan di balik selimut bergambar kucing. Jam di dinding menunjukkan pukul 06.15. Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui sela tirai kamarnya yang berwarna pastel. Suara ayam berkokok dan gemericik air dari kamar mandi di samping kamarnya menandakan bahwa seseorang sudah lebih dulu bangun. Mungkin Mas Ganesha.
"Mel, bangun! Sarapan udah siap!" Terdengar suara lembut tapi tegas dari lantai bawah. Itu suara Bu Sarah. Caramel meringis kecil, enggan beranjak dari tempat tidur, namun perutnya yang mulai protes membuatnya duduk malas-malasan.
Setelah mencuci muka dan mengganti piyama dengan daster motif bunga, ia turun ke lantai bawah. Di ruang makan, sudah duduk Ayah Pramana yang tengah membaca koran pagi, dan benar, Mas Ganesha sedang menyeruput kopi sambil membuka file dari laptopnya.
"Selamat pagi," sapa Caramel dengan suara serak khas orang baru bangun.
"Pagi, Nduk. Tuh, ambil nasi goreng buatan Ibu. Ada telurnya dua, kayak yang kamu suka," kata Bu Sarah sambil tersenyum hangat.
Caramel duduk di kursi favoritnya, di antara Mas Ganesha dan Ibu. Ayah hanya melirik dari balik koran dan mengangguk.
"Tadi malam kamu tidur jam berapa sih? Mata kayak panda terus," komentar Ganesha sambil menyuap nasi.
"Halah, Mas. Namanya juga kerja. Upload cover baru semalem. Lumayan, view-nya naik terus," jawab Caramel sambil menyantap sarapan.
"Kerja sih kerja, tapi jangan sampai lupa kesehatan. Kamu kan cuma di rumah, ngapa nggak ikut bantu Ibu atau Ayah?" kata Pramana, menurunkan koran.
"Yah, aku bantu kok. Kemarin aja aku bantu foto-fotoin buat IG katering Ibu. Bagus lho fotonya, dapet banyak like!" bela Caramel sambil tersenyum bangga.
Suasana pagi di rumah itu selalu diwarnai canda tawa. Yanti dan Sari, dua ART muda umur 22 tahun yang sudah seperti keluarga sendiri, ikut menyumbang kehangatan pagi dengan komentar-komentar lucu mereka.
Setelah sarapan, masing-masing anggota keluarga menjalani aktivitas mereka. Pramana pergi ke restoran utama untuk rapat dengan manajer cabang. Sarah mulai mengatur pesanan katering bersama Yanti dan Sari. Ganesha berangkat ke rumah sakit, sementara Caramel kembali ke kamarnya.
Kamarnya menjadi dunianya sendiri. Di sanalah suara emasnya direkam. Di sanalah ia menjadi Caramel Macchiato—sosok yang membuat ratusan ribu orang jatuh cinta lewat lagu. Tapi di dunia nyata, ia hanyalah Caramelia, gadis berisi dengan pipi chubby yang sering dibilang manis oleh tetangga.
***
Jam masih menunjukkan pukul 09.05 saat Caramel menyelesaikan sarapan keduanya: semangkuk bubur ayam buatan Bu Sarah yang hangat dan kaya rempah. Pagi itu seperti pagi-pagi lainnya, tak ada yang berubah dari rumah keluarga Caramel. Suasana yang tenang, udara sejuk yang menyelusup masuk dari jendela ruang makan, dan aroma seduhan teh melati yang disiapkan Yanti di atas meja.
Caramel duduk bersila di kursi rotan dekat dapur, mengenakan kaos longgar dan celana training. Wajahnya polos tanpa riasan, rambut panjangnya dikuncir asal. Ia sedang memegang ponsel, membalas komentar para penggemarnya di video cover yang diunggah semalam.
"Wah, yang komen ini bilang suara aku kayak penyembuh luka batin," gumam Caramel pelan sambil tersenyum.
"Wah, itu pasti orang patah hati. Lha wong suara kamu kayak balsem, Mel," seloroh Yanti dari balik wastafel tempat ia sedang mencuci piring.
YOU ARE READING
Caramel Macchiato
RomanceCaramel Macchiato, nama suara seorang coveran lagu yang telah melejit beberapa bulan ini. Hanya suara tanpa rupa yang selalu Caramel Macchiato bawakan, Suara dengan video yang dikemas seapik mungkin, hingga para pendengar setia tak mempermasalahkann...
