✨ 21. Susu Coklat ✨

Start from the beginning
                                        

Akhirnya surat kepindahannya pun diurus dengan sangat cepat. Setelah selama, Adel dan Tante Devina pun memutuskan untuk segera beranjak.

"Bunda, maaf ya udah buat Bunda jadi repot begini," ucap Adel sambil menundukkan kepalanya.

Bunda Devina yang mendengar itu langsung mengusap lengan Adel. "Kamu nggak perlu minta maaf seperti ini, Del. Bunda sama sekali nggak merasa direpotkan sama kamu. Udah seharusnya Bunda yang mengurus ini, karena gimana pun sekarang Bunda juga orang tua kamu, Del."

"Adel!"

Ketika hendak memasuki mobil, seseorang dari arah belakang memanggil namanya. Adel pun menoleh dan mendapati Naomi yang sedang berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan.

Dalam sekejap Adel pun berada dalam pelukan Naomi. Sahabatnya yang sangat ia rindukan selama ini. Tanpa sadar Adel pun menangis, begitu pun dengan Naomi sendiri.

"Del, aku kangen banget sama kamu. Selama ini kamu ke mana aja, kenapa nggak pernah datang ke sekolah dan juga ke toko Mama?"

Adel mengusap air matanya yang sudah banjir membasahi seragam bagian bahu Naomi.

"Aku juga kangen sama kamu sama kamu, Nao. Kamu sama Mama Adina baik-baik aja dan sehatkan?" ucap Adel seraya mengusap air mata Naomi dengan penuh perhatian.

"Iya, aku sama Mama baik-baik aja dan sehat. Mama selalu tanyain keadaan kamu, Mama juga selalu tanya setiap aku pulang sekolah apa kamu datang ke sekolah atau nggak," ujar Naomi sesegukan.

"Maaf ya selama ini aku nggak pernah kasih kabar ke kamu atau pun Mama Adina. Aku baik-baik aja kok,"

"Adel?"

Keduanya pun menoleh ke arah Bunda Devina yang berada dalam mobil. Panggilan lembut tersebut membuat Naomi mengernyit bingung, lalu ia melirik ke arah Adel yang nampak gugup.

"Itu ... aku boleh ngobrol sama temanku, T-tan?" tanya Adel gugup.

"Oh, boleh kok. Tante tunggu di sini ya?"

Adel mengangguk dan langsung mengajak Naomi ke kursi terdekat untuk kembali mengobrol.

"Tadi itu siapa kamu, Del? Aku nggak pernah lihat sebelumnya," tanya Naomi.

Nafas Adel sempat tercekat sebelum mengatakan siapa Bunda Devina yang tentunya sebuah kebohongan. Ia meminta maaf dalam hati karena harus berkata bohong karena sampai saat ini ia tidak berani mengatakan yang sejujurnya.

"Tadi itu ... Tante aku,"

"Tante? Tapi bukannya ibu kamu anak tunggal?" tanya Naomi kaget. Adel segera menggeleng. "Bukan saudara dari ibu, tapi ayah. Tante aku itu baru aja datang ke sini buat cari aku, dia selama ini cari keberadaan aku tapi baru ketemu sekarang," ujar Adel penuh dusta.

Naomi mengangguk paham. "Terus ada alasan apa Tante kamu datang ke sini? Terus kenapa kamu nggak sekolah selama ini?"

Adel kembali diserang rasa gugup lagi, namun sebisa mungkin ia tetap bersikap biasa saja. "Aku ... mau pindah sekolah. Sekarang aku nggak tinggal sama ibu tapi sama Tante ku itu," jawabnya sambil menggigit bibir bawahnya.

Raut syok yang kentara Naomi tunjukkan di hadapan Adel. "Del, kamu seriusan mau pindah sekolah?!"

Kepala Adel langsung mengangguk pelan.

"Kalau kamu pindah artinya aku bakal sendirian dong. Rumah Tante kamu di mana? Aku bolehkan main ke rumah Tante kamu itu?" tanya Naomi sambil menggenggam erat kedua pergelangan tangan Adel.

"Untuk sekarang aku nggak tahu kamu boleh main ke rumah tanteku atau nggak, tapi aku akan berusaha untuk tetap datang ke toko bunga. Karena gimana pun aku juga kangen sama Mama Adina," ujar Adel sambil tersenyum.

"Janji ya kamu bakal main ke toko?" Adel pun mengangguk dan obrolan keduanya ditutup dengan pelukan hangat yang begitu erat.

***

"Del, mau ke mana?"

Adel yang hendak memasuki kamarnya pun menghentikan langkahnya dan menoleh, ia mendapati Jericho yang sedang mendekat.

"Kamu kok udah ada di rumah, nggak kuliah?" tanya balik Adel.

"Udah nggak ada kelas jadi gue pilih pulang, lagian di kampus juga nggak ngapa-ngapain," sahut Jericho. "Oh ya, pertanyaan gue yang awal nggak mau dijawab nih?" Kerlingan jahil muncul di wajah Jericho.

"Astaga ... Aku lupa. Aku mau balik ke kamar,"

"Sibuk nggak?" Adel segera menggeleng. "Mau ikut gue JJS?"

Adel mengerjap tidak paham. "JJS itu apa?"

"Jalan-jalan sayang."

Mendengar itu sontak membuat mata Adel terbelalak kaget. Tidak lama suara tawa Jericho pecah. "Bercanda Del, maksudnya jalan-jalan sore." Lalu Jericho pun menoleh ke kiri dan kanan lantas bernafas lega. "Untung Sakti belum pulang, coba kalau dia dengar pasti gue langsung dipukul," ucap Jericho bergurau.

"Kamu ada-ada aja sih. Aku sendiri nggak sibuk, tapi kamu sendiri gimana?"

"Ya jelas nggak dong, kalau sibuk gue nggak mungkin ajak lo JJS. Jadi gimana, mau?"

Tidak ada hal yang ia kerjakan lagi sore ini, jadi menerima tawaran Jericho untuk jalan-jalan sore sebentar sepertinya tidak masalah? Lagi pula Sakti pun sedang tidak ada di rumah, jadi saat ini tidak akan ada yang membutuhkan dirinya.

"Mau."

***

Grup cowok keren 😎

Hans Ajendra

Gue tadi nggak sengaja lewat taman gitu, terus gue lihat Jericho lagi sama cewek.

Awalnya gue mau biasa aja, pas gue perhatiin lebih baik. Eh kok kayak kenal sama ceweknya.

Ternyata si cewek anak pembantu lo, Sak!

Si Adel. Eh, benar kan namanya Adel?

Mana tadi gue lihat mereka kayak mesra gitu.

Jangan-jangan mereka ada hubungan lagi?

Joel Askara

Wah kalau benar artinya lo harus mundur, Hans.







Sakti Reyhano

Bangsat!

Di taman mana lo lihat mereka, Hans?!

*

*

*
Bersambung....

Aku mencium seperti ada aroma gosong 🌚🔥

Masih sama next?

Yuk spam komen sebanyak-banyaknya dong🔥

Aku kasih tantangan ya, 30 vote 30 komen untuk next gimana?

Sampai jumpa di chapter selanjutnya 💕✨

Bekasi, 20 Januari 23
Lyantri Lian♡

Result Of Mistake Where stories live. Discover now