Hari senin yang cerah untuk anak anak sekolah maka ini hari sial, mungkin. Panas matahari menyapa setiap tempat yang disinari. Tidak terkecuali lapangan gersang milik SMK 2, ketika tidak upacara maka lapangan ini dialihfungsikan sebagai lapangan parkir. Ada hal lucu tentang tempat parkir di sekolah kejuruan satu ini yaitu memiliki lima sampai enam wilayah parkir. Terlebih lagi dari banyaknya siswa yang terdiri dari berbagai jurusan, ruang kelas yang di sediakan tidak cukup. Tidak ada kelas tetap, hampir setiap semester pasti pindah kelas. Jadwal magang perjurusan di rolling, anak yang pergi magang tidak memiliki kelas lagi karena kelas mereka akan dipakai oleh kelas lain. Sebagai contoh sebelas akuntansi tiga yang baru saja pulang magang menempati lab komputer sebagai kelas. Keuntungan? AC ada empat siap sedia dipakai, papan tulis? Tidak ada. Hanya ada proyektor dan komputer untuk mendukung pembelajaran.
Secara kebetulan, Reyyen adalah satu dari beberapa makhluk di sebelas akuntansi tiga.
"Tuhan udah ngasih hidup yang indah dan nikmat buat lu, tapi lu malah masuk akuntansi" Ucap Rey seraya menatap teman sekelasnya ketika mengakhiri presentasi.
"Uang goib di hitung sampai miliran triliunan tapi uang di saku cuman lima ribu" Sambung Devan sang kembaran. Bu Erna hanya menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.
"Mau heran tapi ini kembar nakal, pengen resign tapi saya satu satunya guru akuntansi yang mengajar kalian. Cuma bisa astagfirullah"
Reyyen aja heran gimana bisa guru ini sangat cocok dengan kelas mereka, kalau dipikirkan dengan logika maka ga akan masuk akal. Saat kelas 10 dulu, akuntansi 1,2 maupun 3 sama saja dimata guru guru, sampai pada kelas sebelas mereka menyadari satu hal yaitu guru mulai seperti melupakan akuntansi tiga. Anak anak dikelas ini memang malas untuk menonjol diantara guru. Lalu pelajaran akuntansi anak anak kelas ini tertinggal cukup jauh karena guru akuntansi kelas 10 mereka tidak kompeten dalam mengajar.
Sampailah dikelas sebelas, guru akuntansi baru. Ketika di tes ternyata tidak ada yang mengerti, entah bagaimana ceritanya guru ini mau mengajar dari awal namun dengan caranya tersendiri. Ialah Bu Erna ningsih yang sangat asik bagi murid disini.
Back to topic, upacara tadi pagi hanya untuk kelas sepuluh yang artinya minggu depan untuk kelas sebelas dan dua belas. Hampir semua kelas sebelas dan dua belas tidak ada dikelas, masih terpencar entah dibagian mana. Sebelas akuntansi tiga ada di lantai dua sebelahnya ada jurusan pemasaran.
"Ini kelas kita tuh spesial tau. Walaupun harusnya kelas akuntansi berjejer di belakang sana, kita? Di sini dengan ruang AC" Kata kata penyemangat untuk anak kelas tersebut. Siapa yang berbicara? Tentu ketua kelas mereka. Arsensius kenzie yang juga juara kelas.
Pelajaran pertama ketemu mapel pilihan, nama doang pilihan tapi gabisa milih apa yang mau di pelajari. Pembelajaran ini diisi dua materi yaitu, komputer untuk senin dan bisnis online untuk hari rabu dengan guru yang sama. Masih pagi udah ketemu sama ketua jurusan yang menangani mapel ini.
"Kalian ini jurusan akuntansi yang dikenal anaknya paling rajin dan disiplin. Tapi tadi ibu naik tangga baru semuanya pada lari masuk, ini peringatan terakhir untuk kalian.. Jika terulang lagi maka kalian akan belajar di lapangan basket."
"Dijemur dong? Panas Buu. Ntar kita kita bisa jadi ikan asin dong" Balas Reyyen
"Stt, diem dulu Rey!" Gantian Devan berbunyi. Mendapatkan nyinyiran dari adiknya.
Tiga jam pelajaran sama dengan seratus dua puluh menit, selama itu pula hanya mendengarkan penjelasan sambil menulis hal hal yang penting saja.
"Mata gue cape juga lama lama liat tuh layar" Keluh Flora yang duduk di kiri Reyyen.
"Baiklah cukup sekian untuk hari ini jangan lupa kerjakan pekerjaan rumah kalian, besok jam tujuh dikumpulkan ke saya di jurusan"
Para penghuni kelas menjawab dengan serentak.
"Dev kantin? Gue nitip bakso krispi 5 pakai saos aja"
"Mana uangnya?" Devan menjawab dengan mengulurkan tangan, Reyyen dengan berat hati mengambil uang lima ribu di saku baju lalu memberikannya pada Devan. Setelah mendapatkan uang Devan segera menuju kantin besar bersama teman teman yang lain.
"Dessy~va.. Makan ya?" Tanya Rey pada bestie satu frekuensi, tetapi sepertinya gadis bernama lengkap Dessyva wine rahayu sedang tidak dalam mood yang bagus sehingga hanya di jawab dengan anggukan kepala sembari mengeluarkan kotak bekal.
Lagi dan lagi Reyyen tersenyum dengan manis, ia juga mengeluarkan kotak bekal dan memulai ritual makan. Tidak ada yang spesial hanya nasi dengan telur ceplok setengah matang. Tak lama berselang Devan kembali dengan jajan miliknya beserta pesanan Reyyen. Tanpa basa basi ia meletakkan plastik di depan wajah sang adik.
"Tatap teros gue colok mata lu lama lama njir, abang lu yang ganteng ini balik dengan pesanan lu yang belinya penuh perjuangan bukannya disambut, malah di cuekin" Omel Devan sembari menatap tajam sosok manusia yang tengah memakan bakso dengan nasi itu. Lelah dengan sikap kembarannya itu Devan pun memilih duduk dan makan dengan santai.
Suara ricuh terdengar dari depan kelas, hingga beberapa siswi masuk sambil berbisik akan datangnya seorang murid baru. Masih simpang siur itu infonya cewe apa cowo, yang terdengar malah sesuatu seperti
"Kalau cowo cantik? Atau cewe ganteng gimana?" Hampir aja Rey tersedak dengan ucapan para lambe turah.
Devan meringis malu dengan kejadian yang baru saja ditangkap oleh mata hazel miliknya. Reyyen dengan wajah cemberut lucu itu seakan kesal dengan ucapan teman mereka. Ia sendiri sejujurnya penasaran tapi malas untuk terlibat.
Beberapa menit kemudian seseorang memasuki kelas dengan dikerumuni oleh siswi lain. Sudah tertebak itu seorang gadis. Rasa penasaran sudah terjawab menurut Devan, ia pun kembali bermain ponsel. Lain lagi dengan Reyyen yang melihat sekilas anak baru itu dan kembali memakai aerphone dan menyalakan lagu straykids. Beberapa kali dia bersenandung pelan.
YOU ARE READING
Ambivalen
Teen Fictiondua sisi yang bertentangan. Tapi ingin tetap bertahan satu sama lain. "Mas pengen"_Reyyen "Masih disekolah"_Aric "Bukan itu anjir" "Mulutmu, mas gasuka dengernya" "Iya dah iya"
