Tentang kami

20 0 0
                                        

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.



Aku meletakkan ponsel setelah membalas pesan Harsen. Masih heran kenapa teman kecil yang aku tau sangat nakal dan usil itu bahkan bisa menjadi seorang asisten dosen yang terkenal killer dibalik senyum tampan beliau.



Yah harus diakui memang Harsen itu cerdas. Dan mungkin dia juga bisa masuk kategori jenius untuk beberapa bidang. Tapi tetap saja, aku yang sejak kecil sudah melihat tingkah aneh nya belum terbiasa dengan semua pujian beberapa teman dikelas ku untuknya.



Orang tua ku juga sudah menganggap nya seperti anak sendiri. Walau nyatanya aku lebih tua 2 tahun darinya tapi ibuku sendiri lebih sering membandingkan anaknya ini dengan Harsen. Ibu selalu bilang jika Harsen harus selalu ada didekat ku kapan pun ia bisa karena ibu tidak bisa percaya kepada orang lain pun kepada anaknya ini.



Ayah juga sangat cocok dengannya. Harsen selalu bisa mengimbangi obrolan ayah tentang apapun itu. Dari mulai berita terbaru sampai gosip terbaru disekitar kami pun dia juga tau. Mungkin karena itulah aku tidak pernah bisa lepas dari seorang Harsen. Orang tua ku lebih percaya padanya.



Jangan tanyakan masalah romantis padaku. Karena aku tidak punya kisah romantis atau kisah cinta sejak dulu. Ah, mungkin pernah tapi aku tidak tau apakah itu termasuk atau tidak.



Saat kelas 10 awal memasuki masa pubertas. Aku merasa tertarik dengan seorang senior. Dia terlihat begitu sempurna di mataku. Entah kepribadian atau akademik nya sangat baik. Tapi semua berubah ketika aku tau dia memiliki sebuah kebohongan yang luar biasa dibalik topeng kebaikannya. Sejak itu aku tidak pernah lagi merasakan apa itu rasa suka kepada orang lain.



Sementara Harsen, yang aku tau dia sangat terkenal sejak masuk high school. Dia banyak mendapat perhatian dari orang lain dan tidak sedikit yang diam-diam meletakkan surat cinta, hadiah, atau bekal makanan di lokernya. Tapi tidak ada satupun yang dia terima kecuali makanan, karena menurutnya makanan itu adalah sebuah wujud kasih sayang dan dibuat dengan tulus jadi dia harus menerima nya.



Oh aku lupa, aku harus bersiap sekarang. Lima menit lagi mungkin Harsen akan datang. Aku harus segera pergi setelah dia datang. Karena jika dia sudah bertemu dengan ayah dan mengobrol mereka akan melupakan waktu yang terus berputar.







Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.




"Ibuu.. ayah.. Lora berangkat dulu.."



"Eh, kamu berangkat sama siapa? Kan mobil masih dipake adek. " Suara ibu menyahut dari ruang makan.



"Sama yang biasanya.Dah ayah..ibu.. "



"Bilang Harsen hati-hati nyetir nya ya Ka..!"



"Siap komandan!!"



Aku menjawab pesan ayah sambil berjalan ke pintu depan. Bisa dilihat atap Pajero sport milik Harsen berhenti tepat didepan pagar rumah ku. Seperti biasanya setelah aku menutup pagar, dia akan langsung membukakan pintu penumpang disamping kemudi walau ia tidak berpindah dari posisinya dibelakang setir.



"Dua kelas kan hari ini?"



Aku menoleh saat mendengar suara Harsen sebelum ia melajukan mobil dengan pelan dan lihai. "Enggak. Tiga hari ini. Miss Irene minta nambah jam buat ganti Minggu depan, katanya ada seminar gitu."



"Sampe sore berarti? " ujarnya lagi



"Sampe jam 8. Miss mulai jam 6 sore, sebel g sih harus nganggur 4 jam sampe jam nya Miss Irene, " rutukku mengingat jam terakhir hari ini jam 2 siang.


"Jalan-jalan aja gimana? Atau ngadem ke kafe biasanya. " tawar Harsen


"Sendiri gitu?? Kamu kan kelas siang " sahut ku lagi, " enggak lah, aku ke perpus aja ngadem disana."


"G bosen diperpus mulu?? "


"Tenang.. aku bawa amunisi buat bosen hari ini. " ucapku sambil menepuk beberapa kali tas ransel yang kubawa.


"Bawa novel lagi?" Harsen sedikit tersenyum simpul mendengar jawaban ku.


"Bukan. Hari ini bawa detektif kesayangan " aku tertawa pelan setelah menyebutkan komik kesukaan ku dan hal itu membuat Harsen ikut tersenyum lagi.

.
.
.
.
.
.



All about usWhere stories live. Discover now