<New York, 2022>
[Marry]
...
Suara alarm yang aku nyalakan berbunyi dengan kencang, membuatku melompat keluar dari alam mimpiku yang indah. Kubuka mataku, cahaya matahari memasuki celah jendelaku yang tersingkap. Bau ruangan terendus seperti bau pewangi ruangan.
Cepat-cepat aku segera meraih ponselku di atas nakas dan mematikan alarm yang terus berbunyi. Aku terdiam sejenak sambil mencoba mengumpulkan semua nyawaku yang terpecah dan melayang-layang selama aku tidur semalaman.
"Marry, kau sudah bangun?" Suara ketukan dibarengi dengan suara ibuku terdengar lembut.
"Ya! Aku sudah bangun, Bu!" sahutku sedikit keras supaya ibuku dapat mengetahui bahwa aku sudah bangun.
Suara per ranjang yang sedikit reot berbunyi saat aku beranjak dari ranjang. Bau masakan yang menyelinap masuk ke dalam kamarku membuat perutku bergemuruh. Aku bahkan menelan ludah beberapa kali.
Aku mengambil handuk yang tercantel di belakang pintu, dengan langkah gontai—seraya beberapa kali menguap—aku membuka pintu kamar. Suasana pagi ini nampak seperti biasa—ayahku yang sedang mambaca koran dengan menyesap secangkit teh, kakakku yang tengah bersiap untuk bekerja, dan ibu yang tengah menata piring dimeja makan—terasa selalu hangat.
Setelah mandi dan berpakaian, aku menyusul mereka di meja makan. Aku dapat mencium berbagai bau makanan disini, ditambah dengan bau parfum kakakku yang mengganggu keharmonisan bau lezat.
"Kau pakai parfum satu ember, ya?" kataku sinis. Penciumanku terasa kacau karena bau parfum itu mulai mendominasi bau-bau makanan di ruang makan ini.
"Ini hari pertamaku bekerja, jadi aku harus tampil bersih dan wangi. Lihat, rambutku saja aku beri pomade," sahut kakakku, Micky, ia mengelus pelan rambutnya dengan gaya.
Aku menatap Micky sambil menyipit. Lelaki berusia dua puluh tahun itu terlihat klimis dengan kemeja dan dasi biru dongker yang menempel di tengah dadanya. Rambutnya pun bersih dan mengkilat walau terlihat agak kaku karena penggunaan pomade.
"Yah, coba saja lihat kemampuanmu," kataku cuek sambil mengambil secentong nasi beserta lauk pauknya.
"Kalau nanti aku punya uang banyak, aku tak akan membagimu," sahut Micky dengan sedikit nada ancaman. Tapi, aku tidak peduli.
"Sudah, kalian ini dari tadi ribut saja. Ayo cepat dimakan dan berangkat." Ibu tiba-tiba duduk disela-sela kami. Membuat kami berhenti untuk bertengkar dan melanjutkan makan.
Selesainya, aku pun berangkat bersama Ayah menggunakan sepeda motor. Ya, keluarga kami bukanlah keluarga yang mampu untuk membeli sebuah mobil. Mungkin karena kami merupakan orang asia, maka tak banyak orang yang mau menerima ayah untuk bekerja bersama.
"Sampai jumpa, Yah!" Aku melambai tangan dengan tersenyum. Aku dapat melihat ayah tersenyum dari balik kaca helmnya, walau terlihat samar-samar. Kemudian dia pergi menjauh.
"Kim Marry!" Seseorang menepuk pundakku hingga membuatku tersentak kaget. Seorang murid yang aku kenal sejak kelas satu SMA, Hana.
Wajahnya tersenyum riang dan terlihat segar. Lip balm yang ia gunakan nampak berkilap di bibirnya yang mungil dengan barisan gigi yang sehat dibelakangnya. Mata berlian birunya berbinar terang saat cahaya mentari menyinarinya.
"Oh, astaga, Hana! Kau mengejutkan aku saja," sahutku memegang dadaku yang berdebar.
Hana masih memandangku dengan cengiran. Aku dapat mencium bau parfumnya yang dia pakai tiap hari. Harum yang segar dan menenangkan, seperti bau melati dan teh dan sedikit bau permen karet.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Marry And The Key To The Past
FantasiaMarry tiba-tiba kembali ke masa lalu saat ia mengikuti jejak kaki pembunuh yang membunuh seluruh keluarganya. Kemudian Marry bertemu dengan Mark yang merupakan seorang pembunuh bayaran. Apakah Marry bisa menemukan siapa pelaku pembunuhan keluargan...
