"Ketika kamu begadang dan kurang tidur, akibat yang pertama adalah tubuhmu tidak memiliki waktu untuk recovery yang cukup."
"Yang terjadi adalah jantung ini tidak sempat diganti sel-selnya, kulit juga tidak sempat diganti sel-selnya, otak tidak punya waktu untuk recovery."
"Penumpukan kelelahan, dan sel mati. Yang terjadi kalau terus-terusan kamu lakukan."
"Gagal jantung dan kanker."
Kalimat terkahir itu berhasil membuat jemari yang tadinya sibuk menari di atas keyboard kontan berhenti. Kiara—salah satu orang yang masih bertahan di kantor meski sudah lewat beberapa jam dari jam pulang kantor sontak mengalihkan matanya dari layar komputer ke layar ponsel yang menayangkan podcast yang ia setel untuk menemani lemburnya.
"Ya tapi kalau enggak gini gue nggak makan. Mau resign juga pikir-pikir sekarang lowongan susah kalau enggak ada orang dalam."
Realita menamparnya. Sudah menjadi rahasia umum di negara yang digadang-gadang memiliki sumber daya alam yang begitu melimpahnya ini tapi minim dengan lapangan pekerjaan.
Sebagai yang menyaksikan dan mengalami langsung, sebenarnya tidak sedikit yang memilih bertahan bekerja di lingkungan yang bisa dibilang tidak sehat karena pikir-pikir kalau resign nanti belum tentu mereka menemukan pekerjaan dengan mudah dan gaji yang layak ditengah-tengah lonjakan harga berbagai kebutuhan.
Ditambah lagi pemberitaan tentang PHK massal akhir-akhir ini berseliweran ditelevisi. Membuat mereka berpikir seribu kali untuk mengajukan resign. Lebih baik pusing dan stress karena bekerja dibanding stress karena tidak bekerja. Itulah pemikiran mereka.
Kalau ada yang berkomentar harta tidak dibawa mati itu benar tapi tidak menampik kalau hidup juga perlu uang.
Itulah yang Kiara tanamkan dalam otaknya disaat dia diserang rasa lelah dan bosan yang mendera saat bekerja. Belum lagi Kiara tidak sekuat itu untuk mendengar pertanyaan yang berulang setiap hari seperti kapan kamu kerja? Memang enggak pengen kerja? Saat dia berdiam diri di rumah. Karena itu, selelah apapun, sebosan apapun dan semuak apapun yang ada di otaknya hanya kerja, kerja, dan kerja. Selain uang, uang, dan uang tentunya.
Kopi hitam yang belakang ia suka sudah habis tak tersisa beberapa menit yang lalu. Diregangkannya otot-ototnya yang kaku karena duduk berjam-jam menyelesaikan laporan mingguan yang diminta lebih awal itu. Diistirahatkannya punggung jomponya dengan bersandar di kursi sepenuhnya.
"Aaaaaakhirnyaa....." erangnya lega karena tugasnya sudah selesai.
"Selesai, Ra?"
Kiara memutar kursinya untuk melihat seseorang yang duduk berjarak tiga kursi di belakangnya. "Udah mbak. Mbak udah belum? Kalau udah kita bisa turun bareng." Katanya sambil mengemasi biarang-barangnya yang berserakan di atas meja. Dan mematikan komputer setelah menyimpan laporan tadi yang besok pagi akan di print.
"Bentar, gue masih dikit lagi." Jawab Galuh—sebagai ketua tim marketing alias manager, tugas Galuh lebih banyak daripada dirinya yang hanya seorang bawahan.
"Santai mbak, aku tungguin kok. Take your time."
Galuh tanpa melirik Kiara menjawab. "Enggak bisa take your time ini. Gue udah mumet plus capek pengen cepat-cepat pulang. Padahal hari ini gue udah janji keluar sama anak gue tapi tiba-tiba harus lembur." Katanya sedikit kesal. Sebagai seorang single parent yang harus bekerja seorang diri waktu sedetik pun sangat berharga untuk Galuh. Anaknya sudah kehilangan figur seorang ayah, jangan sampai kehilangan figur seorang ibu juga meski dia harus bekerja untuk mereka berdua.
ESTÁS LEYENDO
Promise You
FanfictionKiara tidak bisa memulai sebuah hubungan karena pondasinya tidak cukup kuat. Sebuah pondasi yang goyah kedepannya akan berdampak buruk pada bangunan yang dibangun diatasnya. Maka dari itu, Jevier menawarkan diri untuk membangun pondasi yang lebih ku...
