[Harap follow sebelum membaca!] "Mulai hari ini, Arllettha jadi milik gue sepenuhnya"
Adrian Marshall Devandra namanya, seorang ketua Geng motor terkenal The Dreadnoks. Sifatnya yang dingin dan angkuh membuat sosok Adrian terkenal di kalangan para s...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
THE DREADNOKS
Main Cast: Adrian Marshall Devandra x Arllettha Stephanie Zamora
Genre: family, friendship, romace, AU Chapter: PROLOG Original story by me [waffletetchim]
Harap bijak dalam membaca, para plagiat dipersilahkan meninggalkan part ini. Jangan lupa vote dan comment 🦋
⚯ ⚯ ⚯
Kemacetan di pagi hari ini dan teriknya sinar matahari membuat banyak orang jengkel akan kesibukkan kota Jakarta. Salah satunya Adrian, sedari tadi ia mengumpat sambil sesekali mengecek jam di handphonenya. Wajar saja ia kesal, sudah lebih dari sepuluh menit ia duduk di jok motor dan tidak bergerak sama sekali. Sisi kanan dan kirinya diapit oleh kendaraan bermotor lainnya.
"Shit! kalau gini terus gue bisa telat!" umpat Adrian, ia sudah bosan dengan omelan bu Siska a.k.a guru BK setiap ia telat sampai di sekolah.
Adrian sedikit berjinjit di motornya, ia membuka kaca helm full facenya untuk melihat keadaan jalan sejauh ini. Sialnya, ternyata kemacetannya makin parah. Bukan hanya karena jam sibuk kerja, tapi juga karena ada kecelakaan di depan bank.
Tak mau memakan waktu lama, Adrian memilih untuk belok ke kiri mencari jalan pintas. Lelaki dengan helm full face itu melajukan motor sportnya dengan kecepatan sangat tinggi, ia tak memikirikan keselamatannya, yang penting ia bisa cepat sampai ke sekolah.
Setelah melalui berbagai jalan sempit dan becek akibat hujan tadi malam, akhirnya Adrian sampai di depan pintu gerbang sekolahnya. Namun, sepertinya keberuntungan tidak memihak padanya, pintu gerbang sudah tertutup rapat dengan gembok yang menguncinya hingga tak ada siapa pun yang bisa masuk. Mau tak mau, ia harus menunggu jam pertama selesai baru bisa masuk ke dalam.
Ini bukan yang pertama kalinya bagi Adrian, ia sudah pernah lebih dari tiga kali berdiri di depan gerbang yang terkunci. Adrian sudah hapal betul apa yang akan terjadi setelah ini. Ia akan dihampiri oleh Bu Siska dan dibawa ke ruang piket untuk mendapat surat izin telat, setelah itu ia akan dihukum lari keliling lapangan atau memberishkan toilet. Sungguh nasib yang buruk bagi lelaki setampan Adrian.
Tapi tenang, tak hanya Adrian yang mendapat nasib buruk pagi ini. Tepat di sebelahnya, seorang perempuan yang tingginya hanya se-bahu Adrian tengah panik sambil menelepon seseorang di ponselnya. Setelah terhubung, ia langsung berteriak dengan nyaring yang pastinya membuat telinga Adrian ingin copot rasanya.
"Duh! Jangan teriak-teriak kek! Telinga gue nanti tuli bego!" Jangan ditanya, mood Adrian benar-benar sangat buruk saat ini. Perempuan itu tidak mempedulikan ocehan Adrian, ia tetap berkomunikasi dengan seseorang di seberang sana.
Pikiran Adrian sangat kacau saat ini, ia tak tahu hukuman apa lagi yang akan Bu Siska berikan padanya. Ia akan sangat malu jika disuruh membersihkan toilet sekolah yang bau-nya membuat siapa saja bisa muntah dibuatnya. Adrian harus keluar sekolah bisa mendapat toilet yang bersih dan nyaman untuknya. Adrian sangat membenci hal-hal yang kotor seperti itu.