Semalam suntuk Dika mengejar deadline, tetapi dosen yang ditunggu izin tidak hadir.
Sudah banyak makian yang mengendap di dada, menyesal mengapa ia tidak memilih untuk tidur saja.
Langkahnya lunglai, tak bertenaga. Dirinya sudah seperti mayat hidup! Lihatlah lingkaran mata yang hitam, baju yang tak rapih, rambut yang lupa untuk di sisir.
''Heh, Dika!.'' Teriak seseorang memanggil.
Dika mendengus kesal, moodnya sedang tidak baik-baik saja.
''Apaan si lo, gua panggil tuh nengok.'' Celetuk Rano.
Dika membuang nafas berat, ''Bacot lu, ni tugas nya! Jangan lupa tf gua 100k.''
''Yailah, perhitungan banget sama temen. Besok ajalah tfnya, gua mau jalan nih sama cewe.''
Dika menengok ke sekitar, mencari alat untuk memukul temannya. Sepertinya seru kalau kepala Rano sedikit memar.
Tau gerak-gerik Dika, Rano langsung sigap mengeluarkan dompetnya.
''Nih dik, cash gua mah.'' Rano menyodorkan uang.
Dika memang memiliki kesabaran yang setipis tisu dibelah dua. Ditambah hari ini ia sedang sensi seperti wanita haid.
''Gua cabut dah, ngeri bet kalau orang lagi haid gua senggol.''
''Sialan, pergi lu setan!'' Hardik Dika.
Dika kini memutuskan untuk ke perpustakaan. Melelapkan dirinya yang tak tidur semalaman. Setidaknya ia sudah berusaha untuk tidur, mengingat nanti sore harus lanjut kerja partime.
Tenang.
Sedikit orang berlalu-lalang, Dika masih memejamkan matanya. Jam sudah menunjukan 10.20.
Ia harus bangun, mengingat mata kuliah selanjutnya adalah Bahasa Belanda, dan dosennya sangat killer.
Mengumpulkan kesadaran, Dika disuguhi pemandangan bunga cantik di Taman.
Melalui jendela perpustakaan, Dika tak sadar sedang memperhatikan gadis itu sangat lama.
Kulit yang seputih susu itu ternodai tanah yang menempel. Ia tertawa geli, sambil menakut-nakuti temannya dengan cacing.
Pipinya memerah, satu kata yang ada di benak Dika saat ini adalah 'Lucu'.
Bagaimana bisa ada wanita secantik itu dikampus ini? Gila, sudah kemana saja dirinya! Ah, ia lupa mahasiswa semester 5 memang sedang gila-gilanya dengan tugas.
Drrtt...Drt...
Getaran berbunyi dari saku Dika. Astaga! Ia lupa, sebentar lagi Mata kuliah Bahasa Belanda akan segera dimulai.
Merapalkan banyak doa, Dika berharap Pak Teguh belum sampai ke kelas.
Saat membuka pintu kelas, doa Dika telah terijabah. Pak Teguh masuk selang beberapa menit setelah ia sampai. Dika menarik nafas berat. Jantungnya sudah hampir copot.
Jujur, siapa yang mau menghafalkan 400 kosa kata bahasa Belanda hanya dalam sehari? Ia bukan Albert Einsten! Sudah untung ia tidak telat.
Ditengah pelajaran, fokus Dika teralihkan. Ia masih terbayang-bayang dengan gadis itu. Menyesal tidak menghampiri dan bertanya.
Tapi, jika di tebak mungkin saja gadis itu mengikuti kegiatan UKM Mahapeka? Melihat bagaimana kegiatan Mahapeka berkaitan dengan alam. Ah, atau mungkin saja anak Biologi?.
Terbangun dari pikirannya, ternyata jam Mata kuliah bahasa Belanda sudah selesai. Agak lelah duduk selama tiga jam. Dika mematikan perekam suara di Hpnya.
''Dik, gua mau joki lagi donk!.'' ujar Rano.
Dika menggeleng, menolak tak mau.
''Yailah, pliss....kali ini gua kasih 200k dah!''
ESTÁS LEYENDO
Jalan Duka
Ciencia Ficción[UPDATE SETIAP RABU] Jalan Duka. Benar, ini adalah jalan Duka. Peran utama dalam hidup Dika saat itu adalah Putri Adista. Gadis yang tak sengaja tertangkap matanya saat ia berada di dekat Jendela Perpustakaan. Dika yang dingin terhadap wanita, ent...
