Prolog: Hancurnya Perjanjian

46 1 2
                                        

Kabut mulai menyelimuti malam Akadya yang cerah, bintang-bintang pun satu-persatu mulai tidak terlihat. Pos Perbatasan Akadya-Tintiam praktis tertutup kabut yang tebal. Terdengar suara teriakan seseorang yang sepertinya adalah perintah, lantas terlihat pasukan penjaga mulai memakai sesuatu di matanya.

"Kabut lagi eh, padahal dulu disini nggak sering bekabut, malah kayaknya nggak pernah tuh." Ucap seorang petugas lapangan bernama Aron yang sedang berbincang-bincang dengan petugas lapangan lainnya, Satya. "Perubahan iklim paling, tau sendirikan akhir-akhir ini suhu jadi lebih dingin, jadinya sering ada kabut." Respon Satya sambil memakai Fog Lens.

Kawasan pos perbatasan tersebut memang sedang mengalami penurunan suhu yang signifikan, belum diketahui apa penyebabnya. Rumor-rumor mulai bertebaran, dari hanya sekadar perubahan iklim sampai senjata biologis dari pihak Tintiam yang sedang bermasalah dengan Akadya perihal kebijakan dagang yang ketat.

Aron kembali ke posisinya, menjaga gudang senjata bawah tanah. Dia melanjutkan mengisi laporan kelengkapan senjata yang sempat dia tunda tadi, karena ada perintah memakai Fog Lens. Saat ditengah mengisi laporan, Aron tiba-tiba mendengar suara samar-samar dari ruang taktik yang hanya berbatas tembok beton dengan gudang. Suara samar-samar itu tidak terdengar seperti perbincangan yang santai ataupun serius yang biasa. Melainkan, suara tegas yang intens seperti ada masalah yang terjadi. "Paling perasaanku aja dah." Pikirnya dalam hati. Aron pun kembali mengisi laporan tanpa ambil pusing apa yang telah ia dengar.

Di sisi lain, Satya sedang memeriksa kabel komunikasi di menara yang mulai terganggu setelah kabut datang. Dia menemukan bahwa kabel komunikasi tidak ada yang bermasalah sama sekali, dia pun akhirnya mengecek sinyal radio lagi. Suara di radio masih terdistorsi, malah semakin menjadi-jadi. Satya melakukan berbagai hal yang ia bisa, tetapi hasil tetap nihil. Akhirnya dia meminta bantuan teman teknisinya yang lebih ahli untuk memperbaiki jaringan komunikasi, sebelum melaporkannya ke multimedia.

Suara itu mulai terdengar intens dan tidak nyaman untuk didengar, Aron mulai terganggu dengan suara yang bersumber dari ruang taktik. Tetap saja, dia harus terus mengerjakan laporannya yang sebentar lagi selesai. Lima menit selang, laporan itu selesai, tetapi suara di ruang taktik mulai bergemuruh. Suara langkah kaki mulai terdengar keras hentakkannya, sudah jelas ada hal yang terjadi.

"Coba ganti frekuensinya ke pos Tintiam." Perintah Teknisi ke Satya. Satya pun mengganti frekuensi radio dan alhasil suara radio masih terdistorsi. Teknisi berkerut dahi, "Padahal tadi dicoba ke Merkusuar kita, bisa tuh. Tapi pas diarahin ke Tintiam malah hilang sinyalnya." Tidak lama kemudian ada dua orang yang melintas sambil berteriak kesal, "KALAU BEGINI, PERJANJIAN ABADI ITU BAKAL HANCUR!! POKOKNYA MOF RADES HARUS TAU..." Suara kalimat tidak terdengar lagi seiring kedua orang tersebut menjauh. "Apa kita lapor saja ya ke multimedia? Sudah kita otak-atik masih aja belum bisa terhubung ke Tintiam." Satya memberi saran. Teknisi mengangguk pasrah, dan membereskan peralatannya.

Aron mencoba untuk lebih fokus mendengar suara di ruang taktik. Betul saja, petugas multimedia melaporkan bahwa ada kerusakan di jaringan komunikasi Tintiam, seakan-akan mereka merusak sinyal komunikasi tersebut. Bersamaan dengan laporan tersebut, pemandu lalu lintas udara datang melaporkan bahwa radarnya mendeteksi suatu pergerakan dari seberang perbatasan yang tak lama kemudian sinyal radar hilang. Aron mulai curiga bahwa Pos Tintiam lah penyebab semua ini.

Selesai melapor ke multimedia lewat Walkie Talkie, Teknisi bersalaman dengan Satya dan mulai kembali mengawasi kawasan pos lain. Satya juga harus beranjak dari tempat itu guna mengerjakan tugas yang lain. Belum saja dia beranjak, terdengar suara senapan, tetapi tidak terlalu keras, tampaknya senapan tersebut memakai peredam suara. Satya syok dan spontan mengecek sekitar. Alangkah terkejutnya dia melihat Teknisi tadi terkapar tak berdaya dan darah terlihat bercucuran di kepalanya. Satya syok bukan main, dia hampir tidak bisa bergerak melihat kejadian tersebut. Suara senapan terdengar lagi, tetapi peluru yang ditembak terlihat langsung di mata Satya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 02, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Treble CrestCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang