Sudah jadi rutinitas ibu setiap Selasa sore, beliau akan menurunkan foto kakakku yang terpajang di ruang tamu dan membersihkan piguranya dengan hati- hati. Itu adalah foto saat kakakku bertugas menjadi Paskibraka nasional. Mas Raha- begitu aku memanggilnya- memang sosok yang aktif berkegiatan di masa- masa sekolahnya. Kedua orangtuaku sangat bangga dengannya, bagaimana tidak, selain menjadi bagian dari Paskibraka ia juga merupakan siswa berprestasi di sekolah. Peringkat 1 angkatan selama 3 tahun berturut- turut, mewakili sekolah di olimpiade fisika Nasional, dan diterima di Universitas Indonesia dengan jalur SNMPTN.
Namun lima tahun lalu, ia menghilang. Awalnya Mas Raha mengabari kami kalau ia akan pulang karena liburan sudah tiba, ia berangkat dari Depok ke kampung halaman kami dengan kereta. Selasa sore itu, harusnya ia tiba di stasiun. Namun ia tak pernah sampai, berapa lama ibu dan bapakku menunggu ia tak kunjung datang. Ponselnya tak dapat dihubungi dan tak ada satupun orang yang tahu ia kemana. Sudah lima tahun, ia tak pernah pulang. Ayah dan ibuku sangat terpukul dengan kejadian ini, ibu sampai dirawat di rumah sakit selama dua bulan.
Oh iya, namaku Rigel. Aku adik bungsu dari Angkasa Raharja Yuswandi dan Elina Pramesti Yuswandi. Sekarang aku sekolah di SMA Pahlawan, mengikuti jejak kedua kakakku. Nama kakakku masih sangat melekat di sekolah ini. Orang- orang lebih mengenalku sebagai adik Alumni berprestasi aka. Raha daripada sebagai Ketua OSIS angkatan 57. Bahkan aku terpilih menjadi Ketua OSIS karena mereka tahu kalau aku itu adiknya Mas Raha, jujur aku benci fakta ini.
Kuakui aku ini memang tak sehebat Mas Raha. Aku siswa yang biasa- biasa saja di sekolah, sekarang aku duduk di kelas 11 MIPA 5 dan rangking paralelku berada di posisi 90- an. Tak jarang aku menerima kata- kata seperti, 'Kok kamu beda dari Raha?'. Memangnya kenapa kalau aku berbeda dengan Mas Raha?
Di rumah pun tak jauh berbeda, ayah dan ibuku tidak terlalu peduli denganku. Mau aku pulang tengah malam karena urusan OSIS mereka diam, seakan- akan aku itu tidak ada. Yang mereka bicarakan selalu saja Mas Raha dan Mbak Elin, namaku disebut saja sudah termasuk peristiwa langka. Terkadang aku merasa keberadaanku sudah dilupakan. Aku tidak keberatan, aku memang tak sehebat kedua kakakku.
"Andaikan Raha masih disini . . . " Suara lirih ibu memecah keheningan di tengah makan malam kami. Aku melirik lauk pauk yang ada di atas meja dan piringku, ayam bumbu kecap dan tumis buncis. Itu makanan kesukaan Mas Raha, ibu tampaknya semakin sering memasaknya akhir- akhir ini.
"Kemarin di toko ada anak mirip Raha, tapi dia bukan Raha!" Mendadak tangisan ibuku pecah, bapakku dan Mbak Elin sibuk menenangkannya, tapi aku hanya bisa diam dan mematung di kursiku. Aku tidak tahu harus berbuat apa, atau sebenarnya aku itu takut. Mas Raha hilang saat aku baru berusia 9 tahun, saat itu aku seperti kehilangan sosok orangtua dalam sekejap. Mereka fokus mencari keberadaan Mas Raha, bahkan disaat ibu masih terpuruk ia pernah memukuliku dengan histeris. Mungkin itu juga alasan aku tak berani mendekat padanya hingga sekarang.
Mendadak aku berandai- andai, jika aku yang hilang dan diganti dengan kembalinya Mas Raha apa mereka akan bahagia? Aku menatap sedih ibu yang dibimbing menuju kamar oleh Mbak Elin dan ayah. Mereka meninggalkanku sendirian di meja makan. Perlahan aku berdiri dan menuju teras depan, aku melamun sambil menatap pagar yang masih terbuka. Sayup- sayup aku masih bisa mendengar suara tangisan ibu, dadaku sesak mendengarnya.
"Kenapa harus Mas Raha yang hilang, kenapa gak aku saja?"
"Dek," aku mengangkat wajahku, kulihat Mbak Elin sudah berdiri di hadapanku sambil berlinang air mata. "Jangan bilang gitu."
Mbak Elin memelukku tanpa aba- aba, mendadak mataku terasa memanas, lalu aku menangis. Maafkan aku mbak, tapi apa artinya aku disini jika ayah dan ibu tidak menatapku sedikitpun? Mereka masih menatap Mas Raha yang hilang 5 tahun lalu, aku tahu melupakannya pasti sulit. Tapi kalau begini bukankah lebih baik aku saja yang menghilang dan Mas Raha yang kembali?
YOU ARE READING
GO HOME, I WILL GO
Teen FictionSudah lima tahun sejak peristiwa hilangnya kakak sulungku. Namun ayah ibuku masih terpaku pada sosoknya dan melupakan dua anaknya yang lain. - Rigel Yuswandi -
