Bogor, 2017
Iringan hujan yang begitu lebat menyambut penuh dengan ramah, malam yang terlihat begitu gelap gulita. Ketika alunan jam berdetik— tik itulah suaranya yang begitu terdengar keras. Jarum pendek menunjukan angka 6 dan jarum panjang menunjukan angka 9. Menandakan semua orang sudah tertidur lelap.
Dibalik ruangan yang berukuran kurang lebih 4 meter, dengan meja kaca yang menjadi hiasan, dan sofa berwarna putih merah. TV berukuran 21 inch yang menjadi pelengkap ruangan itu. Ruangan yang di alaskan samak lalu ada kasur tidur kapuk.
Pria paruh baya yang sudah berkepala lima, menggunakan kaos berwarna hitam akan tetapi masih sehat dan jasmani. Walau penyakit encok sering menyerangnya. Pria itu sedang tertidur di sofa bersama bantal dengan sarung hijau motif bunga putih. Tidak lupa sarung yang ia kenakan menikmati tidurnya apalagi posisi tidur menghadap kanan.
Sedangkan wanita yang usianya berbeda sepuluh tahun dengan suami nya, menggunakan daster berwarna orange dan hitam sedang asik menonton acara televisi berita di Rajawali Televisi. Berita panas yang kian belum usai-usai. Bola mata nya begitu fokus pada layar, ditemani si gadis kecil yang masih berusia tujuh tahun. Dengan rambut berwarna coklat yang terurai pendek, serta menggunakan baju piyama berwarna putih.
Satu lagi anak yang tertinggal, anak bujang satu-satu nya yang kini berusia 13 tahun. Ia pun tengah asik menonton acara televisi. Sedangkan kedua putrinya berada di kamar masing-masing, yang satu sudah tertidur dikarenakan esok harus bekerja, dan yang satu tengah mengerjakan tugas sekolah.
"Neng, tidur, atos peuting." seruan wanita itu yang menyuruh tertidur dengan logat sunda asli. "Aa, bantal dede." ucap gadis kecil itu yang sering menyebut dirinya Dede, lantaran dia anak terakhir. "Tidak mau!" ucap seorang anak bujang itu.
"Mama, si Aa.." aduan si anak kecil itu sambil merenghek
Wanita itu sangat begitu pusing mendengar ocehan dari putri kecilnya dan pikirannya yang tidak fokus pada acara televisi, "Aa, kasih bantalnya ke si Dede. Kamu tuh udah gede, kan, ada bantal lain, Aa." pinta wanita itu dengan lemah lembut
"Tidak mau!" kali ini ia menolak, dengan sedikit rasa marah. Entah mengapa anak lelaki itu begitu keras kepala.
Gadis kecil itu pun mengambil secara paksa, lantaran itu bantal kesayangan. Ia mengetahui bahwa kakak lelaki yang satu ini selalu buat pulau. Maka nya ia menolak bantal kesayangannya dipakai oleh kakaknya sendiri.
"Aa ih!!" ucapnya sambil menarik bantal, anak lelaki itu tidak mau merasa kalah ia pun menarik bantal tersebut. Sampai membuat si gadis kecil menangis. Wanita itu pun kesal, "Aa kasih!" tegur-nya. Pria paruh baya lalu terbangun sebab suara berisik, "Ada apa?" tanya nya, "Tuh, kan, Bapa jadi bangun." ucap wanita.
Mereka masih saja memperebutkan bantal, "Aa pakai bantal ini aja!" tunjuk si wanita itu sambil memberikan bantal. Sedangkan lelaki itu pun menolak.
"Aa ih.." ucapnya yang kini kian menangis. Lalu, anak lelaki itu memberikan bantal itu dengan melempar. Dan, meja kaca yang begitu berat berada di hadapannya pun ia pegang dan ia lempar.
BRENGGGGGGGGGG.......
Sehingga membuat anak gadis yang tengah mengerjakan tugas bangkit dari kamarnya menuju ruang tengah. Ia melihat adik kecil itu ketakutan lalu memeluk kakak perempuannya. "T-Teh ..." ucapnya dengan sendu dan ketakutan. Lalu kakak itu memeluk kembali.
Ia pun mengusap air mata adiknya, "Udah Dede tidur dikamar sama Teteh," pinta nya sambil mengantar si gadis kecil ke kamarnya lalu menidurkannya. Gadis kecil itu tidak bisa tertidur walau ia sudah di selimuti dengan selimut tebal berwarna merah motif bunga-bunga. Sedangkan anak perempuan itu menghampiri Ibu nya, dan pertama kali nya ia melihat Ayahnya menangis serta Ibunya pun menangis. Ia pun mengambil karung di teras, lalu merapihkan pecahan kaca itu. Dan menyapu ruang tamu tersebut.
"Dasar anak t****!!" ucapnya dalam hati, ia merasa kesal dengan adik laki-laki satu-satu nya, baru pertama kali ia melihat sosok kedua orang tua nya menangis.
Anak laki-laki itu pun pergi dari rumah, entah menuju kemana. Lalu, wanita itu masih saja menangis dan menyalahkan kedua anaknya. Pria paruh baya itu pun pergi ke teras lalu terduduk melamun.
"Sudah, Ma ..." ucapnya sambil memeluk wanita itu.
Sekitar jam sebelas lewat, wanita itu tidak tertidur, ia pun pergi untuk sembahyang, begitu pun dengan pria paruh baya.
Dan anak perempuan itu, setelah usai merapihkan ruang tamu. Ia menuju kamar nya, lalu melihat adik kecilnya belum tertidur lantaran masih ketakutan mendalam akibat kejadian itu. Ia pun memeluk adik kecilnya, "Udah, gak apa-apa," ucapnya yang menenangkan adik nya sambil me-nina bobo- kan.
______________________________________
Kisah yang terjadi lima tahun lalu, yang teringat dalam benak, sampai kini tidak bisa dilupakan. Dan, anak kecil itu— namanya Aini, kini harus memiliki trauma dimana ia tidak bisa melihat perkelahian, ia merasa ketakutan bila kakak lelaki nya— Rian, tiba-tiba marah. Kemarahan Rian bagaikan setan yang merasuki, dan itu bukan dia. Bukan Rian yang kesurupan, melainkan amarahnya begitu tinggi ditambah rasa ego nya yang begitu tinggi. Walau kini, usia dia sudah delapan belas tahun tetap saja ego dan amarahnya seperti anak yang terjadi di kejadian lima tahun silam.
Kejadian itu, membuat dadaku sesak. Sesak sekali. Apalagi melihat linangan air mata pada kedua malaikat ku, tidak ada kata-kata lain lagi yang mampu ku ucapkan selain kecewa.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
DIARY TUN (Kisah Kehidupan Tun) - [[Selesai]]
Kurgu OlmayanSebuah catatan kehidupan seorang gadis yang hidup sebagai anak buruh rongsokan. Dan segala kenangan di masa lalu yang membuat dirinya mengubah cara berpikir nya tentang keluarga, saudara, dan masyarakat di sekitar rumahnya. ______________ Note : Ce...
![DIARY TUN (Kisah Kehidupan Tun) - [[Selesai]]](https://img.wattpad.com/cover/321907353-64-k102320.jpg)