#Prolog-HOME

44 5 0
                                        

Pancaran sinar mentari pagi menembus jendela kamar Hana, menemani gemersik pagi yang menyapa ramah. seperti biasa Hana sedang sibuk dengan laptop dan isi kepalanya yang pagi ini sedang melakukan kerjasama sebaik mungkin, dengan segelas macha hangat kesukaannya yang membantu mengekspres otak kritisnya.

Hana sangat menyukai suasana pagi hari. Suasana pagi memberikan salam semangat untuknya dengan udara yang segar dan pemandangan yang bersihin.

Hana merasa ide-ide cemerlang bermunculan jika melakukan tes otak setelah semalaman tidur lalu bangun dengan otak yang fresh di pagi hari. Apalagi jika hari itu adalah hari yang bebas untuk siswi yang masih menikmati bangku sekolahan seperti Hana "bukan rayap yaa!" pasti Hana akan menghabiskan waktunya berada di dalam kamar dengan posisi komputer yang selalu berhadapan dengan dirinya, hingga kadang dia tidak menyadari berapa jam yang dia habiskan untuk kesenangannya.

Ada kalanya pagi hari juga membuat Hana sangat muak, apalagi kalau bukan untuk melakukan kegiatan yang itu-itu saja, mempersiapkan diri untuk menjadi seorang gadis manis berseragam. walaupun begitu Hana selalu siap melakukannya dan hampir tidak pernah terlambat untuk berangkat ke sekolah.

Hana menempuh sekolah menengahnya di salah satu sekolah Swasta di kotanya, yang letaknya tidak jauh dari rumah Hana. Hana berangkat ke sekolah dengan menggunakan kendaraan favorite pribadinya yaitu sepeda roda dua miliknya.

***

Hari ini adalah hari terakhir Hana dekat dengan keluarganya, duduk di kamarnya tempat ternyaman bagi Hana untuk menghabiskan waktunya setiap saat.

Hana sudah melewati tiga tahun lamanya untuk menyelesaikan pendidikan sekolah menengah, yang artinya Hana sudah lulus dan dapat melanjutkan pendidikannya di universitas impiannya UNABI.

"Kakak..kak..Nana sayang, apakah kamu sedang bersiap,. jangan sampai ada barang penting kamu yang ketinggalan ya,"terdengar teriakan Bunda Atma dari luar kamar sangat jelas.

"Iya Bun, kakak sudah menyiapkan semuanya, tidak ada yang ketinggalan kok,"balas Hana teriak dari dalam kamar sambil masih sibuk dengan ketikan komputer miliknya.

Hana resmi menjadi mahasiswi di universitas mulai hari ini. Akan memulai kehidupan baru bersama orang-orang tidak pernah Hana temui sebelumnya dan akan tinggal bersama dalam satu asrama.

Hana berhasil terdaftar di universitas impiannya, sejak di sekolah menengah. Universitas yang dia yakini akan membuatnya belajar dengan baik melalui langkah-langkah kecil hingga mencapai mimpi besar yang dia inginkan.

Menjalani kehidupan dengan tingkat pendidikan Universitas adalah tanggung jawab besar bagi Hana, disinilah hidup akan mulai sedikit di sadari oleh remaja seperti Hana. Dari dulu Hana adalah remaja yang sangat menyukai berbagai hal baru untuk di lakukan sendiri entah itu untuk kepentingan dirinya sendiri maupun orang lain. Jika sesuatu itu tidak merugikan suatu pihak Hana akan melakukan yang terbaik semampunya.

Seakan tidak ada yang dapat menghentikan mimpinya jika belajar tanpa henti adalah jalan satu-satunya Hana akan melakukannya meski terkadang tidak memperhatikan kesehatannya, apapun demi keberhasilan dari tujuannya akan Hana lakukan.

Dapat masuk dan diterima sebagai mahasiwi berprestasi dengan mendapatkan beasiswa penuh untuk S1 di Universitas impiannya adalah tujuan serta mimpi besar bagi seorang Hana. Tidak mudah, namun Hana melihat apa yang akan ia dapatkan jika dirinya bekerja keras dan melakukannya dengan baik.

Kedua orang tua Hana lebih dari kata mampu untuk mebiayai pendidikan Hana hingga selesai. Dari latar belakang orang tuanya yang terbilang bukan orang biasa bahkan bisa membuat Hana tidak perlu ikut ujian tes masuk Universitas dan langsung terdaftar sebagai manasiswi disana jika Hana menginginkan.

Namun Hana dengan fisi hidupnya ' Hana and her crazy mindset' berfikir saatnya untuk memberikan dirinya challenge (tantangan) yang membuat dirinya spesial. Bukan untuk bersenang-senang namun baginya dimasa mudanya ini untuk bisa mulai belajar bertanggung jawab untuk diri sendiri, diatas kaki sendiri dan untuk mendapatkan segala hal yang ingin Hana jalani untuk hidupnya sambil memulai membangun pondasi dari langkah awal yang luar biasa untuk mencapai impian yang luar biasa juga di masa depan.

***

Orang tua Hana serta si bungsu adiknya memanggil Hana dengan panggilan akrab 'Nana', sebenarnya Hana sedikit aneh di telinganya mendengar panggilan itu, namun karena setiap saat sudah terbiasa Hana memutuskan untuk menerima dan mengiyakan jika orang-orang tersayangnya ingin memakai namanya seperti itu. Sebab demikian Hana membenarkan jika nama 'Nana' hanya boleh di gunakan untuk seseorang yang sangat dekat dengan dirinya seperti Ayah, Bunda serta Adiknya.

"Kakak,. aku libur sekolah hari ini, aku akan ikut Ayah dan bunda mengatarkan kak Nana ke Universitas,"teriak Abian dari luar pintu kamar sambil sebelumnya mengetuk kemudian berlalu.

Hana yang terlalu fokus kepada dunianya, sampai tidak sempat menjawab teriakan Abian adiknya.

Dalam setiap hari tatkala Hana berdo'a kepada yang kuasa, Hana tidak pernah lupa untuk mengucapkan rasa syukur yang besar dimana ia bisa terlahir di dalam keluarga yang mencintai dan menbimbingnya hingga tumbuh menjadi gadis remaja yang tanpa sedikit kurang dari kasih dan sayang ayah, bunda serta si bungsu adiknya. Selama ini hanya keluarga dan dirinya sendiri yang Hana punya.

Keluarga yang begitu hangat dengan suportsistem yang luar biasa, Hana dan Abian adiknya begitu dekat dan saling menyayangi satu sama lain. Bukan seperti kakak beradik pada umumnya yang kadang saling bertengkar ataupun dengki satu sama lain. Hangatnya pelukan, ciuman adalah suatu hal yang tidak penah di lewatkan setiap hari untuk satu keluarga ini mengungkapkan kasih sayang mereka.

Kedua orang tua Hana mengajarkan bagaimana seharusnya sikap dan perilaku kepada saudara terutama adiknya.

Abian sangat dekat dengan Hana, bahkan sangat lengket. Dia tidak bisa jika tidak melihat wajah kakak cantiknya itu dalam sehari. Tempatnya bercerita, menemaninya bermain bahkan dia selalu sigap jika Hana kakaknya membutuhkan bantuan darinya.

Di masa kecilpun, tiada hari yang Abian jalani tanpa kakaknya Hana disampingnya menjaga dan menemaninya.

Tok..took,.

"Nana apakah semuanya sudah siap nak?,"Ayah mengetuk pintu kamar Hana.

"Sedikit lagi Yah, kakak akan segera keluar menemui kalian.."teriak Hana.

"Ayah mau melihat persiapanmu, Ayah boleh masuk Nak?"tanya Ayah.

"Iya Yah, masuk saja pintunya tidak kakak kunci kok.."

"Nak, ini barangmu sudah semuanya, apa kamu sudah pastikan tiada yang terlupa?"Ayah yang membuka pintu dan langsung melihat barang yang akan aku bawa untuk kebutuhan ku sebagai seorang mahasiswi dan untuk pernama kalinya tinggal berpisah dengan adik, bunda dan Ayahku..

"Pasta gigi, sabun mandi, body care, sisir dan parfum kamu sudah di kemas semua kan Nak..."Ayah kumat dengan kerempongannya ngingetin aku yang suka ceroboh memang dari dulu (pelupa)".

"Kak Na udah handel semuanya kok Yah, tenang aja persiapan Nana udah Sembilan puluh Sembilan persen kok, tinggal laptop Nana aja yang belum di kemas nih masih Nana pakai soalnya tadi, tapi sekarang udah selesai."jawab Hana.

"Nah siap deh sekarang! "Hana siap menggendong tas di bahu sambil menatap Ayah yang tersenyum kepada Hana.

"Anak Ayah benar-benar sudah dewasa sekarang.."Ayah melangkah lalu memeluk Hana dengan erat dan haru.

"Nana sayang Ayah, terimakasih sudah membesarkan Nana dengan banyak cinta kasih sayang.."air mata Hana tanpa aba-aba menetes di baju Ayah.

"Tidak ada yang lebih membahagiakan dengan memiliki kalian disisi Ayah,"Ayah mengecup kening Hana sambil memluk lebih erat.

"Ayo, kita akan segera pergi,"terdengar suara Bunda di pintu kamar Hana sambil tersenyum sedu.

Hana berjalan menuju mobil Ayah bersama Bunda yang merangkul bahu Hana.

Lalu Hana mulai tersadar bahwa...

***

AsyhanaWhere stories live. Discover now