Kisah 2

22.6K 1.6K 34
                                    

Rintik hujan mulai berjatuhan, Krystal berlari mencari tempat berteduh. Cafe Imperal menjadi tujuan terdekatnya saat ini, dia memasuki cafe seraya mengibas-ngibaskan rok spannya yang sedikit basah karena cipratan air.

"Selamat datang, untuk berapa orang kak?"

"Sendiri mba," jawab Krystal dengan senyuman.

"Mari ikuti saya."

Krystal mengikuti langkah pelayan berbaju hitam dengan aksesoris berwarna merah di saku kemejanya.

"Silahkan, ini tempat terbaik di cafe ini. Anda bisa melihat pemandangan di luar dan bisa menikmati susana di dalam yang nyaman."

"Makasih."

Setelah memesah hot green tea latte dan chocobluebery Krystal membuka novel yang dia bawa. Pulang meeting dan harus terjebak hujan adalah hal tak menyenangkan. Jika meeting di tempat yang bisa dia jalan-jalan sembari menunggu hujan tak masalah. Tapi ini di tempat yang jauh dari peradaban, hanya ada cafe Imperial yang terkenal dengan viewnya yang cantik.

Krystal mulai hanyut dalam bacaannya dan tak sadar jika malam sudah datang. Diliriknya jam di pergelangan tangan kirinya menunjukkan pukul delapan malam. Dia segera bergegas dan membayar.

"Maaf," ucap Krystal tak sengaja menubruk seseorang saat berbalik dari kasir.

Dia langsung keluar dan memandang langit yang sangat gelap tanpa bintang. Dia benci hujan, karena hujan awan mendung menghalangi sinar bulan dan bintang sampai ke bumi. Terasa menakutkan dan dingin.

Hujan jugalah yang masih membuatnya merasakan sesak di dada walaupun dia sudah melewati enam tahun ini dengan sangat baik setelah dia memutuskan untuk membuka lembaran baru.

"Krystal."

Krystal menoleh ke belakang saat namanya di panggil, tubuhnya membeku seketika saat matanya menangkap sosok Zico yang telah lama tak dia temui.

Sosok itu perlahan mendekat, membuat kaki Krystal mundur dengan sendirinya tanpa diminta.

"Tunggu," seru Zico melihat langkah kaki Krystal yang mundur teratur.

Tangan Zico sigap menahan pergelangan tangan Krystal. Tak ada respon baik dari Krystal, hanya tangan yang gemetar.

Rintik hujan mulai berjatuhan lagi, Krystal merasa dejavu. Ditepisnya tangan Zico, dia pun lari menjauh sejauh yang dia bisa. Saat tak ada lagi suara Zico, Krystal mengatur deru nafas dan jantungnya. Matanya terus awas menatap ke sekeliling. Tak dia sia-siakan sedikit pun saat ada taksi melintas di dekatnya. Dia ingin segera pergi menjauh dari tempat itu. Dia tak ingin bertemu dengan sosok masa lalu.

Bukan dia ingin lari dari kenyataan tapi dia merasa belum siap, apalagi harus bertemu Zico di saat musim hujan. Tetap menyakitkan walaupun berusaha tegar. Karena kenangan telah melukainya dalam.

"Kemana mbak?"

Pertanyaan supir taksi menyadarkan Krystal dari bayangan masa lalu. Diusapnya air mata yang sempat membasahi sudut matanya.

"Apartemen Diamond pak."

Sepanjang jalan degub jantung Krystal masih berdetak cepat dan keras. Dia tak merasa mimpi apapun semalam, tapi kenapa setelah enam tahun berlalu dia harus bertemu Zico. Padahal dia tak pernah lelah berdoa agar bisa melupakan masa lalu dan meminta cerita baru yang indah tanpa ada bayangan kenangan lagi. Dia sudah berusaha ikhlas dengan semuanya tapi kenapa disaat dia sudah mulai hidup normal, Zico harus muncul.

'Semoga tadi adalah pertemuan tak sengaja yang pertama dan terakhir.'

"Sudah sampai mba."

"Ah, iya makasih pak. Ambil saja kembaliannya."

"Makasih mbak."

Krystal masuk apartemen masih dengan mata awas, dia masih merasa takut ada Zico di dekatnya. Bukan Krystal dendam atau benci, tapi dia hanya ingin menghindari kenangan yang tak ingin dia kenang sedikit pun. Mencintai sahabat adalah kesalahan terbesarnya, mencintai dalam diam juga kesalahannya, dan menyatakan cinta saat kesempatan sudah berlalu adalah kesalahan yang memberinya penyesalan terdalam.

***

Sore itu mendung sudah menguasai langit, angin pertanda hujan akan turun sudah terasa, Krystal dengan wajah lelahnya berjalan tak semangat dari arah kampus pusat setelah mengambil foto dan mengembalikan toga yang dia pinjam untuk acara wisuda seminggu yang lalu.

Tanpa sengaja dia bertemu pandang dengan Zico, sudah empat hari mereka tak bertemu atau pun berhubungan sejak kejadian malam itu, malam pengakuan Krystal pada Zico. Krystal baru akan menyapa dan berusaha tersenyum tapi Zico sudah membuang muka dan membelokkan langkah, Krystal mematung di tempatnya. Zico menjauhinya, sebegitu bencikah Zico atas perasaan tulusnya? Krystal menarik nafas panjang melegakan dadanya yang terasa sesak. Merasa dirinya teramat konyol.

Andai saja malam itu dia tetap diam dengan perasaannya, semua ini tak akan terjadi. Sekarang dia merasa sepi, sendiri, konyol dan memalukan.

Hujan mulai berjatuhan perlahan tapi pasti dan mulai deras, Krystal menengadah menatap langit gelap. Setiap hatinya sakit,hujan seolah ikut menemaninya bersedih. Dia menerjang hujan menuju halte depan kampusnya, mengabaikan rasa dingin yang menusuk karena bajunya yang sudah basah kuyub.

Melintas mobil Jeep merah milik Zico tapi mobil merah itu terus melaju, biasanya Krystal duduk manis di sana tanpa kehujanan. Krystal menguatkan hati, ini semua salahnya. Tak seharusnya ada cinta untuk seorang sahabat jika tak ingin ada yang berubah dan terluka.

Happy reading...
Kalau tanya update judul lain kapan, jawabannya saya mau UTS dl hehehe... *nasib jadi bocah kuliahan lagi
Makasih

Love, ai

Dermaga Masa LaluTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang