"Hi, apa kabar?"
Sebuah pesan membuat lamunan seorang gadis dengan iris hazel itu buyar, ia melirik ke arah ponselnya sebentar, kemudian melanjutkan lamunannya.
Tidak, dia sedang tidak banyak pikiran. Namun, entah sejak kapan melamun menjadi candu bagi-nya.
Syahlaa Maysoora, seorang gadis dengan iris hazel, alis tebal dan pipi chubby. Ia terlahir dari keluarga sederhana, ayahnya hanya seorang petani biasa sedangkan ibunya hanya seorang Ibu rumah tangga.
Gadis yang kerap di panggil Lala ini merupakan anak bungsu, kakak perempuan pertamanya sudah menikah dan sekarang tinggal di kota, sedangkan kakak laki-laki nya tengah menempuh pendidikan di luar negeri.
Lala berjalan menuju ke arah belakang rumah, di sana terdapat ibu tengah memetik cabai rawit.
"Ibu," panggilan dari Lala membuat ibu menoleh, ibu berjalan sambil membawa baskom berisi sayur-sayuran yang baru ia petik.
Ibu duduk di kursi panjang yang tersedia di sana, "Kenapa de?"
Lala ikut duduk di sebelah ibu, kemudian menggeleng.
"Lala kan udah lulus SMA, terus alhamdulillah juga keterima juga di Universitas I kalau Lala ambil, boleh bu?" Tanya Lala sambil merapikan kerudungnya yang sedikit berantakan.
"Boleh atuh, ibu malah dukung banget, tapi Lala udah bilang sama bapak?" Tanya ibu.
"Belum ibu, takut ga diizinin." Lala berucap dengan nada lesu.
"Coba dulu aja, kalau udah di bolehin nanti telpon teteh, deket kan Kuliahannya sama rumah teteh?" Ucapan ibu dibalas anggukan oleh Lala
"Tapi nanti gak ada yang ngurus ibu sama bapak."
"Hei, hei, anak ibu yang paling cantik lihat ibu sini..." ibu mengambil tangan sebelah kiri Lala, membawanya ke pangkuan-nya. "...Ibu sama bapak masih muda, masih bisa jaga diri, jangan khawatirin kami, mending kamu fokus sama pendidikan kamu aja ya, buat ibu sama bapak bangga sama ade." Ucap ibu sambil mengelus lembut punggung tangan Lala.
Mata Lala berkaca-kaca, kemudian ia memeluk ibu dengan erat. Ibu mengelus lembut punggung Lala, "Sudah jangan nangis, mending bantu ibu masak!" Bukan sebuah pertanyaan, tapi sebuah perintah.
Lala melepaskan pelukannya, kemudian berkata, "hayu atuh"
Lala berdiri terlebih dahulu, kemudian membantu ibu berdiri. Ia berjalan terlebih dahulu sambil membawa baskom ke dapur, sedangkan ibu mencuci tangan terlebih dahulu.
"Ibu, mau di masak apa ini?" Tanya Lala kepada ibu yang baru saja masuk.
"Bayam nya di bikin sayur aja, jagungnya kamu bikin bakwan, sama jangan lupa bikin sambel juga. Ibu mau mandi dulu, gerah."
"Oke, ibu."
•••••
"Pegel banget gila!" Keluh seorang anak laki-laki sambil meluruskan kaki nya.
"Gara-gara Lo nih, jadi gini kan!" Ucap lelaki berambut batok sambil menatap tajam lelaki berkepala botak.
"Lah? Kenapa jadi nyalahin Baim gini? Salahin noh si Bilal." Ucap Lelaki bernama Baim dengan nada sedikit ngegas.
"Kenapa jadi gue? Bukannya si Satria biang keroknya?" Tanya Bilal sambil menunjuk Satria — Lelaki tanpa rambut —
"Iya deh, salahin aja gue, udah biasa juga." Ucap Satria dengan nada sedikit pasrah.
"Bagus, sekarang karena Lo udah bikin kita telat ngumpulin tugas, traktir kita di kantin." Lelaki berambut batok — Alga Immanuel — sambil berdiri.
"Ayo sat, traktir kita-kita." Lanjut Alga sambil menarik tangan Satria supaya berdiri.
"Iya! Iya! Ayo!" Ucap Satria sambil berjalan terlebih dahulu.
"Heh! Bengong aja, buruan ikutin si setan!" Alga berlalu begitu saja setelah mengucapkan itu.
"Ikut gak im?" Bilal menoleh, menatap Baim yang tengah bersender di pohon mangga.
"Ayo, tapi gendong gue ya Lal."
"Dih, ogah!"
•••••
Syahlaa Maysoora
Alga Immanuel
Satria Agustian
Ardian Baim Sebastian
Bilal Graham Imtiaz
Ade: Panggilan sayang dari bapak ibu...btw aku rombak, awalnya Lala anak sekolahan jadi anak kuliahan.
Start : Rabu, 6 Juli 2022
Finish :
YOU ARE READING
SYAHLAA
Teen FictionSyahlaa Maysoora, seorang gadis desa yang memilih melanjutkan pendidikannya di kota, dengan tinggal bersama kakak perempuan pertamanya. Keberadaan nya di Universitas I membuat seorang Bilal tertarik padanya, pasalnya selain karena senyuman Syahlaa y...
