Malam Itu dan Lelaki Balaclava

3 0 0
                                        

Di sinilah aku. Di dalam gemerlap kehidupan kota. Hiruk pikuk deru mesin, lampu menyilaukan dari depan, kanan, dan kiri, melodi musik, percakapan pinggir jalan, dan mata mengantuk.

Lampu sign kiri kunyalakan. Seperti malam sebelumnya, jalanan di daerah ini tak ramai manusia lalu lalang, tipikal daerah pinggiran kota, jika bukan jalan utama, sudah pasti lampu penerangan didominasi oleh lampu teras warga, dan dingin yang lebih terasa.

Aku tidak asing dengan suasana ini, 21 tahun aku hidup di area yang lebih minim penduduk, dan baru 2 tahun belakangan menjamah area urban. Main-mainku ke coffee shop dengan mural 'Lagom Kopi' kujadikan break sejenak dari sesaknya keramaian.

Rencanaku mencari ketenangan justru tersandung sebuah acara yang ternyata sedang berlangsung, aku membeku sejenak, melepas helmku pelan.
"ah, sial, biarlah, aku sudah jauh-jauh sampai sini" umpatku dalam hati.

Aku tak terlalu ingin mengakrabi acara dengan luapan orang di dalamnya, terlalu banyak orang dan suara bagiku memusingkan.
Menerjang kecewa dan keluhku, aku menyapa Igo, barista sini yang memang kukenal.
Aku juga mengenal pemilik kafe ini, rasa canggungku perlahan mengecil.

Wesa dan Runi, dua sejoli yang biasanya jadi pengawas pekerjaan barista, tukang goreng nugget, sampai yang memasang lampu, sekarang repot berjalan kesana-kemari mengatur jalannya acara. Wesa melambaikan tangan dari kejauhan. Runi entah dimana, mungkin sedang repot membuka botol sirup vanilla yang kebetulan tadi habis.

Aku memilih meja di pinggiran, kanan kiriku nampak beberapa orang duduk dan berdiri.
Acara kali ini lumayan riuh, macam-macam lagu dibawakan, bahkan kostum para pengunjung juga beragam.
Aku menggigit bibir kikuk, ya, mana aku tahu kalau ada costume party!

Es macchiato latte kusesap sambil menertawakan mereka yang bergoyang, berputar-putar saling menubruk tubuh satu sama lain dalam alunan lagu.

Suasana mulai cair, beberapa orang yang kukenal ternyata juga hadir, kami membentuk perkumpulan di meja yang sekarang kutempati. Mengobrol ini itu, meninggikan suara sedikit karena disaingi suara speaker.

Sephta, mengenakan jaket kulit hitam dengan rambut klimis, sepertinya dia kosplay bintang rock. Ah, menurutku dia pakai apapun tetap menarik. Naluri alamiahku dalam mencari pejantan yang 'unggul' berkata demikian.

Aku kembali meneropong sekitar, menemukan keunikan lainnya. Entah pemuda yang tiba-tiba tertidur, entah karena mengantuk atau mabuk, para pasangan yang ingin kukirim keluar bumi karena menyebabkan polusi pandangan dan perasaan, atau apapun emosi yang bisa mataku tangkap.

Di meja depanku, agak ke kiri sedikit. Siapa dia? Lumayan nyentrik. Celana cargo hitam, kaos hitam, rompi neon glow in the dark, dan balaclava hitam.
Bibirnya cukup tebal, matanya coklat kehitaman, bulu matanya agak lentik. Ada gelap dan abu dalam matanya, ada tajam dan ruang, seperti memasang lensa kamera fuji yang sudah lawas, mengambil satu dua gambar, dan tak sengaja melihat-lihat gambar lama.

Dia menatap ke arahku atau belakangku? Mengapa pas tertuju mataku?
Aku tidak ingin terbawa praduga. Tapi instingku menggebu-gebu.
Rasa ingin tahu bercampur dengan spekulasi-spekulasi: siapa dia? Apa aku mengenalnya? Apa dia mengenalku? Apa kami pernah bertemu? Apa dia sedang memperhatikanku? Oh, aku ingin tahu. Tidak, aku tidak perlu. Membuang waktu. Tapi aku tidak bisa keluar dari kepalaku sendiri. Apa ini pengaruh kafein? Atau embusan nikotin?

Meja kami berseberangan dan posisi duduk kami yang bisa saling melempar pandang, hanya tertutup tubuh orang-orang yang berjalan. Aku memandangi matanya dalam.

Aku diam tak berekspresi, aku tidak ingin merayunya, atau memberi tanda-tanda ambigu, atau terlalu percaya diri, atau mencari perhatian, atau apalah romans-romans ftv itu.
Aku hanya ingin menelisik ke dalam matanya.

Sesekali tatapanku berbalas. Tegukanku jadi agak berat.
Obrolan teman-teman semejaku mengalihkan perhatian. Aku sudah tidak tahu apa tujuan awalku kesini. Tapi disinilah aku, ingin lari dari satu keriuhan, dan terjun ke dalam keriuhan lainnya. Sial.

Waktu mengayuh begitu cepat, durasi hanya diisi melalui jumlah lagu dan para performer, bukan detik dan menit.

Malam memasuki pertengahannya, debar sound yang memainkan penampilan cover lagu "Pride and Joy" by Stevie Ray Vaughan dari salah satu band menjadi salah satu lagu penutup acara malam ini. Aku sekonyong-konyong ditarik ke tengah area lapang. Kini aku jadi gladiator yang juga siap tidak siap, adu bahu dan kencang-kencangan suara, tidak ada juri disini, menyanyi saja, urusan merdu atau tidak, tak masalah.

Sephta seolah-olah menjadi instruktur senam, semangatnya seperti korek api kayu yang memantik gerak kumpulan kami. Kini perkumpulan meja bergerak menjadi putaran dan guncangan di lantai dansa. Aku tertawa kecil lalu ikut melonggarkan sendi, menggangguk-angguk dan menghentakkan kaki.
Sekitarku mulai riuh, semua tenggelam dalam dansa dan irama.

Alunan "KISS-I Was Made For Lovin' You" kini dimainkan. Aku menarik diri mundur 4 langkah kecil, ketika punggungku tak sengaja menabrak sesuatu, yang kurasa tubuh orang lain. Aku berbalik cepat, sedikit mendongak. Mataku terjebak dalam tatapannya.
Di sekeliling telingaku berputar lirik "in the darkness, there's so much I want to do".
Lelaki dengan balaclava.

Dua mata kami yang saling bertatapan tak menyampaikan pesan apa-apa, bibir yang saling bersebarangan tak menyanyikan lagu apa-apa. Matanya menatapku dalam dan diam sampai lirik "And, girl, you are made for me".

"tonight, I wanna see it in your eyes
Feel the magic
There's something that drives me wild"
Aku yakin dia mendengar alunan lirik yang sama.

Matanya menatap mataku, sejenak ke arah dagu, kembali menatap mataku, lalu tersenyum...
"aku ga tahu kenapa, tapi rasanya aku sudah mengenal mu".

tulisan yang tidak pernah selesaiStories to obsess over. Discover now