Helai-helai daun pohon peluruh jatuh mengenai tubuh seorang gadis setelah tertiup dibawa angin. Daun-daun yang mulai menguning itu wanginya seperti aroma cengkeh. Gadis tersebut sedang bersandar pada pohon yang dedaunannya mulai berguguran itu, tampak menikmati suatu sensasi yang dirasakannya saat ini. Di sebelah kirinya terdapat rerumputan yang menjulang tinggi, tampak bermain dengan semilir angin yang menyapanya. Rerumputan tersebut aromanya manis, seperti karamel. Hangat sinar matahari yang menerpa tubuhnya berbau seperti kue jahe.
Bagi Shaula, segala hal di dunia ini memiliki aroma tersendiri. Baginya buku-buku ensiklopedia memiliki aroma seperti bunga lavender, sedangkan kicau burung milik tetangganya tercium seperti aroma buah mangga yang sudah matang. Bukan hanya itu, ia juga bisa melihat warna dari segala hal yang ada di sekitarnya. Ia melihat warna merah ketika mendengar musik metal dan melihat warna hijau pada angka tujuh.
Shaula sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa membaui suara atau mengapa ia bisa melihat warna pada suara dan angka. Ia masih ingat, pertama kali ia merasakan sensasi tersebut yaitu ketika ia mencium wangi vanila pada bulan purnama waktu berumur tujuh tahun. Saat itu ia berpikir bahwa ia hanya berhalusinasi, sebab mana mungkin bulan memiliki aroma? Tetapi ketika ia melihat bulan purnama berikutnya dan ia masih mencium wangi vanila, saat itulah ia yakin kalau ia bukannya berhalusinasi. Ia memang bisa mencium wangi dari bulan purnama.
Ketika menyadari hal itu, ia merasa gelisah. Bukankah itu aneh? Apakah alat inderanya bermasalah? Apakah ia sudah gila? Tetapi selain penggabungan indera yang dirasakannya, ia tidak merasakan kejanggalan lain. Ia yakin sekali kalau ia baik-baik saja.
Shaula ingin sekali menceritakan hal ini kepada orang tuanya, tetapi keinginannya tersebut ia tepiskan dengan segera. Ia tahu ada beberapa masalah yang disembunyikan oleh orang tuanya. Ia tidak perlu membebani pikiran mereka lebih banyak lagi. Lagi pula kalau ia menceritakannya pun, belum tentu orang tuanya akan percaya. Ia tidak mau dikira gila. Lebih baik hal ini ia simpan sendiri saja, toh sensasi yang dirasakan olehnya itu tidak mengganggunya sama sekali. Paling tidak begitulah yang diyakini oleh gadis tersebut pada saat itu.
***
Tak terasa kini ia sudah menginjak bangku kelas dua SMA dan usianya 17 tahun. Dua tahun lalu, Shaula tanpa sengaja menemukan istilah yang menurutnya mirip dengan keadaan yang dirasakannya. Istilah tersebut merupakan istilah medis bernama Sinestesia. Dalam artikel yang dibacanya, sinestesia merupakan kondisi dimana panca indra manusia saling tumpang tindih. Setelah membaca penjelasan mengenai sinestesia, ia merasa lega. Ternyata sensasi yang dirasakannya tersebut bukan semerta-merta karena ia gila.
Berdasarkan informasi yang didapatkannya, sinestesia sering terlihat sejak kecil ketika anak baru belajar angka dan huruf. Sinestesia lebih sering terjadi pada perempuan dan dapat diturunkan secara genetik. Sinestesia memiliki banyak sekali macamnya. Konon dapat mencapai 150 macam. Sinestesia yang paling sering terjadi adalah Grapheme-color synesthesia, yaitu ketika huruf maupun angka dapat memiliki warna yang spesifik dan Chromesthesia, yaitu ketika suara berasosiasi dengan bentuk atau warna.
Terhitung genap sepuluh tahun sejak Shaula merasakan sensasi penggabungan indra tersebut. Pada mulanya, sulit untuk menjalani keseharian karena segalanya terlalu berwarna dan bising. Ia dapat melihat sesuatu yang tidak dapat orang lain lihat dan ia juga dapat mendengar sesuatu yang tidak dapat orang lain dengar. Ia melihat warna pada suara dan mendengar suara ketika melihat benda.
Namun, hal yang ia rasakan tidak melulu membuatnya tersiksa. Setiap harinya selalu ada hal baru yang membuat Shaula kagum. Rasanya menyenangkan ketika ia dapat mendengar melodi rintik hujan, melihat tarian angin, atau menebak suasana hati seseorang hanya berdasarkan warna dan aroma yang muncul pada orang tersebut.
Angin sepoi-sepoi kembali membelai lembut wajahnya. Rasanya sudah lama ia tidak mengunjungi tempat ini. Keadaannya masih sama, asri dan nyaman. Ia selalu senang ketika berada di tempat ini. Udaranya sejuk. Pemandangannya indah. Suasananya pun damai. Jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari keramaian. Tidak ada suara bising, yang terdengar hanyalah bunyi dari serangga-serangga kecil di tempat itu.
Hari itu, sama seperti hari-hari lainnya, ia membawa serta kucing peliharaanya. Ia memberi nama kucing peliharaannya sesuai dengan aroma yang dimiliki kucing itu. Kucingnya memiliki aroma kue mochi, maka Shaula menamainya Mochi.
Mochi kini sedang berusaha mengejar seekor kupu-kupu. Sama seperti dirinya, kucing itu tampak menikmati keberadaannya di tempat ini. Di sini Mochi dapat bergerak lebih bebas, tidak seperti bergerak di rumahnya yang sempit. Di sini ia bisa berlarian tanpa takut memecahkan benda atau merusak barang apapun.
Alasan lain Shaula menyukai tempat ini yaitu karena ia tidak mendapat serbuan aroma yang dirasakannya seperti ketika ia berada di tengah keramaian. Mungkin ia masih sanggup untuk melihat banyak warna pada satu waktu, tetapi aroma berbeda dengan melihat warna. Entah mengapa sinestesia yang dirasakannya berbeda dengan berbagai macam sinestesia yang telah ia cari tahu. Aroma yang diciumnya pada setiap orang ternyata memiliki hubungan dengan suasana hati orang-orang tersebut. Ketika suasana hatinya sedang baik, seseorang akan memiliki aroma yang wangi. Sebaliknya, ketika suasana hatinya buruk, aroma orang tersebut akan berbau busuk.
Bisakah kalian bayangkan bagaimana jadinya apabila aroma bawang putih bercampur dengan aroma durian dan bunga melati? Bagaimana jadinya apabila aroma es krim cokelat bercampur dengan aroma belerang? Shaula sudah mencium hal-hal tersebut, dan percayalah, kalian pasti tidak akan menyukainya.
YOU ARE READING
Aroma Hujan
Teen FictionHidupnya terlalu berwarna dan bising. Ia dapat melihat sesuatu yang tidak dapat orang lain lihat dan ia juga dapat mendengar sesuatu yang tidak dapat orang lain dengar. Ia melihat warna pada suara dan mendengar suara ketika melihat benda. Tetapi hal...
