Dinginnya angin malam menerpa kulit. Aku masih betah berbaring di lantai rooftop bangunan 5 tingkat—yang tak terpakai—sambil beralaskan kardus. Melihat langit malam bertaburan bintang serta menikmati kesunyiaan adalah hal yang menjadi kesukaanku yang hampir aku lakukan setiap hari.
Ponsel milikku berdering, "bunda" nama yang tertera di layar ponsel. Aku segera mengangkatnya tanpa berlama-lama. "Via, bunda sudah dirumah. Cepat pulang!"
"Iya bunda, lima menit." Aku mematikan panggilan, dan segera turun dari lantai lima ke lantai empat, hingga ke lantai dasar. Lalu keluar dari gedung dan menuju rumah.
Di rumah, bunda sudah menunggu di depan pintu dengan berkacak pinggang—gaya andalan bunda, jika bunda pulang ke rumah dan mendapati aku tidak berada di dalam rumah.
"Berapa kali bunda bilang, jangan main malam-malam. Kamu masih saja ya?" dan selanjutnya bunda memulai omelannya. Itulah bundaku.
Bunda adalah seorang single parents, mengurus diriku, anak satu-satunya. Bunda dari pagi-pagi sekali, hingga malam bekerja keras demi kehidupan kami berdua. Papa sudah pergi meninggalkan aku dan bunda sejak umurku enam tahun. Dia kabur dari tanggung jawabnya sebagai seorang papa, seorang suami, dan terlebih sebagai seorang kepala rumah tangga.
Kini aku dan bunda hidup berkecukupan di sebuah rumah tua di kampung yang dikenal dengan nama kampung Renjana. Kampung ini indah, para tetangga sangat ramah dan baik sekali kepada aku maupun bunda.
Namaku Vianney, anak perempuan berumur 12 tahun. Aku bersekolah di sekolah dasar—kelas 6 semester akhir. Aku seorang yang memilih untuk menutup diri dari lingkungan pertemanan. Aku tidak ingin percaya kepada siapapun, aku tidak percaya akan sebuah hubungan dan sebuah komitmen. Mereka bilang bahwa aku hanyalah anak kecil yang tidak mengerti apapun. Tapi yang sebenarnya, aku sudah dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya.
Aku sadar, bahwa aku tidak bisa bersikap kekanakkan di saat-saat seperti ini. Bunda membutuhkan aku untuk menjalani hidupnya. Jika aku manja dan tidak mendengarkan bunda, maka aku akan lebih menyulitkan bunda.
Besoknya, sebelum matahari menyinari dunia dengan cahayanya, pukul empat bunda sudah sibuk menyiapkan gorengan yang akan aku bawa ke sekolah untuk dititipkan kepada penjual di kantin sekolah. Bunda pergi memulai bekerja pada pukul lima. Aku juga menjadi terbiasa bangun pagi-pagi sekali untuk membantu bunda.
Saatnya bersekolah. Di kelas, ibu guru memperkenalkan siswa baru yang baru saja pindah dari kota. Di kelas aku duduk sendiri, bangku di sebelah ku kosong, tapi kini bangku itu sudah terisi oleh anak baru itu.
"Kenalkan, nama aku Rey Hans. Siapa namamu?" Dia bertanya sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berkenalan. Tetapi aku tidak menanggapinya, hanya memperhatikan penjelasan guru yang sedang mengajar di depan sana.
Aku mengira dengan mengabaikan anak baru itu dia akan jera dan tidak mengangguku lagi. Namun nyatanya, sampai waktu pulang sekolah pun dia mengikutiku. Dia banyak bertanya, dan terus megulangi pertanyaan yang sama. Dia sangat berisik dan cerewet. Aku terganggu, dan tidak suka.
Pada hari berikutnya, cuaca di luar sangat panas, matahari bersinar begitu terang. Kegiatanku setelah pulang dari sekolah adalah membawa gorengan baru untuk dititipkan pada warung buk Indah. Aku ingin membantu bunda bekerja, seperti berjualan keliling. Tapi, dengan alasan apapun aku ingin membantu bunda bekerja, dia tidak pernah memberi ijin. Bunda hanya menyuruhku untuk belajar di rumah, dan bersekolah dengan baik.
Saat kembali dari warung buk Indah, ada seseorang yang berdiri di depan pintu rumahku. Dia menghadap pintu, membelakangi aku yang baru datang, sambil meneriaki "Selamat sore." Dia seperti tidak asing, kemudian aku mendekat dan membalas sapaan itu. Dan seketika itu juga, kami sama-sama terkejut.
"Kamu Vianney kan?" Dia lagi, anak cowok yang kemarin di sekolah mengikuti aku seperti hewan peliharaan mengikuti tuannya. Aku—mau tidak mau—mengangguk pelan. Dia menggunakan kaos dan celana pendek, sambil menenteng sesuatu ditangannya.
"Wah, senang banget bisa ketemu kamu disini! Nih, pak RT nyuruh aku kasih ini ke ibu Wanda yang rumahnya nomor 19. Kamu tinggal disini? Kamu anak ibu Wanda?" Huh, dia sangat membuatku kesal. Banyak bertanya, dan cerewet. Aku mengacuhkan dia.
Tanpa berlama-lama, aku ambil saja plastik dari tangannya, mengucapkan terima kasih, lalu memasuki rumah dan segera menutup pintu rumah. Itu tindakan yang tidak sopan sih, tapi cowok di luar itu menyebalkan.
Bahkan saat aku kembali dari dapur, aku masih melihat dia di dekat rumahku. Tuhkan, dia anak yang tidak mudah menyerah dan mengejar sesuatu sampai rasa penasarannya terjawab. Dan aku baru menyadari bahwa dia—anak baru disekolah, juga tinggal di kampung ini. Aduh, niat ingin menghindarinya, tapi sekarang dia sudah mengetahui rumahku.
-----
YOU ARE READING
Our Story Chapter 2; Ney-Hans
Short Story|| Romance Short Story || Aku tidak ingin percaya kepada siapapun, aku tidak percaya akan sebuah hubungan dan sebuah komitmen. Tapi Tuhan mengirimkan seseorang untuk mematahkan kepercayaanku itu. Adalah Rey Hans, laki-laki yang selalu ada di sekitar...
