Cantika Haneenah Ruslan

1.7K 186 20
                                        

Happy Reading




____________________________

"Aaaaaaa!" teriak seorang wanita tanpa busana di sebuah kamar mewah sebuah hotel ternama di negara Jerman.

Wanita itu melirik sekilas ke samping tempat tidurnya. Dia melihat tubuh kekar laki-laki yang tengah tertidur pulas membelakanginya. Dia yakin pria itu juga naked seperti dirinya saat ini. Perempuan berusia tiga puluh tahun itu mencoba mengingat apa yang telah terjadi semalam.

"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Wanita itu terus memukul kepalanya.

"Kenapa kamu bisa sampai making love dengan laki-laki asing, sih, Neen."

Yup, wanita itu adalah Cantika, tepatnya Cantika Haneenah Ruslan, seorang Dokter Anak di sebuah rumah sakit di ibukota Jakarta. Cantika datang ke Jerman karena memenuhi undangan sahabatnya yang menikah di negara ini. Meski sudah berusia tiga puluh tahun, tapi Cantika masih single, belum menikah bahkan pacaran pun dia belum pernah. Selama tiga puluh tahun ini, ayahnya begitu ketat mendidik dan menjaganya. Makanya tidak ada yang berani mendekati wanita itu.

Namun Cantika akan segera menikah dengan pria pilihan ayahnya, dia juga seorang dokter di tempat Cantika bekerja. Usia laki-laki itu 4 tahun lebih muda darinya. Awalnya Cantika menolak perjodohan ini, akan tetapi setelah ia dan tunangannya bertemu, Cantika mulai jatuh cinta pada laki-laki tersebut, begitu juga sebaliknya, karena mereka berdua sama-sama jomblo, dan calon Cantika ini tipe cowok penurut. Dia mah mau aja di jodohkan dengan anak dari sahabat ayahnya.

Cantika sudah bertunangan beberapa bulan lalu dan akan melangsungkan pernikahan bulan depan. Semua persiapan resepsi hampir rampung, hanya tinggal beberapa persen lagi.

Cantika melirik laki-laki itu lagi, ternyata pergerakan dan teriakannya tidak membuat pria berkulit putih itu terusik dari tidurnya.

"Aku harus segera keluar dari kamar ini." Cantika menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya, berniat membersihkan diri lalu pergi dari tempat ini. Saat hendak melangkahkan kakinya, Cantika merasakan perih di bagian inti tubuhnya.

"Ya Tuhan, kenapa perih sekali?"
Gadis yang kini sudah menjadi wanita itu meringis menahan perih, ia sadar kalau saat ini, dirinya sudah tidak perawaan lagi. Ya, jangan salah, ini yang pertama buat Cantika, dia memang menjaganya selama tiga puluh tahun ini. Dia berkomitmen akan memberikannya pada pria yang sudah halal untuknya kelak. Tapi, kejadian semalam diluar kuasa Cantika, sebab tadi malam dia mabuk.

Dengan tertatih-tatih Cantika masuk kamar mandi, dia ingin membersihkan badannya yang terasa begitu lengket.
Cantika memandangi pantulan tubuhnya pada cermin besar yang ada di kamar mandi ini. Dia melihat di beberapa titik tubuhnya terdapat tanda merah, dan Cantika tahu tanda apa yang ada dikulit mulusnya. Kiss mark, orang-orang menyebutnya demikian, Cantika juga pernah melihat tanda yang dibuat oleh seseorang pada pasangannya saat mereka bercinta itu, apalagi dia seorang dokter.

"Gila! Kenapa tubuhku penuh dengan tanda sialan ini." Cantika langsung mengguyur tubuhnya dengan air, lalu menggosoknya dengan spoon mandi. "Kenapa ga bisa hilang, sih."

Wanita itu kini menangis, ia gagal menjaga kesuciannya untuk sang suami kelak. Wanita itu terus merutuki dirinya karena semalam harus bertemu laki-laki brengsek yang sudah men-cekoki nya minuman keras dan mungkin dicampur obat perangsang juga.

Setelah tiga puluh menit, Cantika menyudahi acara mandinya. Ternyata laki-laki itu masih tidur diatas ranjang king size yang ada di kamar hotel ini.

dertt dertt

Smartphone Cantika berdering, ia segera mengambil benda pipih berlogo buah apel tergigit keluaran teranyar itu. Di sana terlihat jelas nama sepupunya yang tinggal di Jerman.

"Neena, kamu dimana?!" Cantika menjauhkan ponsel dari telinganya saat mendengar  teriakan dari seberang sana. Oh, ya, Cantika biasa dipanggil Neena oleh keluarga dan teman terdekatnya, sementara orang lain memanggilnya Cantika.

"Ga usah teriak-teriak gitu, Ta. Sakit telingaku," ujar Cantika pada sepupunya yang bernama Anita.

"Lo di mana, Na? Nyokap lo daritadi ngehubungi gua terus karena ha-pe lo ga aktif," cerocos Anita. "Lo ga pa-pa 'kan?" Tanyanya panik.

"Iya, gua ga apa-apa, kok. Nih gua balik ke rumah, lo," jawab Cantika sambil mencari gaunnya, namun ia tidak menemukan gaun itu. Tapi Cantika melihat ada pakaian wanita di atas sofa, dia tidak peduli punya siapa dan langsung memakainya. Yang terpenting dia memakai baju lalu keluar dari hotel.

"Cepetan, ga pake lama Haneenah!"

"Iya, iya. Bawel banget sih, lo."
Cantika langsung mematikan panggilan Anita.

Untuk terakhir kalinya Cantika menatap laki-laki yang masih tertidur lelap di atas ranjang. Dia tidak tahu persis siapa nama pria ini, sahabatnya bilang, dia seorang pengusaha muda di Berlin, laki-laki itu ternyata keturunan Indonesia-Jerman. Ayahnya orang Indonesia dan ibunya orang Jerman. Tetapi dia lebih milih membuka usaha di negara yang mendapat julukan 'Fatherland' itu.

"Ganteng," ujar Cantika saat melihat wajah itu begitu damai dalam tidurnya.

"Tapi masih gantengan tunanganku," bangga Cantika,  tiba-tiba dia merasa bersalah pada calon suaminya. Cantika menggenggam erat cincin tunangan yang melingkar dijari manis wanita tersebut.

Cantika segera meninggalkan hotel itu karena sepupunya menghubungi kembali. Aneeta memintanya untuk segera pulang.

Bersambung,

Jika suka dengan cerita ini, jangan lupa simpan di library kalian ya :))))

Jangan lupa vote and komen juga

Senin, 30 Mei 2022

Tuti H Buroh

CantikaOnde histórias criam vida. Descubra agora