Chapter I : Acara tv malam itu

13 1 0
                                        

" Baik pemirsa, saat ini saya sedang berada di TKP. seperti yang terlihat warga masih berkerumun di lokasi, menyulitkan proses investigasi...."

Kreeekkk....

suara pintu tua berdecit nyaring, seseorang keluar perlahan dari baliknya. Ia berjalan mengendap, melewati ruang tengah yang remang, hanya diterangi cahaya dari televisi. langkahnya kian melambat saat melewati siluet lelaki paruh baya yang tengah menonton dengan tenang.

ketika hampir sampai ke dapur, ia berlari cepat tanpa meninggalkan suara langkah kaki menuju lemari es. Dalam gelap, cahaya kuning dari lemari es menerangi wajahnya.

" Coba kita lihat apa yang bisa kita temukan" bisiknya dengan gugup mengambil sebotol air dingin dan beberapa makanan ringan.

"Uhuk... Uhuk.." suara batuk membuatnya terperanjat, dengan panik ia buru-buru menutup lemari es. Bergegas ia mengintip dari balik tembok dapur, memastikan lelaki paruh baya masih ditempat yang sama- dan benar lelaki itu tetap diam tak menyadari kehadirannya.

tak ingin ambil resiko, ia kembali berjalan perlahan menuju kamarnya, mengendap-ngendap melewati sisi ruangan. saat melewati punggung lelaki tersebut, ia bisa mendengar suara dengkuran dan nafas berat. tak ingin membuatnya terbangun, ia menahan nafas seolah bunyi nafasnya akan membangunkan lelaki itu, dengan lebih perlahan ia kembali melangkah menuju kamarnya. sebelum benar-benar menutup pintu, matanya menjelajahi ruang tengah sekali lagi. cahaya televisi yang menerangi lelaki paruh baya itu membuat suasana terasa menyedihkan. lelaki tersebut terlihat kelelahan, tertidur di sofa dengan masih mengenakan kaos partai yang sering ia gunakan untuk bekerja di ladang. bukannya menutup pintu dan masuk kekamarnya, ia kembali melangkah keluar mendekati lelaki paruh baya itu, mengambil remot yang ada di atas meja.

" Saya mustika sari, melaporkan dari tempat ke..."

Zleppp...

suara televisi dimatikan, ruangan menjadi gelap membuat suasana yang awalnya menyedihkan menjadi sedikit mernyeramkan, ia berniat untuk benar-benar masuk kekamar sekarang. menutup pintu dan kembali menghadap layar laptopnya, ia menatap sisi kanan laptop menunjukan pukul 02.03 dini hari. menggelengkan kepala dan menghela nafas berusaha membuatnya terjaga, buku berserakan dimana-mana. Sebagian penuh dengan bagian yang ditandai stabilo dan sticky note warna-warni. earphone kembali terpasang ditelinganya dan dia mulai mengerjakan tugas-tugasnya lagi.

" oke, kalau sebelumnya kita udah cerita mengenai rumah kentang dan pengalaman kalian ngelewatin rumah itu, kali ini gua bakal bawain satu kisah dari  Noctz kita yang bernama nuryati..."

Sembari mendengarkan podcast horror gadis itu membuka laptopnya, mulai menulis tugas yang sedari tadi ia geluti.

Saat ia tengah fokus pada cerita horror dan tugas-tugas itu, samar-samar ia mendengar suara ketukan pintu. Dahinya mengerut dan membuka sebelah earphonenya memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Hening........ tidak ada suara sama sekali, ia memakai kembali earphonenya berpikir bahwa dia salah dengar.

"..... kisah ini sebernya agak lain, benar-benar aneh banget. jadi nuryati ini bercerita bahwa dia pergi kesuatu desa untuk menjadi relawan banjir..."

 Namun, tak berselang lama suarasamar-samar itu terdengar lagi. Kini jantungnya sudah berdebar kencang, iamulai merasa bulu kuduknya berdiri. Ia membuka earphone itu mengalungkannyadilehernya. Suara dari podcast terdengar pelan dan ia beranjak dari tempattidurnya, gadis itu memberanikan diri membuka pintu kamarnya kencang.

"HAH!!!...... Bapak!!" ucapnya tersentak kaget saat melihat ayahnya di depan pintu.

Lelaki paruh baya itu mengusap dada ikut terkejut.

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: May 25, 2025 ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

Kromulen (cromulent)Histórias para pegar e não largar. Descubra agora