Sama halnya seperti puzzle, setiap kepingan memiliki ketergantungan satu sama lain untuk di lengkapi. Mungkin begitu juga ketika kita berbicara tentang sepasang insan yang ditakdirkan bersama.
Mereka yang dipersatukan bukan karena adanya kesetaraan kesempurnaan, melainkan karena mereka yang jomplang, kemudian dipersatukan karena adanya keseimbangan antara kelebihan dan kekurangan masing-masing dan pada akhirnya saling menyempurnakan.
Itulah yang aku pikirkan saat tengah mencicipi hidangan penutup di pesta pernikahan sederhana yang di design outdoor dengan nuansa hijau putih ini, semua orang sangat antusias berdiri di depan pengantin yang membalikkan badan untuk melempar bunga. Namun, aku hanya duduk terdiam di meja bundar yang posisinya tepat di sudut area.
Lagi lagi bayangan laki-laki itu yang ku lihat di depan sana, laki-laki yang pernah secara tidak langsung membantuku mengisi harapan tentang sebuah masa depan. C'mon Dir, Let bygones be bygones, Kataku pada diriku sendiri. Ini sudah tiga tahun, bukan durasi yang sebentar jika dilakukan hanya untuk mengalihkan perasaan.
Tapi lagi-lagi aku harus terjebak pada sebuah memori yang memaksa ku untuk mengingat kembali pada sebuah fase yang hampir membuat hidup ku terhenti.
Ya benar, harusnya saat itu tidak ada yang perlu di mulai, mau itu perasaan atau pun juga harapan.
YOU ARE READING
Puzzle & Destiny
Teen FictionDira sadar laki-laki itu seperti puzzle yang sudah tersusun sempurna, dan ia sangat sulit menemukan kekosongan yang bisa ia lengkapi. Tidak ada kecocokan diantara mereka, karna pada dasarnya mereka terlalu sama. Namun tanpa ia sadar perasaan dan har...
